Bertukar Peran Dengan Istriku

Bertukar Peran Dengan Istriku
Bab 71


__ADS_3

Reza berusaha membangunkan anaknya, menggoyang-goyangkan tubuh Denis, di mana anak itu tak bergerak sama sekali. Perlahan mengangkat tubuh yang terlihat lemah, Denis masih bernafas.


Kayla dan Kania, duduk di samping sang papa, mereka menangisi Denis, yang tak mengeluarkan suara sama sekali.


Reza berjalan menuju pintu keluar rumah membopong anak pertamanya, " Denis. "


Memanggil-manggil nama Denis namun anak pertamanya itu tak sadarkan diri. " Denis."


Kuatir dengan keadaan anak pertamanya, Reza melangkahkan kaki begitu cepat, hampir meninggalkan kedua anak kembarnya.


"Kayla, Kania. "


Mendengar sang Papah memanggil si kembar, kedua anak itu berlari, menghampiri Reza.


"Ayo nak, kalian harus ikut. "


"Papah, tunggu. "


Keduanya melangkahkan kaki begitu cepat, mengikuti langkah kaki Reza. Masuk ke dalam mobil. Lelaki berbadan kekar itu merasa tak tenang, dengan keadaan anak pertamanya yang tak sadarkan diri.


Napas terasa sesak, saat melihat keadaan anaknya. Menyesal, karena sudah berani membentak Denis, sampai memukuli kedua kakinya.


"Denis, maafin papah. "


Cemas yang dirasakan Reza saat itu, berusaha tetap tenang, walau sebenarnya hati sudah tak karuan.


"Denis."


Selalu Reza memanggil nama Denis, perasaannya tak tentu," papah awas. "

__ADS_1


Hampir saja, mobil menabrak pengendara motor, sampai kayla melihat keringat sang papah bercucuran, membuat anak kembarnya mengusap keringat itu berulang kali.


"Papah, jangan bengong. "


Menghela napas, Reza berusaha tersenyum di depan kedua anak kembarnya. " Ahk, iya. "


Kania ikut memperhatikan sang papah, mengusap rambut sang papah, " papah ingat pesan mamah, selalu tetap fokus. "


Nasehat dari anak pertamanya itu, seperti sebuah tamparan keras untuk Reza agar tetap sadar, jika anak anaknya masih mempedulikan keselamatannya.


Mengusap kasar wajah, Reza kini mengusap kembali rambut panjang milik kedua anak kembarnya itu.


"Iya, makasih, sudah mengigatkan papah. Kalian terbaik. "


"Ya sudah pah, ayo kita ke rumah sakit. "


Setelah sampai di rumah sakit yang dituju, waktunya Reza membopong tubuh anaknya, untuk segera menemui dokter.


"Dokter, Dokter. "


Berteriak dengan menangis memeluk erat tubuh anak pertamanya. " Denis, kamu harus bertahan ya. "


Tetap tenang, akhirnya Denis ditangani oleh dokter . Sedangkan Kayla dan Kania, tetap di samping sang papah.


"Mudah mudahan. Kamu tidak kenapa kenapa?"


Beberapa menit kemudian, Dokter datang.


"Bagaimana keadaan anak saya. "

__ADS_1


Dokter terlihat marah, menatap tajam ke arah Reza. " Banyak luka lebab. "


Deg ....


Ada rasa terkejut mendengar perkataan dokter, " apa anda tidak bisa menyayangi anak anda dengan baik. "


Menundukkan wajah, meminta maaf pada sang dokter. " Saya bersalah. "


"Kalau anda melakukan kekerasan seperti ini lagi, saya akan melaporkan anda. "


Dokter pergi, belum mendapatkan jawaban, sudah di bentak habis habisan.


Kayla dan Kania, tetap memegang tangan erat sang papah dengan berkata. " papah. "


Reza perlahan menatap kedua anak kembarnya. Air mata mengalir, membasahi pipi.


Dokter pergi, dengan kekesalan yang tak bisa diucapkan.


"Kania, kayla. "


Menjongkokan badan, mengusap pelan kedua pipi anak anaknya. " Kalian tidak membeci papah kan."


Ada rasa takut menghantui Reza, sampai ia berani bertanya seperti itu. " Papah kenapa berkata seperti itu. "


"Papah menyesal, papah sudah melukai Denis. "


Kayla perlahan menatap ke arah Kania, lalu menjawab. " Kami percaya papah tidak sengaja melakukan semua itu, kami sayang papah. "


Betapa polosnya kedua anak kembar Reza, memaafkan dengan begitu mudahnya.

__ADS_1


__ADS_2