Bertahan Sakit, Berpisah Sulit

Bertahan Sakit, Berpisah Sulit
Draft


__ADS_3

"Hoooeeeeekkkkk." Tiba-tiba saja Zea merasa mual saat setelah menyantap habis telur gulung tersebut.


Alvaro, sangat cemas. Takut terjadi sesuatu dengan Zea, apa lagi makanan yang dimakan tadi dibeli dipinggir jalan. Alvaro yang memang bukan dari kalangan orang biasanya tentu saja baginya itu sangat extrim.


"Ini pasti karena makanan tadi. Itu pasti nggak higienis, sayang." Ucap Alvaro dengan sambil mengusap-usap tengkuk Zea.


Lalu Alvaro pun membaluri tengkuk dan perut Zea dengan minyak kayu putih. Untung saja Zea selalu membawa minyak tersebut saat bepergian.


"Nggak kak, biasanya Aku makan juga nggak papa kok, dulu," Ucap Zea membela diri.


"Itu kan dulu, saat kamu masih sekolah SMA." Cibir Alvaro dengan memanyunkan bibirnya.


Suga hanya diam dan tersenyum menyaksikan perdebatan manis kedua orang tuanya.


Hingga tak terasa, kini mereka telah sampai dikediaman kedua orang tua Zea.


Bunda Yasmin, yang sedang menyapu teras rumahnya pun matanya menjadi berbinar saking bahagianya melihat anak, cucu, dan menantunya datang.


Suga langsung turun dari mobil dan berlari memeluk sang nenek yang sangat dia rindukan.


"Nenek, Suga rindu banyak-banyak!" Teriak Suga sambil berlari.


"Nenek juga rindu Suga banyak-banyak!" Jawab Bunda Yasmin, lalu menggendong Suga.


Lalu Alvao ikut turun dengan memapah Zea. "Assalamualaikum," ucap Alvaro dan Zea berbarengan.


"Waalaikumssalam, loh! Zea kenapa, Nak?" Tanya Bunda Yasmin khawatir melihat Zea dipapah oleh Suaminya.


"Nggak pa-pa kok Bun, hanya sedikit pusing dan mual." Jawab Zea.


"Kok bisa? Apa, kamu sedang isi, Nak?" Tanya Bunda Yasmin, kembali.


Mendengar ucapan mertuanya, Alvaro kini mulai berfikir apa bener Zea sedang hamil? Atau hanya memang karena dia tadi makan makanan yang tidak higienis saja. Kemudian Alvaro pun mencoba mengingat-ingat hari libur bercocok tanam nya bulan ini.


"Kayaknya bulan ini Aku nggak ada liburnya sama sekali deh. Apa bener ya yang dibilang Bunda?" Batin Alvaro dalam hati.


"Nggak Bun, tadi dijalan Aku beli telur gulung dipinggir jalan. Habis makan itu Aku langsung mual dan pusing." Terang Zea.


Bunda Yasmin, lalu menyuruh mereka semua masuk kedalam rumah. Seperti biasa, Bunda Yasmin selalu menyambut hangat setiap tamunya. Apa, lagi saat ini tamunya bukan orang lain.

__ADS_1


Melainkan tamunya adalah anak dan cucunya sendiri. Mereka pun lalu masuk kedalam rumah. Zea dan Alvaro pun langsung masuk kedalam kamar nya agar Zea dapat langsung beristirahat.


Alvaro pun dengan telaten memapah Zea dan membantu Zea berbaring diatas ranjang kamarnya.


"Apa kamu mau sesuatu, sayang? Tanya Alvaro, saat ikut duduk disebelah Zea yang berbaring di kasur.


"Teh hangat sepertinya enak Mas." Alvaro, pun tersenyum dan mengusap lembut pucuk kepala Zea.


"Ya , sudah. Mas, buat kan dulu ya," lalu Alvaro pun bergegas berjalan menuju dapur untuk membuatkan teh hangat yang Zea minta.


Langkah Alvaro pun terhenti sejenak saat melihat sang putra tengah asyik bermain dengan sang nenek.


Alvaro, sangat bersyukur melihat semua itu. Dia tak menyangka hidupnya kini benar-benar sempurna.


Lalu, dia pun melanjutkan lagi langkah nya menuju dapur. Setelah selesai, Alvaro pun kembali kedalam kamar untuk memberikan minuman tersebut kepada Istrinya.


"Ini sayang." Zea, lalu menerima secangkir teh hangat dan meminumnya perlahan.


Namun, lagi-lagi saat Zea menelan teh hangat tersebut justru perutnya malah semakin mual.


