Bertukar Peran Dengan Istriku

Bertukar Peran Dengan Istriku
Bab 32


__ADS_3

Tari bangkit dari atas lantai, iya menatap ke arahku, " Pak Reza. "


Panggilannya tetap sama saat ia bertemu denganku, walaupun Sekarang dia sudah menjadi seorang istri. 


Menikah karena keterpaksaan dan ketidak keinginan, membuat aku tak lagi membela Tari di hadapan Ainun. 


"Pak Reza. " Tari mendekat bergelayut manja pada tanganku. 


Aku yang tak suka dengan ke manjaannya itu,  sedikit menjauh, melepaskan tangannya. 


"Pak Reza ini kenapa? Kita kan suami istri?"


"Aku tidak pernah ingin menjadikanmu istriku, semua karena keterpaksaan!"


Tari terlihat tak terima ia mengacak rambutnya kasar dan berkata, " Kenapa kamu tidak menghargai aku sebagai istrimu. "


Ainun terlihat santai, ia kini berpamitan padaku dan juga Tari, " aku pergi dulu. "


Entah apa yang ada di pikiranku saat itu, aku malah menahan Ainun, memegang tangannya, " Kita batalkan perceraian ini."


Ainun menghempaskan tanganku, membuat hatiku terasa lemah.


kedua mata berkaca kaca, " Aku bisa saja balik lagi pada kamu, tapi dengan syarat. Aku tak mau dimadu. "


Deg ….


Ucapan Ainun membuat Tari, membulatkan kedua mata, " Pak Reza, saya  tak mau kalau bapak ceraikan saya. "


Ainun tampak mendelik kesal, aku melihat ekpresi mereka seperti tak ingin kalah satu sama lain. 


"Mas, kamu pikirkan perkataanku baik baik. Jika kamu tidak mau kita berpisah."


Ainun pergi dari hadapanku, dimana ia mendekat ke arah Tari, " heh, wanita murahan, selamat menikmati peran menjadi istri Reza. "


Saat Ainun melangkah pergi, Tari malah sengaja memanggil wanita itu kembali, " Ainun. Kita buktikan, siapa istri yang terhebat untuk Pak Reza."


"Silahkan kalau kamu bisa. "


Ainun dari dulu tidak pernah berubah, ia tak lemah. Selalu tegas dalam hal apapun.


"Ainun."


Kembali memanggil Ainun, wanita itu menjawa," ada apa?"


"Tolong beri aku waktu, kita batalkan dulu pengadilan kita, aku akan urus surat cerai untuk Tari. "


"Apa."


Tari tampak tak setuju, ia merengek memegang kedua tanganku, " Pak, kenapa anda begitu tega pada saya. "


"Kamu urus saja dia, aku beri waktu kamu selama sebulan, kalau sifat kamu masih seperti itu, aku tidak akan lagi beri kamu kesempatan sampai kapanpun. "


"Baik, aku akan berubah. "


Ainun melangkahkan kakinya lagi, pergi dari hadapanku, dimana.


"Bapak lihat tadi?"


Tari terlihat merengek padaku, membuat aku berusaha menghindar darinya.


"Aku tak peduli!"


Aku bergegas untuk segera mengurus pemakaman ibu.


"Pak Reza. Anda sudah jadi suami saya."


Tari mengejarku, ia berlari cepat. Membuat aku terus melangkahkan kaki dengan cepat.


" Pak Reza. "


Sampai di tengah perjalanan, Tari terjatuh, ia berteriak meminta tolong padaku. " Pak Reza, tolong, ahk. Perutku sakit sekali. "


Aku terus berjalan, tak mempedulikannya. Hingga dimana suster berlari ke arah belangkangku, " perawat. "


"Ahk, Pak Reza, tolong saya. "


Tari terus meraung kesakitan, dimana aku melihat darah keluar dari atas pahanya. 


Aku yang tadinya mengabaikan Tari, kini berlari ke arahnya, panik, gelisah. Karena aku sudah mendorong tubuhnya hingga ia terjatuh ke atas lantai. 


