Bertukar Peran Dengan Istriku

Bertukar Peran Dengan Istriku
Bab 50


__ADS_3

"Ayo katakan? Kenapa masih diam saja. "


Berulang kali sang adik terus menekan perkataan kakaknya, tak perduli jika sang kakak ketakutan dengan penekannya itu.


Bagi Rendy sekarang itu adalah sebuah pengakuan yang sebenarnya dari Tari.


Mengepalkan tangan kanan, hampir saja Rendy melakukan tindakan kekerasan pada sang kakak, karena rasa kesalnya, melihat pesan percakapan Tasya dengan seorang lelaki.


Dimana percakapan itu, menunjukkan bahwa Tasya menyuruh lelaki itu untuk membuat Tari menderita.


Ceklek.


Hampir saja tangan kanan melayang pada pipi kiri sang kakak, pintu kamar Rendy mengeluarkan suara, dimana pintu itu terbuka lebar, sosok Tari kini keluar dengan jalan sempoyongan. " Dimana saya."


Kedua matanya mulai menatap ke arah jalanan, ia melihat tembok yang dirasa tak asing bagi dirinya saat itu.


Tangan kanan Tari perlahan memegang kepala yang terasa berdenyut, ia berusaha berjalan, melangkahkan kaki perlahan demi perlahan dengan tangan kanan memegang tembok.


"Tolong." Tari merasa dirinya sedang di sekap, makanya ia berteriak meminta tolong, memohon bantuan pada orang yang mendengar teriakannya saat itu.


"Tolong."


Terdengar lagi, pada kedua telinga Rendy dan juga Tasya, perminta tolong yang dilayangkan wanita itu, " ahk. Kepala saya sakit sekali. " Mencekram kepala.


Berusaha sekuat tenaga berjalan lagi, sampai Tari terjatuh mengenai atas lantai. Brak ....


Tangan kiri menyenggol sebuah Vas bunga, hingga pecah dan berserakan di atas lantai.


Tari berusaha berdiri kembali, tatapannya terlihat buram, sampai ia susah sekali melihat jalanan yang ia lalui.


Rendy bukan tak ingin menolong Tari, ia berusaha melihat dari kejauhan, takut jika mendekat Tari malah syok dan lari, yang malah membuat tubuhnya semakin drop.


"Tolong."


Sudah berulang kali, sampai Tari kembali pingsan dengan darah yang keluar dari kakinya.


Rendy menatap ke arah Tasya yang masih berdiri dengan penuh keraguan. Menunjuk kakaknya itu." Setelah aku membantu Tari, aku akan menghampiri kakak lagi dan mendengar penjelasan kak Tasya. "


Tasya terdiam, ia tak bisa membantah perkataan Rendy. Tasya selalu kalah jika berhadapan dengan adiknya sendiri, walau ia seorang kakak.


Melemparkan ponsel pada badan Tasya, Rendy pergi untuk membantu Tari.


"Sialan, Rendy selalu seperti itu ketika ada Tari. " Gerutu hati Tasya.


"Tari."


Rendy berusaha membopong tubuh Tari, hingga dimana, " lepaskan saya. "


Rendy mengira jika Tari jatuh pingsan lagi, tapi pada kenyataannya Tari masih sadarkan diri.


Membawa Tari masuk lagi ke dalam kamar, wanita itu berusaha memberontak, padahal tubuhnya begitu lemah.


"Lepaskan."


Rendy baru menyadari jika kaki Tari terluka, " kaki kamu berdarah. " Begitu perhatiannya Rendy, sampai Tasya semakin kesal.

__ADS_1


"Rendy, dia terlalu dibutakan dengan cinta. " Gerutu sang kakak.


Perlahan Rendy merebahkan tubuh Tari di atas kasur, ia berkata, " jangan banyak bergerak, aku akan mengobati luka kamu yang terus mengeluarkan darah ini. "


"Tidak usah, saya ingin pergi dari sini. "


Rendy mengabaikan perkataan Tari, ia fokus mengambil obat p3k, untuk segera mengobati luka Tari.


