
Dua hari telah berlalu, kini hari yang dinanti-nanti oleh Diana pun telah tiba. Hari dimana Diana akan menjadi Istri sahnya Kellan secara agama dan negara.
Ini memang hari bahagia untuk Diana namun, ini menjadi hari duka bagi Zea.
Zea harus menyaksikan dengan kedua matanya secara sadar, orang yang sangat dia cintai yang berstatus masih suami sahnya menikah lagi.
Apa lagi posisi Zea saat ini tengah mengandung buah hati yang mereka nanti-nantikan kehadiran nya selama ini.
Berat, sungguh berat. Namun, Zea pun tak dapat menghindari ini semua. Dia harus berpura-pura baik-baik saja padahal dia sangatlah rapuh.
Pernikahan yang digelar oleh Diana cukup mewah, walaupun acara tersebut hanya dihadiri kerabat terdekat dan beberapa partner bisnis Diana saja sesuai permintaan Kellan.
Zea kini tengah bersiap, rasanya dia sangat malas untuk menghadiri acara pernikahan tersebut namun, kehadiran dibutuhkan didalam acara tersebut. Jadi mau tak mau, dia pun harus datang.
Acara sudah akan dimulai namun, tanda-tanda akan kedatangan Zea pun belum ada membuat Diana dan Ibu Syafana menjadi panik. Mereka takut kalau-kalau Zea tidak akan datang.
"Mas, mana Istri kamu itu ini acara nya lima belas menit lagi udah mau mulai loh." Sewot Diana protes pada Kellan.
"Iya, tunggu dulu Zea pasti datang." Kellan mencoba menenangkan calon Istri keduanya itu.
"Mentang-mentang di butuhin tuh, sengaja banget deh Istri kamu Mas." Protes Diana kembali.
"Sabar, jangan seudzon." Setengah jam berlalu namun, Zea belum juga ada tanda-tanda datang.
"Coba deh kamu telfon dia Mas." Saran Diana yang langsung disetujui oleh Kellan. Kellan pun lalu menelfon Zea.
Tut.......
Tut........
"Iya, tunggu saja saya sebentar lagi sampai." Ucap Zea saat sudah menerima panggilan telefon tersebut, lalu dimatikan begitu saja olehnya.
Ternyata ucapan Zea benar, tak selang waktu lama dia pun telah tiba. Kedatangan Zea menjadi sorotan semua tamu undangan yang ada, baik dari kerabat keluarga maupun rekan bisnis Diana.
__ADS_1
Kok bisa? tentu saja bisa sebab, Zea kini tampil begitu wah, dari gaun yang dia kenakan dari make up dan lainnya. Baik Kellan maupun yang lainya pun pangling melihat penampilan Zea saat ini bahkan kecantikan Diana pun tak sebanding dengan Zea saat ini.
Tentu saja semua itu sengaja dilakukan oleh Zea atas bantuan dari Alvaro.
"Maaf saya terlambat." Kata Zea dengan langsung mendudukkan dirinya di salah satu kursi yang ada.
Setelah kedatangan Zea, acara pun dimulai. Saat acara sudah benar-benar dimulai Zea pun bangkit dari duduknya dan pindah ketempat duduk di belakang tepat berada disamping Alvaro.
Ya, Alvaro juga ikut menghadiri acara tersebut atas permintaan dari Zea sendiri, dan Alvaro tentu saja tidak keberatan akan hal itu.
"Bagaimana para saksi, SAH!"
"SAH!"
Saat kata-kata sah kompak mereka ucapkan disitu pula Zea tak sanggup lagi menahan air matanya.
"Ssttttttttt, jangan nangis. Ingat kamu harus terlihat tegar." Bisik Alvaro kepada Zea sebab dia tau bahwa Zea sudah mulai meneteskan air matanya.
Nyatanya kali ini hatinya berkhianat pada bibirnya. Hatinya ingin A, bibirnya bicara B, dan sialnya air matanya memihak pada suara hatinya.
"Zea hentikan air mata mu, kamu tidak boleh terlihat lemah, kamu itu kuat." Monolog Zea dalam hati.
Kini waktunya memberi ucapan kepada kedua mempelai telah tiba, Zea pun akan naik keatas pelaminan untuk mengucapkan selamat kepada suami dan madunya itu.
"Kamu kuat, kamu harus tegar demi Dede bayi mu." Bisik Alvaro ditelinga Zea, saat Zea sudah berdiri dan akan berjalan menuju pelaminan.
Zea memejamkan matanya sekilas lalu mengangguk kecil dan tersenyum. Zea berjalan begitu anggun dan tersenyum manis membuatnya semakin cantik dan itu mampu membuat laki-laki single yang berada disitu terpesona.