"Hoooeeeeekkkkk, hoooeeeeekkkkk." Zea berlari kedalam kamar mandi untuk memuntahkan apa yang ada dalam perutnya.


"Nggak usah kak."


"Udah deh, bisa nggak kalau nggak ngeyel." Ucap Alvaro dengan menyebikkan bibirnya karena kesal pada Istrinya.


Tanpa aba-aba, Alvaro lalu menggendong tubuh lemas Zea keluar. Karena jika tidak dipaksa begitu Zea tidak akan mau kalau diajak kedokter.


Zea pun sempat memberontak ingin diturunkan. Namun, tidak dihiraukan oleh Alvaro.


Saat sudah berada diruang tamu, Bunda Yasmin yang melihat Alvaro menggendong Zea pun agak sedikit panik sebab takut Zea kenapa-kenapa hingga sampai digendong oleh Alvaro.


"Zea kenapa, Nak?" Tanya Bunda Yasmin, yang sedikit panik.


"Nggak pa-pa kok, Bun. Ini mau Alvaro bawa ke dokter sebab mual-mual terus. Takut kenapa-kenapa karena abis makan telur gulung tadi. Kami pamit ya Bun." Jelas Alvaro sekaligus berpamitan kepada Bunda Yasmin.


"Iya, hati-hati ya."


Sesampainya didalam mobil Zea pun masih kekeh tak mau kedokter.

__ADS_1


"Kan Aku bilang nggak usah kak. Kok kakak maksa sih." Cerocos Zea dengan mengerucutkan bibirnya.


Bukannya marah Alvaro justru malah gemas dengan kelakuan Istrinya. Jika saja didalam mobil hanya berdua sudah dipastikan akan ada adegan dua puluh satu plus plus.


Cukup menempuh waktu dua puluh menit, akhirnya mereka sampai dirumah sakit yang dituju.


"Mau turun sendiri, apa kakak gendong kayak tadi?" Tanya Alvaro sekaligus menggoda Istrinya yang sedang merajuk.


Dengan perasaan kesal dan Abdan sedikit lemas, Zea pun mau tak mau harus turun dan berjalan sendiri masuk kedalam rumah sakit. Kerena, jika dia bersikekeh tak mau yang ada dia justru akan digendong lagi oleh Alvaro seperti tadi.


Zea lalu berjalan masuk kedalam rumah sakit, dan disusul oleh Alvaro dibelakangnya. Alvaro nampak sedikit menahan tawanya melihat raut wajah kesal sang Istri.


Padahal tadinya Alvaro sangat cemas dengan keadaan Istrinya. Namun, melihat tingkah Istrinya dia justru malah gemas sendiri.


Alvaro, lalu mendaftar nama Zea sebagai pasien. Tak menunggu waktu lama, nama Zea pun telah dipanggil oleh suster yang bertugas.


"Atas nama Ibu Ghazea Azhagar!" Teriak sang suster.


Mendengar namanya dipanggil Zea yang dibantu oleh Alvaro pun berjalan masuk kedalam ruangan dokter yang akan memeriksa nya.


"Silahkan berbaring dibankar Buk." Ujar sang suster. Zea pun lalu berbaring dibankar yang ditunjuk sang suster.


Lalu, sang dokter pun menanyakan apa keluhan dan mulai memeriksa. Setelah diperiksa, sang dokter pun nampak tersenyum.


"Hasil pemeriksaan saya, Ibu Ghazea tidak kenapa-kenapa kok Pak." Tutur sang dokter kepada Alvaro juga Zea. Sontak sepasang suami Istri itu pun nampak mengernyitkan keningnya.


Jika tak kenapa-kenapa, kenapa bisa Zea mual-mual seperti itu.


"Tapi dok, setelah Istri saya makan telur gulung yang dibeli dipinggir jalan Istri saya langsung mual-mual, Dok." Dokter tersebut justru malah tersenyum menanggapi perkataan Alvaro.


"Ibu Ghazea, memang tidak kenapa-kenapa Pak. Tapi, menurut saya justru Ibu Ghazea ini sedang hamil." Terang sang dokter.


Pasangan suami Istri itu pun saling pandang mendengar ucapan sang dokter.


"Dokter serius?" Tanya Zea dengan mata berkaca-kaca.


"Ini masih dugaan saya sih Bu, tapi saya berani menjamin sembilan puluh persen Ibu hamil. Saya, sarankan setelah ini mumpung masih dirumah sakit Ibu langsung cek dan USG saja biar lebih jelasnya." Saran sang dokter.


Setelah itu, dengan perasaan berbunga-bunga. Alvaro dan Zea pun menuruti saran dari sang dokter untuk memeriksa kan langsung kedokter kandungan.

__ADS_1


__ADS_2