"Ahk, sakit." Sambil memegang perut, meringis kesakitan. Aku merasa bersalah setelah apa yang aku lakukan padanya. 

__ADS_1


"Tari."


"Ahk."


Suster yang membantu Tari dari awal, menyuruh kembali para perawat untuk segera membawa istriku ke ruang UGD. 


Padahal secepatnya aku harus mengurus pemakaman ibu, Ainun pergi entah kemana. Membuat aku kewalahan untuk saat ini. 


Duduk di kursi, menunggu pemeriksaan. Aku berharap, jika Tari tidak kenapa kenapa. 


Bangkit dari tempat duduk, menatap jendela ruangan UGD. Tari masih ditangani oleh suster, sampai aku dikejutkan dengan dokter yang baru saja masuk ke ruangan UGD.


Menatap jam di tangan, perasaanku sudah mulai tak ke ruang. Tarpaksa menghubungi Ainun, meminta bantuan padanya. 


Karena ibu sudah tidak punya kerabat lagi, selain aku anaknya. 


Keluarga ibu sudah meninggal dunia, menghilangkan rasa gengsi. Menghubungi kembali Ainun, " Halo, mas. "


"Ainun."


Ada keraguan dalam hati untuk meminta bantuan kepadanya. 


"Ada apa, Mas?"


"Kamu bisa bantu aku mengurus pemakaman ibu!"


Berharap sekali jika Ainun mengatakan kata ia, mungkin aku tak perlu lagi kuatir dengan masalah pemakanan ibu yang harus dimakamkan sekarang. 


"Kalau begitu Ainun, kesana sekarang."


Rasanya lega, setelah istriku mengatakan akan balik lagi kesini. 


Tanpa basa basi, aku mulai mengatakan kata, " Terima kasih, Ainun. "


Wanita yang memberikan aku kesempatan untuk berubah, kita mematikan sambungan telepon. 


Aku yang baru saja mengatakan kata terima kasih, membuat hati bergetar. Dulu ketika bersama Ainun, tak pernah aku mengatakan kata terima kasih, apalagi meminta maaf. 


Sebagai seorang suami yang dulu, aku terlalu egois, mementingkan diri sendiri tanpa mementingkan perasaan istri. 


Ceklek. 


Dokter menghela napas, terlihat berat. 


"Kami tidak bisa menyelamatkan bayi dalam kandungan istri bapak!"


Deg ….


"Bayi?"


Aku terkejut dengan perkataan dokter, membahas tentang kandungan Tari. 


"Iya, istri anda sedang mengandung usia kehamilan tiga bulan!"


Jawaban dokter yang membuat aku kesal, bagaimana bisa Tari hamil, padahal aku baru saja menikahinya. Kenal dekat dengan Tari hanya sebulan ini saja. 


"Kalau begitu saya permisi dulu, pak. "


"Iya, dok. "


Mengepalkan kedua tangan, berusaha menahan emosi. Kini suster keluar dari ruangan Tari. 


"Jika bapak ingin bertemu dengan istri bapak silahkan. "


"Ya sus. "


Masuk membuka pintu ruangan Tari, melihat ia terbaring di ranjang tempat tidur." Pak. "


Tari kini memanggilku, membuat aku mendekat ke arahnya. 


"Pak."


Tangan Tari mulai memegang tanganku,  membuat aku menghindar, " Pak, anda kenapa?"


Tari mulai duduk dari tempat tidurnya, ia meringis kesakitan. " Pak. "


Aku yang melihat ekspresinya tak ada rasa kasihan sedikitpun, yang ada rasa kesal dan benci karena ia menjebakku untuk kedua kalinya.


"Kamu keguguran. "


Kedua mata Tari perlahan menatap ke arahku, " keguguran. "

__ADS_1


Dia memperlihatkan kepolosannya, membuat aku jijik dan tak suka. 


