Bertahan Sakit, Berpisah Sulit

Bertahan Sakit, Berpisah Sulit
Nasehat orang tua


__ADS_3

PRRAAAAANGGGGGG........


Tak ada angin tak ada hujan foto Zea yang terpajang rapi didinding rumahnya tiba-tiba saja terjatuh dengan sendirinya.


Bunda Yasmin dan Ayah Bara pun kaget mendengar suara benda terjatuh begitu saja dengan suara cukup keras.


"Suara apa itu Bun?" Gumam Ayah Bara yang tengah bersiap-siap akan ketoko kelontong miliknya.


"Ntahlah Yah, sebaiknya kita keluar untuk mengecek nya." Ajak Bunda Yasmin pada Ayah Bara.


Dua paru baya itu pun bergegas keluar dari kamar untuk mengecek dari mana datangnya suara itu.


Setelah keluar kamar Bunda Yasmin dan Ayah Bara pun sedikit kaget melihat foto putri semata wayangnya lah yang jatuh dengan tiba-tiba.


"Yah, kok perasaan Bunda nggak enak ya, apa terjadi sesuatu pada putri kita." Lirih Bunda Yasmin yang langsung kepikiran dengan keadaan Zea.


"Huussstttt, Bunda nggak boleh bicara seperti itu ingat, omongan adalah do'a dari pada penasaran mending Bunda telfon saja Zea." Saran Ayah Bara yang sejujurnya juga sangat mengkhawatir kan putri semata wayangnya itu namun, enggan menunjukkan dihadapan Istrinya agar tak menambah kecemasan sang Istri.


Bunda Yasmin pun tak menunggu waktu lama lagi ia langsung bergegas masuk kedalam kamar untuk mengambil ponselnya yang terletak di atas nakas.


Bunda Yasmin lalu mengambil ponsel tersebut dan langsung menelfon Putri kesayangan nya.


Tut........


Tut........


Tut.........


Tak ada jawaban, Bunda Yasmin pun semakin cemas sebab telfonnya tak dijawab oleh Zea, Bunda Yasmin pun mencoba menelfon Zea kembali namun, masih tetap sama tak ada jawaban hingga berkali-kali.


Bunda Yasmin pun berlari keluar menghampiri sang suami yang tengah membereskan pecahan kaca dari bingkai foto Zea yang terjatuh.


"Yah, gimana ini Yah, Zea tak menjawab telfon dari Bunda, padahal Bunda sudah menelfon nya berkali-kali." Ucap Bunda Yasmin dengan nada khawatir dan dengan perasaan nya yang bercampur aduk.


"Tenang Bun, tenang Istighfar Bun." Ayah Bara mencoba menenangkan Istrinya, padahal beliau sendiri pun tak kalah cemas nya hanya saja beliau tetap menutup'i nya.

__ADS_1


"Bunda duduk dulu, biar Ayah yang mencoba menelfon Nak Kellan." Usul Ayah Bara dengan menuntun sang Istri untuk duduk diatas sofa diruang keluarga.


Bunda Yasmin pun menurut lalu mendudukkan dirinya diatas sofa dengan terus berIstighfar.


Ayah Bara lalu mengambil alih ponsel Istrinya dan segera menelfon menantunya.


Tut.........


Tut..........


Tut...........


Hasilnya pun sama tak ada jawaban namun, Ayah Bara tak putus asa beliau terus saja menelfon sampai akhirnya dipanggilan ntah keberapa panggilan tersebut diangkat oleh Kellan sang menantu.


"Iya halo Yah, ada apa Yah?" Tanya Kellan kepada sang Ayah mertua.


"Tidak Nak, maaf menganggu waktu kerja mu, Ayah hanya ingin menanyakan kabar Zea sebab Bunda mu menelfon berkali-kali tapi tak ada jawaban tak biasanya Zea begitu, apakah dia baik-baik saja Nak?" Tanya Ayah Bara langsung pada intinya tanpa ingin berbasa-basi pada menantunya itu.


"Zea baik-baik saja Yah, mungkin ponselnya ada didalam kamar dan Zea sedang ada tamu diluar biasanya juga begitu Yah, tak perlu khawatir." Jawab asal Kellan pada Ayah mertuanya itu.


Zea saja jika ingin bertemu Sahabatnya Jihan, Zea lah yang kekontrakan Jihan atau pun mereka bertemu diluar rumah.


"Baiklah kalau begitu Ayah lega, ya sudah kembali lah bekerja maaf Ayah mengganggu waktu mu Nak." Ucap Ayah Bara.


"Baiklah Yah." Setelah mendengar jawaban Kellan, Ayah Bara langsung mematikan telfonnya tanpa sepatah kata pun lagi, tak ada basa-basi dari keduanya disaat panggilan tersebut berlangsung.


Ayah Bara yang langsung pada inti pertanyaannya begitupun dengan sang menantu yang hanya menjawab pertanyaan dari sang mertua tanpa ingin berbasa-basi sekedar menanyakan kabar.


