Bertahan Sakit, Berpisah Sulit

Bertahan Sakit, Berpisah Sulit
Aku kuat, tapi aku capek


__ADS_3

Kini mereka berdua telah sampai disebuah danau yang sangat indah, tempat favorit Zea ketika saat sedih.


"Danau." Ucap Zea tak percaya, ternyata Alvaro masih ingat dengan kebiasaan nya ketika sedih.


"Iya Nyonya, danau masih menjadi tempat tujuan mu ketika sedih, bukan begitu Nyonya?" Gelak Alvaro mencoba menghibur Zea, walaupun dirinya sendiri kini tengah tak baik-baik saja saat mengetahui kabar mengejutkan.


Zea tersenyum manis namun, matanya berkaca-kaca menandakan bahwa dia sedang tidak baik-baik saja saat ini.


Alvaro pun turun dan memutari mobil untuk membuka kan pintu untuk Zea.


"Silahkan Tuan putri." Goda Alvaro dengan membungkuk kan tubuhnya dihadapan Zea dan mengulurkan tangannya saat membukakan pintu mobil untuk nya.


"Terimakasih Tuan, hahahaha." Jawab Zea dengan menerima uluran tangan Alvaro lalu tertawa bersama.


Lalu Alvaro pun membuka pintu belakang mobilnya dan mengambil beberapa cemilan dan minuman yang tadi sudah dia beli saat diperjalanan menuju danau.


Tangan kanan Alvaro kini menggandeng tangan Zea lalu yang satunya menenteng plastik yang berisi makanan ringan tersebut.


Sesampainya didekat danau kini mereka duduk di bangku yang sudah tersedia disana, Zea menarik nafas dalam-dalam lalu dia hembuskan perlahan begitu berulang kali guna merilekskan pikiran nya yang tengah kacau.


"Kamu tidak ingin cerita sesuatu?" Tanya Alvaro memecahkan keheningan, sebab Zea memang sedang terhanyut dalam pikirannya sendiri.


"Aku harus gimana kak." Lirih Zea yang kini matanya mulai panas siap untuk mengeluarkan cairan beningnya.


Zea kembali menarik nafasnya dalam sebelum melanjutkan perkataannya.


"Aku hamil." Alvaro tersenyum namun, hatinya sedikit berdenyut menerima kenyataan ini.


Walaupun sebenarnya dia sudah tau, kalau Zea hamil saat membayar biayaya rumah sakit tadi. Namun, dia sengaja ingin tau dari bibir Zea sendiri dan ini hasilnya.


Hatinya menolak terima dengan kenyataan namun, dia pun tak bisa berbuat apa-apa.


Ada rasa bahagia saat dia tau bahwa Zea hamil tapi disisi lain dia juga terluka sebab bukan dia lah yang menjadi pria beruntung itu.


Lebih terluka lagi saat dia harus menyaksikan tragisnya drama prahara rumah tangga orang yang dia cintai.

__ADS_1


Setelah mengatakan itu Zea kini menangis sejadi-jadinya, lalu Alvaro pun menarik Zea dalam pelukannya.


Alvaro pun kini ikut meneteskan air matanya, dia ikut merasakan sakit yang Zea rasakan.


Zea bukan sakit karena mengetahui bahwa dia hamil, melainkan dia sakit sebab, kenapa dia hamil disaat seperti ini. Disaat rumah tangga nya sudah berada diujung tanduk.


"Ssssstttttttt, tenang lah ada kakak. Kakak akan selalu ada untuk mu, yakinlah semua akan baik-baik saja dengan atau tanpa Kellan." Kata Alvaro dengan lebih mengeratkan pelukan mereka.


Cukup lama mereka berpelukan, setelah dirasa Zea cukup tenang Alvaro pun melerai pelukannya.


"Sudah jangan sedih-sedih lagi, ingat ada dedek bayi disini yang akan ikut sedih jika mamanya yang cantik ini sedih." Kata Alvaro dengan mengusap-usap perut Zea yang masih terlihat rata.


"Sayang, sehat-sehat ya didalam sana, kamu harus kuat seperti mama, bantu mama melupakan semua kesedihan nya dengan diganti bahagia." Alvaro pun kini berjongkok dihadapan Zea, dengan mengelus-elus kembali perut Zea.


Zea tersenyum melihat itu, ada terbesit rasa bahagia dalam hatinya mendapatkan perlakuan itu dari Alvaro padahal seharusnya perlakuan itu dia dapat dari Kellan.


"Sebenarnya ada yang ingin kakak sampaikan mengenai hal yang kamu liat dirumah sakit saat diparkiran." Kata Alvaro dengan menggenggam kedua tangan Zea.


Entah ini momen yang tepat atau tidak namun, Zea harus tau saat ini juga sebab Alvaro sudah memiliki rencana untuk hal itu.


