Bertukar Peran Dengan Istriku

Bertukar Peran Dengan Istriku
Bab 10


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul empat pagi, aku bangun merapikan semua pekerjaan rumah. Hingga selesai. 


Di mana Ainun masih tertidur, membuat aku langsung membangunkannya. Aku berniat meminta uang tiga juga yang aku pinjamkan pada ibu. 


"Ainun, bangun?" Wanita itu malah mengabaikanku. Membuat aku menarik selimut menarik tangannya untuk bangun. 


Mengucek ngucek kedua mata, Ainun beberapa kali menguap  di depanku. 


"Tutup mulutmu, bau jigong. (Bau mulut.)"


Ainun menghempaskan tanganku, membuat ia menggaruk belakang kepalanya, "ada apa sih mas,  masih pagi juga. "


Menarik kembali tubuhnya, sampai Ainun terjatuh ke atas lantai, ia berteriak kesakitan. 


Aku mulai menyodorkan tanganku dihadapannya. " Mana?"


"Apa yang mana?"


"Uang? Aku butuh uang itu!"


Ainun beranjak berdiri, ia melemparkan bantal ke arahku, "  Kamu nggak jelas, mas. "


Menarik selimut, Ainun mulai tertidur lagi. 


Aku yang kesal dibuatnya, kini menarik lengan Ainun, agar wanita itu bangun. 


"Apa lagi, mas. "


"Uang tiga juta yang ibu berikan pada kamu mana?"


"Oh itu, sudah habis! "


Aku terkejut mendengar jawaban dari istriku, " Habis, jangan bercanda kamu. "


Istriku malah mengabaikan perkataanku lagi, " Kamu dengan tidak, Ainun?"


Berulang kali, aku katakan hal itu. Ainun tetap saja diam, membuat emosi semakin tak terkendali. 


"Ainun aku tanya sama kamu?"


"iya, mas. Apa lagi!"


"Kenapa uang itu bisa habis, kamu pakai apa uang itu?"


"Oh itu, aku pakai traktir teman teman dan belanja!"


"Apa."


Aku melongo dengan jawaban istriku, memegang kepala dengan kedua tangan dan berkata, " Kamu benar benar gila, asal kamu tahu kebutuhan di rumah habis, uang tabunganku juga habis. "


"Jadi kamu mau menyalahkan aku, mas?"


" Ahk."


Aku hampir saja melayangkan sebuah pukul pada istriku, namun berusaha aku tahan. 


"Kamu ingat nggak dulu, gimana rasanya jadi aku. Sekarang kamu merasakan itu?"


Aku tak berani menjawab perkataan istriku, hanya diam menerima nasib. " Jadi apa yang kamu inginkan dariku sekarang. "


"Aku hanya ingin kamu berubah dan lebih peka!"


Ainun beranjak pergi dari hadapanku. 


Istriku benar benar cuek, ia pergi begitu saja, membuat aku menggelengkan kepala, sampai dimana. 


"Mas. Mas. "


Aku mulai berlari, menemui Ainun yang berteriak. " kopi mana, sarapan. "


Anak anak kembali merengek meminta makan padaku, " Sabar ya sayang, papah buat dulu kopi. "

__ADS_1


Mereka tetap merengek, membuat aku benar benar frustasi, ternyata selama ini. 


Aku bukan ayah yang baik dan tak peka, pantas saja Ainun sering marah marah.


"Aku berangkat bekerja dulu mas. "


Aku mulai mengejarnya, menahan tangan Ainun dengan berkata. "Aku mohon, aku ingin merubah diriku, jadi kita akhiri tukar peran ini. "


Ainun menatapku dalam dalam, dimana ia menganggukkan kepala, membuat sebuah lekuk senyuman aku perlihatkan padanya. 


"Baik mas, kalau itu keinginanmu, tapi kamu harus membayar denda yang ada di perjanjian  berkas ini. "


Aku mengira jika Ainun tidak akan membahas hal itu lagi, membuat aku menundukkan wajah merasa kecewa. 


"Jadi gimana, mas?"


Ketegasan dan prinsipnya membuat aku takjub, namun membuat aku kesal juga. 


"Baiklah."


Ainun mulai mengambil berkas itu, menyuruhku untuk menandatanganinya lagi. 


"Tanda tangani?"


Meraih berkas itu, perlahan membaca setiap baris kata. " Apalagi ini?"


"Itu tanda, kalau kamu menyerah dan akan membayar denda dua ratus juta!"


