
"Hoooeeeeekkkkk." Zea tiba-tiba saja merasakan mual saat mencium aroma bumbu dapur saat akan memasak untuk makan malam.
Dia pun langsung berlari kecil menuju wastafel lalu memuntahkan semua isi dalam perutnya.
Zea juga merasa agak sedikit pusing, setelah mencuci mulutnya Zea jalan kearah kamar mencari ponselnya.
Setelah menemukan ponselnya, dia justru malah menghubungi Alvaro bukannya Kellan.
Dia mencoba menelfon Alvaro karena merasa badannya tiba-tiba menjadi lemas dan pusing juga mual.
Tut.......
Tut.......
"Halo, kenapa hemm, kamu rindu kakak." Kata Alvaro saat sudah menerima panggilan tersebut.
"Kak, tolong aku." Lirih Zea dengan suara lemasnya, membuat seseorang diambang telfon menjadi sangat khawatir.
"Tunggu kakak, kakak akan segera kerumah mu." Alvaro langsung mematikan panggilan telepon secara sepihak dan bergegas berlari keluar dari ruangannya.
Shaka sang asisten pun nampak heran melihat sang bos sepanik itu.
"Batalkan semua janji ku hari ini, dan jangan ganggu saya." Setelah mengatakan itu ada Shaka Alvaro langsung masuk kedalam mobilnya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Meninggalkan Shaka dengan rasa penasaran nya. Namun, karena pekerjaan nya yang banyak dia pun tak ambil pusing, dia lalu kembali keruangannya dan membatalkan semua janji Alvaro hari ini sesuai keinginan bosnya itu.
Sesampainya dirumah kontrakan Zea Alvaro langsung berlari dan menerobos masuk kedalam, untung saja pintunya tidak dikunci jadi mempermudah akses Alvaro masuk.
"Zea, Zea, kamu dimana Ze!" Teriak Alvaro mencari-cari keberadaan Zea hingga dia melihat Zea tergeletak dilantai didalam kamarnya.
Alvaro pun langsung menghampiri Zea dan menepuk-nepuk pipi Zea mencoba untuk membuat Zea sadar.
Rupanya saat Alvaro berlari dan masuk kedalam rumah Zea, salah satu tetangga Zea ada yang melihat dan langsung ikut masuk kedalam.
"Zea, bangun Ze, bangun." Kata Alvaro yang masih berusaha menyadarkan Zea.
"Mbak Zea kenapa Mas, Mas ini siapa? saya pikir tadi Mas ini Mas Kellan." Kata Ibu-ibu yang melihat Alvaro tengah menepuk-nepuk pipi Zea.
"Saya sahabatnya Bu, tadi Zea menelfon saya meminta tolong, dan saat saya sudah sampai Zea sudah tak sadarkan diri Bu." Jelas Alvaro pada Ibu-ibu tetangganya itu agar tak terjadi salah faham.
"Saya akan bawa Zea kerumah sakit Bu, nanti jika Suaminya datang tolong sampaikan ya." Sambung Alvaro, lalu menggendong Zea ala bridal style menuju mobilnya.
__ADS_1
"Baik Mas, semoga Mbak Zea enggak kenapa-kenapa ya Mas." Jawab Ibu-ibu tetangga Zea tersebut, lalu Ibu-ibu itupun ikut keluar dan menutup pintu rumah kontrakan Zea.
"Terimakasih doanya Bu, kalau begitu saya permisi." Pamit Alvaro, lalu dia pun menjalankan kereta besi miliknya.
Saat dijalan tiba-tiba Zea pun tersadar.
"Aaaahhhhh." Desis Zea saat mulai membuka matanya dan memegangi kepalanya yang terasa pusing.
Alvaro yang mendengar suara Zea menandakan bahwa Zea telah siuman pun menoleh kearahnya.
"Kamu sudah sadar." Kata Alvaro dengan tangan sebelahnya terulur mengelus kepala Zea lembut.
"Kakak, kita mau kemana kak? kok aku bisa tiba-tiba didalam mobil kakak." Tanya Zea yang merasa bingung.
"Kamu lupa tadi kamu menelfon kakak dan meminta tolong?" Kata Alvaro mencoba mengingat kan Zea.
"Iya sih, tapi setelah itu aku enggak inget apa-apa."
"Kamu pingsan, saat kakak sudah sampai rumah kamu, kamu sudah dalam keadaan pingsan. Ini kakak mau bawa kamu kerumah sakit." Terang Alvaro pada Zea yang masih bingung.
Setelah sampai rumah sakit, Alvaro langsung turun dan membukakan pintu mobil untuk Zea.
"Kakak, aku bisa jalan sendiri." Protes Zea dengan mengerucutkan bibirnya saat sudah digendong oleh Alvaro.
