Bertukar Peran Dengan Istriku

Bertukar Peran Dengan Istriku
Bab 72


__ADS_3

Sedangkan di dalam penjara, Tari masih menunggu kepastian, tak ada jawaban sama sekali dari Ainun dan juga Reza.


Memegang juriji besi berwarna hitam dengan kedua tangan, Tari meremas jeruji besi itu menahan rasa kesal. Karena dirinya harus membekam di dalam penjara.


Kenapa bisa ia masuk lagi ke masa lalu, dan membekam di dalam penjara.


Sampai. Ahkkkk.


Tari mengusap wajahnya, ia baru sadar jika dirinya masih berada di rumah sakit, menatap ruangan ke sana ke mari, pikiran sudah tak menentu.


Memegang dada bidang terasa sesak, Tari tetap menenangkan diri dengan menghela napas dan mengeluarkannya beberapa kali.


"Tari. Sadarlah. " Memegang kepala dengan kedua tangan, " ahk, gara gara mimpi masuk ke dalam penjara, sekarang aku tak bisa tidur lagi. "


Nada bicara yang formal kini berubah secara tiba tiba, terlihat jika wanita itu terlalu memikirkan kehidupannya untuk kedepannya.


"Bagaimana kehidupanku nantinya?"


Tari ingin sekali berteriak sebisa mungkin, meluapkan semua kekesalannya. " Ahk, bagaimana bisa aku memikirkan penderitaanku saat ini. "


Menghela napas beberapa kali, berusaha tetap tenang.

__ADS_1


Beberapa suster sedang memperhatikan Tari, dimana mereka saling berbisik dengan membicarakan Tari.


"Kamu lihat wanita stress itu?"


Salah satu telunjuk tangan suster menunjuk pada Tari, ia nampak tak suka dan kesal jika melihat Tari.


"Oh, dia?" Tawa dilayangkan salah satu suster.


"Ya siapa lagi, hanya dia yang stres di rumah sakit ini!" Balas sang suster, menepuk pundak salah satu temannya yang sedikit terdengar polos saat bicara.


"Mm, nggak heran sih dia di sebut stres, toh bikin suster di sini kesal." Melipatkan kedua tangan menilai Tari dengan seenaknya.


Tari perlahan menatap ke arah jendela luar ruanganya, ia melihat para suster sedang menggobrol tertawa sedikit menatap ke arahnya sekilas. Seperti sedang menceritakan kejelekannya.


Menghela napas, Tari berusaha tetap tenang, tidak terpancing emosi, bersikap cuek walau hati menggebu gebu, penasaran dengan apa yang sebenarnya mereka ceritakan.


Terlebih lagi, ada tatapan sinis yang tak bisa di pungkiri oleh Tari, seperti meledek dirinya.


"Mm, menyebalkan."


Mengepalkan kedua tangan, kesal dan malas bercampur aduk menjadi satu.

__ADS_1


Perlahan tangan kanak memukul kasur, mengeramkan wajah. " Ahk sialan bisa bisanya mereka terlihat menyebalkan."


Tari ingin sekali bangkit, tapi badannya terasa lemah dan tak kuat. " Kenapa aku tak bisa bangkit, hah. Semua gara gara lelaki tidak tahu diri itu. "


Mencoba mengontrol emosi, para suster mulai masuk, mempelihatkan senyuman mereka dihadapan Tari.


"Hai, apa kabar?"


Tari mempelihatkan wajah juteknya, tak suka dan kesal ingin sekali membanting wajah kedua suster yang ia rasa sudah membicarakannya di belakang.


"Waktu jadwal anda makan, ibu Tari. "


Suster itu terlihat begitu santai, membuat Tari semakin tak suka, dengan lancangnya ia mengatakan hal yang memendam pada lubuk hatinya.


"Kalian pasti sudah membicarakan aku kan?"


Nada bicara formal Tari benar benar berubah, terlebih lagi Tari meluapkannya dengan emosi.


"Maksud ibu Tari, apa ya. Kami tidak mengerti, salah satu suster menatap ke arah sahabatnya dengan wajah gelisah dan tak ingin tersalahkan, ada rasa takut. Terlebih lagi dengan nada bicara yang terdengar membentak.


" Saya tidak mengerti sama sekali, Bu Tari."

__ADS_1


Salah satu sahabat suster itu terlihat membela, " ya kami tidak mengerti dengan perkataan ibu.


Hati mereka berdetak tak karuan, melihat wajah Tari memerah, dengan kedua mata yang melotot.


__ADS_2