Jangankan yang single, yang sudah berpasangan pun terpesona tak terkecuali Kellan. Sedari awal kedatangan Zea, Kellan memang sudah gagal fokus karena terpesona oleh kecantikan Istrinya sendiri.
Melihat penampilan Zea saat ini, siapa sangka dia adalah seorang wanita bersuami yang kini tengah berbadan dua. Tidak akan ada yang menyangka itu, sebab Zea saat ini tengah disulap menjadi gadis umur dua puluh tahun.
"Selamat ya Di, semoga langgeng dan pernikahan kalian bahagia."
__ADS_1
"Dan untuk kamu Mas, jagalah Diana dan bahagia kan lah dia." Ucap Zea bergantian Dengan tatapan datarnya.
"Terimakasih, itu sudah pasti kan kami saling mencintai." Jawab Diana dengan bergelayut manja di lengan Suaminya.
Zea sebenarnya ingin sekali memaki-maki Diana saat ini juga, tapi semua itu dia urung kan sebab menurutnya itu tidak ada gunanya hanya membuang-buang waktu.
Tapi disisi lain Zea juga ingin tertawa, seorang Pelakor yang berhasil menikah dengan suaminya menggunakan cara licik lalu membicarakan kebahagiaan atas nama cinta. Omong kosong apa ini?
"Hahahaha, ya, ya, ya, tapi kamu harus ingat satu hal Diana, saya dulu dan Mas Kellan juga saling mencintai." Diana tertawa dengan ekspresi yang sulit diartikan.
"Tentu itu beda Zea kita beda, beda kasta beda kelas." Sombong Diana dengan tersenyum licik.
"Semua orang juga tau Di, kalau kita itu beda. Saya perempuan baik-baik sementara kamu---- ups." Zea sengaja memotong ucapannya dan menempelkan lima jari tangan nya kemulutnya seolah-olah dia sedang keceplosan bicara padahal itu disengaja adanya.
"Apa maksud kamu, emang aku perempuan macam apa? perlu kamu tau ya Ze, saya ini perempuan baik-baik dan berpendidikan tau." Sewot Diana yang mulai tersulut emosi, padahal Zea dengan begitu santai nya.
"Dengar Di, tidak ada perempuan baik-baik yang menghalalkan berbagai cara untuk merebut suami orang lain, dan itu sama sekali tidak mencerminkan wanita berpendidikan. Lagian juga percuma saja kan berpendidikan tapi kelakuan mines." Ucap Zea lagi dengan senyum mengejek.
Diana terdiam seketika dengan menahan rasa kesal yang teramat karena ulah Zea yang menyudutkan dirinya, niat hati ingin sombong justru malah dia sendiri yang kena mental padahal itu belum ada apa-apanya dengan apa yang Zea rasakan.
Kellan tak menjawab apapun, dia justru malah fokus pada kecantikan Zea malam ini dan itu membuat Diana merasa kesal.
Tak menunggu lama Zea pun turun dari pelaminan tanpa menegur Ibu mertua nya yang sudah siap akan mencemooh Zea namun sayangnya hal itu harus gagal karena ternyata Zea tak menghampiri nya.
"Dasar menantu enggak punya sopan santun." Sewot Ibu Syafana yang geram sebab dia tak bisa mengejek Zea sebab Zea justru malah langsung turun tanpa menyapanya terlebih dahulu.
"Kak, kita pergi sekarang yuk." Ajak Zea dengan menarik Jaz yang dipakai Alvaro.
"Baik Tuan putri." Lalu mereka pun kini beriringan keluar dari gedung tempat resepsi itu digelar.
POV Zea sad.
"Salah satu orang dalam hidup mu akhirnya pergi, dia adalah orang yang pernah memberi warna dalam hidupmu menunjukkan bahwa dunia ini tidak hanya hitam dan putih. Dia yang tulusan, perhatian, dan sabaran, akhirnya memilih untuk menyerah. Bukan dia tidak mau untuk bertahan, dia sudah mencoba tapi dia sadar bahwa bertahan jika dia bukan satu-satunya adalah hal yang menyakitkan. Dulu dia menerima kehadiran mu dengan baik, maka kini saatnya kamu yang harus menerima kepergian nya dengan baik pula. Dia yang memilih pergi dan tak akan kembali. Dia pergi bukan untuk dicari, dia pergi untuk menjemput bahagia nya yang lain dan meninggalkan kamu yang kini tengah bahagia dengan yang lain. Kamu tau dia itu siapa? Dia itu adalah aku, Ghazea Azhagar." Monolog Zea dalam hati, dengan memejamkan matanya yang terasa panas.
__ADS_1