Alvaro pun tak menghiraukan ucapan Zea, membuat sang empunya semakin memanyunkan bibirnya namun, justru nampak begitu menggemaskan bagi Alvaro.
Setelah sampai didalam dirumah sakit Alvaro Langsung disambut oleh suster disana dan Alvaro pun menidurkan Zea diatas brankar untuk segera mendapatkan pertolongan.
Alvaro lalu mendaftar dan memilihkan ruangan VIP untuk Zea.
Setelah itu Alvaro menyusul Zea keruangan UGD, sebagai pertolongan pertama.
Saat Alvaro berjalan tak sengaja dia melihat Kellan tengah mondar-mandir didepan sebuah ruangan.
Jiwa keingin tau'an Alvaro pun muncul, dia lalu bertanya pada salah satu suater disana.
"Sus, maaf saya mau nanya, itu laki-laki yang sedang mondar-mandir didepan ruangan itu kenapa ya." Pertanyaan biasa namun, nampak aneh untuk sang suster hingga suster itu pun mengernyitkan keningnya.
Bagaimana tidak aneh, pasalnya baru kali ini suster itu menemui laki-laki tapi tingkat keinginan tau'an nya cukup tinggi sudah seperti Ibu-ibu komplek saja.
"Setau saya sepertinya dia sedang mengantar Istrinya yang sedang sakit Tuan." Jawab suster itu.
__ADS_1
"Istri?" Alvaro mengulang kata Istri.
"Kalau begitu terimakasih ya sis." Sambung Alvaro, lalu pergi menuju ruangan UGD.
"Sama-sama." Jawab sang suster dengan menunduk sopan.
Saat sudah sampai diruangan UGD, Alvaro nampak celingukan mencari keberadaan Zea.
"Tuan, Tuan suaminya Nona tadi ya?" Tanya salah satu suster yang ikut membantu saat Zea baru datang tadi.
Alvaro nampak melongo mendengar perkataan sang suster namun, dia sengaja mengiyakan saja dengan pedenya.
"Iya sus, kemana perginya Istri saya?"
"Istri, Tuan diajak keruangan dokter Lula Tuan, disebelah sana ruangannya." Sang suster pun menunjukkan ruangan dokter tersebut, yang ternyata tak jauh dari ruangan UGD tersebut.
"Baiklah, terimakasih sus." Alvaro pun melangkah dan mendudukkan dirinya dikursi tunggu yang terletak didepan ruangan dokternya tersebut.
"Nona, setelah saya melakukan pemeriksaan ternyata Nona baik-baik saja." Terang dokter Lula dengan tersenyum.
"Lalu jika saya baik-baik saja, kenapa saya merasa mual, pusing, dan kemas dok." Tanya Zea bingung, pasalnya jika dia sehat, lalu kenapa dia harus mengalami hal semacam itu.
"Itu biasa Nona, gejala itu memang biasa datang disaat nona tengah hamil, apa lagi usia kandungan Nona masih muda, selamat ya Nona." Tutur dokter Lula kembali, dengan tersenyum manis namun, membuat Zea seketika mematung.
"S--saya h--hamil dok?" Zea mencoba memastikan ucapan dokter Lula kembali.
"Iya Nona, sekarang mari kita lakukan pemeriksaan USG, agar lebih meyakinkan." Ajak dokter Lula.
Zea pun menurut dan menidurkan dirinya diatas brankar, lalu dokter Lula pun mulai menarik keatas baju Zea dan mengoleskan gel kepeeut Zea sebelum melakukan pemeriksaan.
Setelah itu dokter Lula pun mulai memeriksa dengan menekan perut Zea dengan sebuah alat hingga terlihatlah janin dilayar display (LCD) tersebut.
"Bayinya sehat ya, usia kandungannya baru berumur sepuluh Minggu, jadi Nona harus hati-hati ya karena usia kandungan segitu masih cukup rawan." Jelas dokter Lula lalu menyudahi pemeriksaan tersebut.
Sepanjang pemeriksaan Zea hanya diam tanpa bicara sepatah kata pun. Bukan dia tak bahagia atas kehadiran sang buah hati, hanya saja kenapa dia datang diwaktu yang tidak tepat.
"Ini foto hasil USG tadi ya, dan saya akan memberikan resep untuk anda Nona." Setelah itu pun dokter Lula memberikan foto dan resep tersebut kepada Zea.
Lalu Zea pun keluar dengan menahan air matanya melangkah Gontai. Alvaro yang melihat Zea keluar pun langsung berdiri dan Zea pun langsung memeluk Alvaro tanpa aba-aba.
Kalo rame up dua bab deh🤗
__ADS_1