"Iya, dokter mengatakan jika kandungan kamu sudah menginjak tiga bulan. "


"Sepertinya dokter salah, saya kan baru menikah dengan anda pak. "


Tari seperti orang bodoh yang mengulangi pertanyaan yang akan aku tanyakan padanya. "Pak, dokter salah prediksi sepertinya, saya hanya datang bulan."


Saking kesalnya dengan Tari, aku mulai memukul meja, membuat wanita yang duduk di ranjang tempat tidur terlihat ketakutan. 


"Anak siapa itu?"


Aku menunjuk pada wajah Tari, " Mana ada dokter salah prediksi!"


Tari mulai memegang tanganku, " Pak, saya tidak pernah …."


Belum penjelasannya terucap semuanya, aku mulai melepaskan genggaman Tari," jangan bicara omong kosong, sekarang jawab saja yang jujur. Kamu sengaja menjebakku kan. "


"Menjebak, tentu saja tidak, pak. "


"Kalau tidak, kenapa dokter mengatakan kalau kamu hamil, apa pacarmu yang dulu tidak bertanggung jawab. Sampai kamu menjebakku, agar menikahi kamu dan bertanggung jawab?"


Kedua mata Tari berkaca kaca, aku berusaha tidak terlalu membentaknya lagi. " Kenapa? Kamu merasa jika aku, terlalu kejam mengatakan hal ini. "


"Pak Reza, saya tidak ada niat menjebak anda. Saya juga tidak tahu kalau saya sedang hamil tiga bulan. "


Sialan bagaimana bisa aku tidak membentaknya, jika Tari terus berbohong dan tak mau jujur. 


"Percaya pada saya, pak. "


Saat ini kondisi Tari sedang tidak baik, kalau aku terus menekannya, takut jika ia kenapa kenapa. Dan pada akhirnya membuat aku tersalahkan. 


"Pak."


" Sebaiknya kamu istirahat saja dulu, aku mau mengurus pemakan ibu. "


"Saya ingin ikut. "


"Mana mungkin, kondisi kamu sedang lemah. "


Aku menatap dengan perasaan kesal dan tak suka. 


"Pak, saya mohon. "


Tari yang terus memohon mohon, membuat aku terpaksa mengiyakan. 


Padahal hatiku  tak bisa memaafkan Tari, saat ini. 


Ainun datang, menghampiriku di ruangan. 


"Mas, aku sudah menghubungi tpu. Tempat ibu sudah disiapkan. "


"Baik kalau begitu. "


Aku merasa lega, jika Ainun sudah mengurus semuanya, tinggal menguburkan ibu ke tempat peristirahatannya yang terakhir. 


Tari yang merengek dengan kondisinya yang lemah, ia terus meminta ikut ke pemakaman. 


"Aku akan bawa kamu sekarang, tapi awas kalau kamu sampai nangis. Karena kesakitan. "


Menganggukkan kepala, pada akhirnya aku memindahkan Tari pada kursi roda. 


********


Disaat pemakaman ibu, aku terus melirik ke arah Ainun, dimana ia terlihat berdoa. Wajahnya begitu sayu, ada ketenangan dalam diri Ainun. 


Tari mulai menyenggol bahuku, membuat tatapanku kini berpaling padanya. " Ada apa sih?"


"Ngapain Pak ngelirik Mbak Ainun terus!"


"Dia cantik, nggak kayak kamu burik. "


Tari yang mendengar perkataanku, menghentakkan kaki pada kursi roda, menggerutu kesal. "Pak, saya istri anda, sedangkan dia akan jadi mantan anda."


Aku tersenyum kecil mendengar tutur kata Tari, melirik ke arahnya," sifat asli kamu makin kesini makin kelihatan, Tari.  Apalagi kamu sudah membohongiku, tentang kehamilanmu itu. Jika kamu tidak keguguran. Mungkin aku tidak akan tahu kehamilan yang sesungguhnya."


"Bapak, jangan lupa, bapak juga dulu mengatakan suka sama saya."


"Ya dulu, karena aku gelap mata."


Acara pemakaman selesai. 

__ADS_1


__ADS_2