"Apa tidak ada keringan sedikitpun, membahas tentang denda. "


Ainun menggelengkan kepala, " Semua sudah menjadi aturan dari isi berkas ini mas. Jadi kamu harus siap. Walau hatimu belum siap. "


Menghela napas, ini semua benar benar kejam. 


"Mas."


"Iya."


"Ainun."


"Ya."


"Aku berangkat kerja dulu. "


Ainun menganggukkan kepala, dimana perasaanku masih kesal karena membahas denda itu. 


" Mas. "


Ainun kini mengejarku, membuat aku menghentikan langkah kakiku. " Kenapa?"


" kamu belum sarapan?"


"Ahk, tidak usah. Aku akan sarapan di luar. "


"Baiklah kalau begitu. "


Merogoh saku celana, aku mulai memberikan beberapa uang lembar simpananku pada Ainun. 


"Ini."


Ainun tersenyum saat uang belanja yang biasanya cuman lima puluh ribu, kini ratusan ribu. " Kamu belanja kebutuhan dapur. "


"Baik, mas. "


Pada akhirnya aku menyerah juga, mengira jika menjadi ibu rumah tangga itu adalah pekerjaan yang mudah, tapi pada kenyataanya. Benar benar sulit, dan sangat menyulitkan. Membuat aku terpaksa menurunkan ego sebagai lelaki.


*********


Sampai di kantor, Tari menyapaku, " Reza, kamu kerja lagi, gimana keadaan istri kamu. "


"Sekarang dia sudah sembuh, " balasku dengan raut wajah tak mood.

__ADS_1


"Reza."


Tangan Tari, tiba tiba mengusap sudut bibir ini, membuat aku terkejut dan menatapnya. " Kenapa?"


"Di bibir kamu ada bekas kopi. "


Mengelapnya dengan tangan, aku tersenyum dan berucap, " terima kasih. "


" Sama sama. "


Gadis itu pergi, dengan senyuman manisnya, membuat aku berusaha tetap sadar. "Sialan, apa yang aku bayangkan saat ini, jangan sampai, masalah ini belum kelar. "


Duduk di kursi tempat aku bekerja. " Hey, hey. Apa kabar?"


Alex datang lagi, entahlah semejak ia menyindirku habis habisan dengan yang lain, membuat aku tak respek lagi padanya.


"Lu kenapa?"


Mengabaikan Alex, berusaha sok sibuk.


"Apa jangan jangan lu masih kesal dan marah sama gue?"


Aku tak mempedulikan lagi perkataannya, fokus mengetik leptot.


"Heh."


Brakk ....


Memukul meja kerja, " keluar, gue sibuk. Masih banyak kerjaan. "


Alex menatap ke arah wajahku dengan tatapan herannya, membuat aku kembali mengerjakan pekerjaan kantor yang sudah tertunda.


Alex melangkahkan kaki, ia pergi dari ruanganku.


"Permisi."


"Tari?"


Gadis itu datang membawa berkas untuk aku isi. " Pak Alex, ini berkas yang harus anda tanda tangani."


"Ahk, iya. "


Mengambil berkas itu, tangan Tari tiba tiba bersentuhan denganku. " Ahk, pak. Maaf. "


"Tidak apa apa. "


Aku berusaha tetap tenang, tidak terpancing akan tatapan gadis di sampingku ini.


"Pak."


"Pak."


Lamunan seketika membunyar, membuat aku berkata. " Ahk, iya kenapa?"


"Berkasnya?"


"Mm, iya. "


Sialan, aku malah terpana lagi dengan tatapan Tari. Gadis ini begitu wangi, membuat aku hampir tergoda, karena sudah lama aku tak menyentuh Ainun lagi. Setelah tukar peran itu dilakukan.


"Bapak sakit." Tari memegang jidatku, dengan berkata. " Tidak. "


Aku berusaha melepaskan tangan Tari, mencoba menjauh darinya. " Ini berkasnya sudah saya tanda tangani. "


"Baiklah, terima kasih pak. "


"Sama sama. "


Tari pergi dengan badannya yang berlenggak lenggok, meninggalkan aku dari ruangan. Entah kenapa wanita itu begitu sangat cantik dan membuat aku tertarik.


Mengusap kasar wajah, aku harus ingat. Jika di rumah ada Ainun, tak ingin jika nanti Ainun menjadi sosok wanita yang berubah drastis. Dan menyeramkan seperti kemarin. Karena perubahan dan ketegasnnya membuat aku gila.

__ADS_1


"Ayo sadar, ayo sadar Reza, itu hanya napsu sesaat jangan coba coba. "


__ADS_2