Bertahan Sakit, Berpisah Sulit

Bertahan Sakit, Berpisah Sulit
Drama bumbu rujak


__ADS_3

Alvaro pun mau tak mau harus memanjat pohon mangga tersebut demi sang pujaan hati.


Dengan susah payah, akhirnya Alvaro pun mendapat tiga buah mangga muda yang Zea inginkan.


Mata Zea pun berbinar saat melihat buah mangga muda tersebut, air liurnya pun terasa akan menetes saat itu juga. Zea melihat buah bangga itu bak seperti melihat sebuah berlian triliunan rupiah saja.


Melihat itu pun Alvaro tersenyum bahagia, ternyata perjuangan tidak sia-sia. Kini dia dapat melihat senyuman indah Zea kembali, hanya karena hal sederhana.


"Seneng? apa tiga ini sudah cukup?" Tanya Alvaro pada Zea.


"Sudah kak cukup kok, tapi----" Jawab Zea dengan sedikit ragu sebab itu dia mengantungkan ucapan nya.


"Tapi apa?" Alvaro mengernyitkan keningnya, waspadai jika sambungan ucapan Zea itu adalah hal yang aneh-aneh lagi.


"Aku pengen makan buah mangga ini pakek sambel rujak." Kata Zea dengan tersenyum melihatkan deretan gigi nya yang putih.


"Oh, sambel rujak doang mah kecil. Ayo kalau gitu kita beli." Ajak Alvaro dengan menggandeng tangan Zea.


"Tapi belinya diabang-abang ya, dan satu lagi. Aku mau kakak sendiri yang bikinin, oke." Kata Zea dengan mengedipkan sebelah matanya dan mengacungkan jempol nya.


"Apa! Maksudnya kakak yang ngulek sambelnya gitu." Tanya Alvaro memastikan karena saking kagetnya.


Bagaimana tidak, seorang Alvaro Prabezwara CEO terkenal yang sangat digandrungi oleh para wanita-wanita cantik diluaran sana, kini justru harus ngulek sambel rujak digerobak abang-abang dipinggir jalan untuk menuruti keinginan pujaan hatinya yang tengah hamil.


"Iya kak, ayolah kak, ini demi Dede bayi loh." Kata Zea dengan mengerucutkan bibirnya dan mengusap-usap perutnya.


Alvaro yang tak tega melihat Zea begitu pun akhirnya hanya bisa pasrah dengan mengiyakan keinginan Zea.


Zea pun tersenyum puas sebab Alvaro akhirnya mau menuruti keinginan nya. Merekapun kini masuk kedalam mobil lalu Alvaro pun menjalankan mobilnya memecah padatnya jalanan kota.


Setelah lumayan jauh pun akhirnya mereka menemukan abang-abang penjual rujak yang diminta Zea, Alvaro pun meminggirkan mobilnya. Lalu mereka pun turun dan berjalan beriringan menuju abang-abang penjual rujak tersebut.

__ADS_1


"Bang, saya mau beli rujak tapi bumbunya saja, apa boleh?" Tanya Alvaro kepada Abang penjual rujak itu.


"Boleh saja Mas." Jawabannya.


"Tapi saya ingin membuat nya sendiri bang, boleh?" Tanyanya kembali.


"Boleh saja Mas, nanti saya ajarin." Jawab Abang penjual rujak itu dengan ramah.


Alvaro pun mulai membuat bumbu rujak sesuai keinginan Zea dengan diajarin oleh Abang penjual nya, dan Alvaro juga pun memotong-motong mangga yang dia petik tadi agar Zea nanti lebih mudah untuk memakannya.


Drama buah mangga beres, sekarang drama sambel rujak pun sudah beres. Alvaro menghela nafas panjang, berharap ini yang terakhir permintaan Zea yang aneh menurut nya.


Setelah itu Alvaro pun membayar dengan uang sepuluh lembar pecahan seratus ribu rupiah.


"Apa ini Mas, harganya cuman sepuluh ribu doang kok Mas. ini terlalu banyak." Kata Abang tersebut sebab, memang itu terlalu banyak dari nominal yang harus dibayar.


"Tidak apa bang, itu namanya rezeki. Jangan ditolak tidak baik." Jawab Alvaro, yang mampu membuat Zea terkesima atas kedermawanan yang Alvaro tunjukkan.


Alvaro hanya tersenyum menanggapi nya, lalu mereka berdua pun kembali berjalan masuk kedalam mobil.


