Bertukar Peran Dengan Istriku

Bertukar Peran Dengan Istriku
Bab 11


__ADS_3

Pulang ke rumah, aku sudah disuguhkan dengan pemandangan dari istriku, terlihat ia berdandan cantik dan bau wangi pada tubuhnya.


"Mas."


Senyuman ia perlihatkan padaku, " Tumben kamu cantik. "


Ainun menyunggingkan bibirnya, " Kalau aku cantik kenapa memang mas, nggak boleh?"


"Ahk nggak!"


Ainun menghidangkan makanan yang terlihat lezat, " Ayo makan. "


Ia duduk berhadapan denganku,"  Ngapain kamu disini. "


Ainun beranjak berdiri, membuat aku berucap, " Kamu mau kemana?"


Menghela napas, Ainun menatap ke arahku, " Tadi kamu bilang ngapain aku disini, sekarang pergi masih ditanya lagi mau kemana? Kamu kenapa sih mas, kesal karena uang yang aku pakai untuk mempercantik diri!"


"Nggak?"


"Ya terus ngapain kamu bersikap seperti itu, mau tukar peran lagi!"


"Ahk, nggak."


Ainun pergi dari hadapanku, dimana aku langsung menikmati makanan yang sudah disiapkan oleh istriku. 


Entah kenapa makin ke sini melihat tampilan Ainun yang terlihat begitu cantik, membuat aku tak tertarik. Malah yang ada dalam pikiranku saat ini adalah Tari. 


Aku berusaha menyadarkan diriku sendiri untuk tidak terpancing akan napsu sesaat,  karena setelah lepas dari masalah kemarin. Aku merasa jika diriku sekarang berhak bahagia, mendapatkan wanita yang lebih baik dari pada Ainun. 


Selesai menyantap makanan istri, aku mulai beranjak berdiri berjalan ke arah ruang tamu. 


Ainun terlihat bermain dengan anak anak, membuat aku merasakan rasa bosan padanya. 


Tok …. Tok. 


Ainun beranjak berdiri dan segera membuka pintu depan rumah. 


"Ibu."


Mendengar Ainun menyebut nama ibu, membuat aku menghela napas kasar. 


"Wah, gini dong. Ini yang ibu harapkan dari kalian, peran yang sangat indah. "


Kedatangan Ibu telah membuat aku semakin stress, terlebih lagi wanita tidak itu menyindirku. 


"Reza, kamu tidak menyambut ibumu ini?"


Aku berdiri mengecup punggung tangan wanita yang sudah melahirkan. 


" Bagaimana, apa kamu sekarang terlihat nyaman?"


Menatap ke arah wajah ibu sekilas, aku mulai beranjak pergi, tidak menjawab perkataan ibu sama sekali. Malas rasanya. 


"Mas, loh kok kamu pergi, ada ibu juga. "


Perkataan Ainun membuat aku tak memperdulikannya, meneruskan langkah kakiku ke dalam kamar. 


"Mas Reza kenapa?"

__ADS_1


Ibu terlihat menahan Ainun untuk tidak mengejarku, mereka melanjutkan aktivitas mereka dengan mengasuh ketiga anak-anakku. 


Merebahkan tubuh, tiba-tiba suara ponsel berbunyi, tangan mulai meraih ponsel di atas meja.  Membuat aku melihat siapa yang mengirim pesan padaku. 


(Pak Reza, lagi apa?) 


Aku terkejut dengan pesan yang datang dari Tari. 


Membuat aku dengan isengnya, membalas pesan itu. ( Lagi nggak bete.) 


(Ya ampun kasihan, istrinya kemana pak?) 


Dia membalas lagi pesan dariku, aku yang memang sedikit suka dengan body dan tutur katanya  kini membalas lagi pesan darinya. 


(Biasalah jaga anak anak, lagi merhatiin anak anak, beda sama saya nggak di jagain. Karena udah bukan anak kecil lagi ya.) dengan emoji tertawa dan mata sedikit mengedip. 


(Ya ampun, kasihan baget nasib bapak, padalah suami juga butuh perhatian. Jangan bisanya nuntut.) 


Jawaban Tari, begitu sehati denganku. Membuat aku senang. 


(Begitulah istri saya, makanya saya bete nggak ada yang merhatiin, coba kalau ada yang merhatiin, pasti senang dan bahagia.) 


Aku tak lupa mencantumkan emoji menutup mulut. 


(Ow, kasihan baget, ya sudah, biar Tari perhatiin mau.) 


Deg ….


Entah kenapa seketika gejolak dalam dada bergetar hebat,  seakan menemukan sesuatu yang baru. Setelah aku merasa jika perasaanku sudah tak besar lagi pada Ainun seperti dulu.