Contohnya saat membongkar perselingkuhan Kellan waktu itu, Alvaro sengaja terlebih dahulu memberi tahu Zea agar dia bisa terlihat santai walaupun sebenarnya sangat hancur saat semua dibongkar didepannya oleh mereka sendiri.


Begitu pun kali ini, Alvaro juga dengan sengaja akan memberi tahu Zea yang sebenarnya agar dia tidak syok saat nanti diberi tahu oleh Kellan sendiri nantinya.


Agar dia bisa siap mental mengahadapi penghianatan ini, karena walaupun kita hancur kita harus tetap terlihat biasa-biasa saja biar orang yang berniat menyakiti kita itu tidak menganggap kita lemah.


"Katakan lah kak, aku siap mendengar nya. Aku juga tau kakak pasti punya rencana terbaik untuk ku. Aku percaya kakak." Jawab Zea dengan yakin, apapun yang direncanakan Alvaro pasti yang terbaik untuk dirinya sekarang dan nantinya.


"Diana kekasih Kellan ternyata juga hamil." Alvaro sebenarnya sedikit ragu untuk memberi tahu ini kepada Zea tapi dia harus melakukan demi kebaikan Zea.


DEG..........


Zea memejamkan matanya guna meredam rasa nyeri, dan panas dihatinya. Kini tangannya pun mulai ikut bergetar menandakan dia tengah menahan sesuatu.


Menahan rasa, emosi, kecewa, marah, sakit hati, hancur perasaan nya. Rasa itu bercampur aduk menjadi satu, walaupun sebelumnya Zea sudah mengantisipasi akan hal ini dalam benaknya tapi tetap saja ini kabar yang sangat mengguncang mentalnya.

__ADS_1


Zea sudah tau hal seperti ini mungkin saja akan terjadi sebab mereka berdua telah melakukan hal diluar batas. Namun, tak dipungkiri ini sungguh menyakitkan lebih dari kabar perselingkuhan waktu itu.


"Aku kuat kak, tapi aku capek." Kata Zea dengan mencoba menahan air matanya agar tak kembali terjatuh.


Sudah cukup bagi dia menangisi seorang penghianat seperti Kellan namun, dia tetaplah manusia biasa yang akan terluka saat dia dilukai dan itu tak bisa dipungkiri.


"Aku tahu, tapi sudah cukup kamu menangisi ini semua. Air mata mu terlalu berharga untuk ini." Alvaro bangkit lalu memeluk Zea kembali guna memberikan kenyamanan untuknya.


Lalu setelah melerai pelukan tersebut Alvaro kini membuka kemasan botol air mineral lalu dia berikan kepada Zea.


"Minumlah, agar bisa lebih tenang." Zea pun mengambil lalu meminumnya hingga tersisa setengah.


"Lalu apa rencana kakak?" Setelah sedikit merasa tenang, Zea kemudian menanyakan apa rencana mereka selanjutnya.


Alvaro pun kini menjelaskan semua rencananya, tetapi sebelum rencana itu benar-benar dilakukan Alvaro ingin memastikan satu hal yaitu perihal hatinya.


Zea pun sudah mantap menejelaskan semua hal yang Alvaro ingin tau. Disela-sela obrolan tersebut ponsel Alvaro tiba-tiba saja berbunyi, setelah Alvaro mengetahui siapa yang menelfon dia pun meminta ijin untuk menerima panggilan tersebut kepada Zea.


"Kakak angkat telfon dulu ya sebentar." Alvaro lalu melangkah dua langkah dari Zea.


Melepaskan seseorang yang disayang memang bukan hal yang mudah, namun harus dilakukan apa bila sudah tidak menemui kecocokan dana suatu hubungan.


Kita harus ikhlas, agar bisa menjalin hidup dengan baik dan menemukan yang lebih baik lagi.


Perpisahan bukan menjadi sebuah hal yang selalu buruk, pasti ada hikmah yang bisa kita petik dari perpisahan tersebut.


POV Zea dalam hati.


"*Saat ini, aku hanya berusaha untuk memahami mu, oleh sebab itu aku rela melepas kan mu. Agar kamu dapat menemui bahagia yang kamu ingin'i."


"Aku minta maaf Mas, jika selama ini aku sudah terlalu memaksa mu agar terus bersama ku, aku seperti itu karena aku benar-benar mencintai mu dan tak mau kehilangan mu."


"Tapi sekarang aku tidak akan memaksamu lagi, sudah ku persilahkan kamu pergi menjemput bahagia yang kamu ingin'i dan apa pun keputusan kedepannya biar takdir yang menemukan jawaban nya*."


"Cinta yang tulus dan sejati adalah ketika kita ikhlas melepaskan seseorang yang kita cintai bahagia walaupun bukan dengan kita."

__ADS_1


__ADS_2