"Gimana Yah?" Tanya Bunda Yasmin yang menunggu hasil kabar dari panggilan tersebut.


"Kata Kellan Zea baik-baik saja Bun, hanya saja mungkin Zea sedang ada tamu jadi tidak tau kalau bunda menelfon mungkin saja ponselnya berada didalam kamar." Terang Ayah Bara yang percaya dengan jawaban sang menantu disambungan telefon barusan.


Bunda Yasmin pun kembali mencoba menghubungi ponsel milik Zea.


Tut .......

__ADS_1


Tut........


Tut......


Setelah beberapa panggilan akhirnya Zea pun mau tak mau harus mengangkat panggilan tersebut ia takut jika tak diangkat akan membuat Ayah dan Bunda nya khawatir dengan keadaan nya.


Sebenarnya bukan tanpa alasan Zea tak mengangkat panggilan tersebut hanya saja ia tak mau Bunda dan Ayahnya tau keadaan nya saat ini.


"Halo Bun, Assalamualaikum." Ucap Zea setelah menerima panggilan telepon tersebut.


Bunda Yasmin pun langsung mengubah panggilan suara menjadi panggilan video, sudah diduga oleh Zea bahwa Bundanya akan melakukan hal itu dan Zea pun sudah mengantisipasi nya.


Sebelum Zea menerima panggilan dari Bundanya tadi Zea mencuci mukanya terlebih dahulu dan menaburkan bedak tipis-tipis untuk menyamar kan wajah sembab nya akibat terlalu lama menangis.


"Waalaikumssalam, sayang gimana kabarmu apakah kamu baik-baik saja Nak, Bunda sangat cemas Nak, tidak biasanya kamu mengabaikan telfon bunda kamu kenapa sayang?" Cerocos bunda yang membuat Zea menyunggingkan sebuah senyuman.


Zea sangat bahagia karena diberi kedua orang tua yang sangat-sangat menyayangi nya walaupun dia belum beruntung masalah rumah tangga dan mertua tapi, setidaknya dia punya kedua orang tua terbaik versi tuhan untuk Zea.


"Bunda, Zea nggak kenapa-kenapa tuh Zea sehat Bun, hanya saja mungkin tadi Zea tak dengar karena sedang membaca majalah diluar sedangkan ponsel Zea ada didalam kamar." Elak Zea menutupi apa yang sebenarnya terjadi.


"Nak, kamu putri semata wayangnya Bunda, kamu anak Bunda satu-satunya jadi berhentilah membohongi dirimu sendiri dan selalu berusaha biasa saja dihadapan Bunda." Kini Bunda Yasmin tak bisa lagi berpura-pura tak tau jika anaknya itu sebenarnya sedang dalam masalah.


Selain firasat seorang Ibu, wajah sembab Zea lah yang menjadi bukti nyata untuk sang Bunda walaupun Zea sudah berusaha menutupinya namun, tetap saja nampak jelas Dimata Bundanya.


"Sayang ceritakan lah semua masalah mu Nak, jadikanlah Bunda tempat ternyaman mu berkeluh kesah setelah berkeluh kesah pada tuhan Nak." Ucap Bunda Yasmin lagi dengan meneteskan air matanya.


"Bun, tapi Zea nggak kenapa-kenapa Bun, sungguh." Zea tetap mengelak kalau dia sedang tidak baik-baik saja. Walaupun ia tau semua itu akan sia-sia sebab, ia tau bahwa sang Bunda akan terus mendesaknya cerita.


"Sayang, seberat apapun pun Masalah mu jangan sekalipun kamu mengabaikan tugasmu menjadi seorang Istri dan jangan sesekali melangkah kan kakimu keluar rumah jika bukan suamimu yang mengusirmu, dan jangan pernah pulang kerumah kedua orang tua mu tanpa izin suami atau tanpa suamimu, dan jangan pernah kamu meninggalkan suamimu dalam keadaan apapun kecuali ia melakukan kekerasan fisik padamu atau berselingkuh." Tutur Ayah Bara untuk putri semata wayangnya.


"Iya Ayah, Zea paham." Jawab Zea tersenyum getir.


"Dan untuk Bunda, sudahlah biarkan Zea tenang dulu Ayah yakin jika waktunya sudah tepat anak kita akan menceritakan semuanya, Bukan begitu Sayang?" Ucap Ayah Bara yang langsung membuat lidah Zea terasa kelu.


Zea hanya tersenyum getir menanggapi ucapan sang Ayah.

__ADS_1


"Jika hatimu terluka karena omongan manusia maka ingatlah nasehat ALI BIN ABI THALIB jika ada kata-kata melukai hati menunduk lah dan biarlah ia melewati mu jangan dimasukkan hati agar tidak lelah hatimu." Motivasi dari Bunda Yasmin untuk Zea agar anaknya kuat mengahadapi apapun masalah dalam rumah tangganya.


__ADS_2