(Boleh dong, apalagi sama gadis imut seperti kamu.) 


(Ahk, bapak bisa saja, gombalnya.) 


(Ya ampun, bapak yang sabar ya.) 


Pesan kini berlanjut semakin seru, membuat aku merasa tak merasa bosan lagi. 


" Mas. "


"Mas."


Tiba tiba Ainun mengambil ponselku, membuat aku terkejut. 


"Ainun, kembalikan ponselku."


Aku tak ingin si Ainun Daniati itu melihat isi pesan dari, bisa bisa aku digorok olehnya.


"Ainun atau Dania, Ahk itulah. "


Nama istriku memang terkesan berbeda dari yang lain, kadang aku memanggil dia dengan sebutan Ainun atau Dania, karena namanya kampungan.


Tak bagus di dengar orang saat menyebut namanya, apalagi kepanjangan sama seperti nama sebutan.


Bukan aku saja, Alex pun selalu begitu. Karena dia tahu tentang istriku dimana ia masih ada hubungan saudara dengan Ainun. Apalagi ibu, selalu salah menyebut nama istriku.


"Ainun Daniati. Cepat kembalikan ponselku. "


Mempelihatkan telapak tangan, berharap jika Ainun mau memberikan ponsel itu sekarang juga padaku.

__ADS_1


Tetapi pada kenyataan yang aku lihat saat ini. Ainun malah menatap tajam ke arahku, ia seperti tak ada rasa takut sedikit pun pada suaminya ini.


Lelaki yang menjadi kepala keluarga, dan pembimbing hidupnya.


"Aku ingin lihat isi pesan dari ponselmu. Kenapa kamu bisa tertawa dan senang seperti itu."


Memukul pelan jidat. " Kamu ini, aku tidak macam macam kok. "


Mencoba merebut ponsel dari tangan Ainun, wanita yang menjadi istriku ini cukup hebat dan pintar. Bisa bisanya aku kalah saat berhadapan dengannya.


Membuka layar ponsel, istriku terlihat kesal. Ia menunjukkan layar ponsel dihadapanku, dengan wajah penuh amarah.


"Mas. Cepat jawab."


" Ainun. "


Aku mulai memperlihatkan raut wajah kesal dan perasaan gelisah. " Ainun, kembalikan ponselku. "


"Tidak akan, sebelum kamu menyebut nomor  atau nama password dari ponselmu ini. "


"Ahk. Untuk apa, tak ada apa apa pada pesan ponselku. "


Ainun malah tersenyum sinis, membuat aku tak bisa berbuat apa apa. " Mas, kalau memang tidak ada apa apa, kenapa kamu seperti orang ketakutan begitu. "


" Aku. " Tertawa dan melanjutkan perkataanku, " Aku tidak takut, hanya saja kamu tak pantas mengetahui privasiku. "


Ainun malah melipatkan kedua tangannya, " Privasi, oke. Jadi kamu anggap aku ini orang lain?"


"Bukan begitu. " Ainun malah semakin membuat aku tertekan, apalagi dengan gaya bicaranya yang menyulitkan aku untuk berbohong. 


"Bukan begitu bagaimana? Mas, namanya suami istri itu, tidak ada kata Privasi."


"Tapi Ainun, tetap saja, aku juga tidak …."


Ainun menempelkan telunjuk jari tangan pada bibirku, " Hust. "


Membuat aku tak meneruskan lagi perkataanku. " Jangan banyak bicara hal yang tak ada faedahnya. Lebih baik kamu katakan saja padaku sekarang, apa password ponsel ini. "


Menatap ke arah ibu sekilas, membuat aku berkata, " Itu ibu. "


Ainun langsung terpancing dengan perkataanku, dimana aku mulai mengambil ponsel di saat ia lengah. 


Dan, apa yang terjadi. Brukk. 


Aku malah dibanting olehnya, membuat tulangku terasa remuk dalam sekejap mata. 


"Aw, pasti sakit ya. "


Mengepalkan kedua tangan, istriku benar benar keterlaluan, mengangkat tangan kanan. 


Ahk, sialan. Istriku bisa menahan tanganku secepat itu. 


Membuat aku pastinya syok, dari mana istriku bisa belajar ilmu bela diri, padahal ia selalu standby di rumah tak pernah pergi kemana mana. 


Menarik dan memelintir tanganku, " Ahk sakit. "


Aku menjerit tak tahan dengan tenaganya yang cukup lumayan hebat. 


"Berkata jujur, atau. " Bibirnya mulai ia dekatkan pada telingaku. " Kupatahkan tanganmu ini?"

__ADS_1


Deg … . 


deg … 


__ADS_2