"Nih, sesuai permintaan Nyonya, silahkan dimakan." Alvaro menyerah kan bungkusan rujak yang Zea inginkan.


Tanpa menunggu lama lagi, Zea pun langsung menyantap rujak mangga muda tersebut hingga tandas tak tersisa dan tanpa merasa asam pada buah mangga muda itu, membuat Alvaro menelan ludahnya kasar sebab heran biasanya buah mangga muda itu rasanya sangat asam namun itu tidak berlaku untuk Ibu hamil yang satu ini.


"Wah, ini sangat enak sekali kak." Puji Zea dengan mengelus perutnya karena kekenyangan.


"Jelas enak dong, karena metik buahnya dan bikin sambelnya penuh dengan cinta." Jawab Alvaro dengan menoel hidung pesek Zea, yang langsung mendapat respon dari sang empunya dengan menyebikkan bibirnya.


Alvaro pun terkekeh gemas melihat ekspresi Zea yang begitu, membuat dia tidak sabar ingin segera memiliki nya seutuhnya.


Kini Alvaro mulai melajukan kembali kereta besi miliknya untuk mengantar pulang sang pujaan hati.

__ADS_1


Hampir satu jam kini mereka pun telah sampai didepan rumah kontrakan Zea, Zea pun berpamitan lalu turun dari mobil Alvaro.


Lalu setelah Zea turun Alvaro pun langsung melajukan mobilnya kembali. Baru Zea akan membuka pintu rumahnya deru suara mobil Kellan pun terdengar dan kini sudah rapi terparkir didepan rumah tersebut.


"Kamu dari mana sayang?" Tanya Kellan saat sudah turun dari mobilnya. Rupanya kali ini Kellan menepati janji untuk tidur dirumah bersama Zea.


"Tidak dari mana-mana, hanya berjalan-jalan saja sebentar." Jawab Zea dengan nada datarnya, lalu mereka berdua pun masuk kedalam rumah bersama.


"Kamu masak apa sayang?" Tanya Kellan kembali.


"Aku tidak masak." Jawab Zea dingin.


"Aaaa, tak apa, biar Mas pesen lewat online saja ya." Lalu Kellan pun mengeluarkan ponselnya siap untuk memesan makanan secara online hal yang selama ini tak pernah dilakukan selama menikah dengan Zea, ini lah kali pertamanya.


Setelah Kellan selesai memesan makanan, tak lama pun kurir pengantar makanan itu kini telah sampai. Lalu Kellan pun mengambil pesanan tersebut, kini mereka berdua pun makan malam tanpa adanya obrolan sedikit pun tak seperti biasanya sampai selesai.


Kellan merasa aneh, merasa ada yang hilang namun, dia juga tak dapat memungkiri ini adalah kesalahan nya. Wajar saja jika Zea seperti ini saat ini, tak ada yang bisa disalahkan kecuali Kellan sendiri lah yang bersalah.


Saat kamu menyia-nyiakan seseorang yang dengan sepenuh hatinya mencintai mu, selalu melakukan apa pun untuk mu, selalu menghargai mu, selalu mengutamakan dirimu.


Tapi kamu dengan bodohnya tidak bisa bersyukur memiliki nya. Percayalah, kamu tidak akan menemukan cinta sehebat itu lagi, di manapun, selain dirinya.


Kellan kini duduk bersimpuh didepan Zea dengan memegang kedua tangan Zea.


"Sudah terlalu sering Mas mengucapkan kata maaf, mungkin saja kamu sudah muak dengan kata-kata itu. Tapi lagi-lagi hanya itu yang bisa Mas katakan. Maaf, maaf, dan maaf untuk semua hal yang sudah Mas lakukan padamu, teruma menyakiti mu." Lirih Kellan dengan menitikan air matanya.


"Mas berharap kamu mau memaafkan semua kesalahan Mas, Mas mohon apapun yang terjadi jangan pernah kamu berfikir untuk meninggalkan Mas." Sambung Kellan kembali, namun tak mendapat respon apapun dari Zea.


Taqabbalallaahu minna wa minkum, taqabbal ya karim. Wa ja'alanallaahu wa iyyakum minal 'aidin wal faizin wal maqbulin, kullu 'ammin wa antum bi khair.


Mohon maaf lahir dan batin 🙏🏻, untuk semua pembaca ku😊, terimakasih juga sudah selalu support aku.

__ADS_1


__ADS_2