Sedikit demi sedikit, darah itu tak keluar lagi seperti tadi. " Luka kamu sudah aku obati, sekarang kamu istirahat saja dulu. "


Tari hanya diam, memandangi wajah Rendy, dimana lelaki berotot itu selalu melemparkan sebuah senyuman untuk Tari.


Senyuman yang tak pernah di balas oleh sang pujaan hati.


"Kamu jangan terlalu banyak gerak, aku takut luka kamu malah semakin parah. "


Di nasehati Rendy, Tari terlihat cuek, ia masih benci dengan Rendy yang membawanya pergi ke rumah.


Rumah yang tak ingin lagi Tari datangi.


" Selamat istirahat. "


Rendy ternyata sengaja memberikan suntikan, untuk Tari, agar sang pujaan hati tertidur.


"Kepalaku."


Berulang kali, menguap. Tari berusaha tidak tidur, akan tetapi obat itu terlalu kuat, membuat Tari tertidur.


"Setelah ini, kamu tidak akan bisa lari dari kamarku. "


******


Wanita itu mulai menatap layar ponsel yang dilepar oleh sang adik, " Rendy, dia hampir saja merusak ponselku ini." terlihat ada sebuah retakan kecil pada layar ponsel Tasya.


Tasya berusaha cuek, walau sebenarnya dalam hati begitu kesal. Baru saja membuka pesan, Tasya mendepatkan pesan dari Dea. Dimana sala satu temannya mengirim sebuah berita yang menunjukkan poto Tari.


(Lu, lihat. Ini kan poto Tari. )


Membaca pesan dari sang sahabat, Tasya mulai melihat poto yang dikirim sehabatnya itu.


Dengan begitu detail. " Ahk, benar. Ini poto Tari, dan ia masuk dalam berita orang hilang. "


(Kok bisa si Tari masuk dalam daftar orang hilang, memangnya siapa yang mencari wanita murahan seperti dia.)


Dengan emoji tertawa sang sahabat mengirim pesan.


"Benar apa yang dikatakan Dea, siapa orang yang mencari keberadaan Tari, wanita itu kan tidak punya keluarga hanya anak yatim piatu yang diselamatkan oleh Rendy. "


(Coba kamu cari tahu, tentang kehidupan Tari, saat Rendy di dalam penjara?)


(Baiklah.)


Tak banyak waktu yang lama mencari informasi tentang Tari, (Kamu lihat poto lelaki ini, dia sudah menjadi suami Tari, mereka baru dua minggu menikah siri, dan Tari sudah mengalami keguguran.)


(Sudah aku duga, jika wanita seperti Tari itu, wanita murahan.)

__ADS_1


Tasya meminta nomor telpon lelaki yang masih menjadi suami Tari kepada Dea.


(Coba kamu kirimkan nomor lelaki yang menjadi suami Tari itu?)


(Oke.)


Nomor ponsel berhasil di dapatkan Tasya, tinggal menghubungi lelaki yang menjadi suami Tari.


"Sebentar lagi riwayat Tari akan sirna di tangan adikku, Rendy. Siapa suruh dia datang lagi dikehidupan Rendy, sudah jelas, dari dulu dia itu pembawa sial. "


Tasya mulai mengingat kejadian dimana adiknya masuk ke dalam penjara gara gara menyelamatkan Tari.


"Kak Tasya. "


" Rendy. "


"Jadi, sekarang jelaskan tentang pesan dari ponsel kakak itu. "


"Ahk, baiklah. Karena kamu bersi keras. "


"Asal kamu tahu, kenapa kakak melakukan semua itu, karena kakak sayang sama kamu, kakak tidak mau kamu sengsara hidup bersama Tari, dia itu wanita jahat. "


"Sejak kapan kakak bisa menilai jika Tari itu orang jahat. "


Tasya tertawa, " kamu masih saja bodoh, kamu lihat ini. "


Dea ternyata mengirimkan sebuah poto yang membuat mata Rendy membulat.


"Ini."


"Kamu bisa nilai sendirikan, kakak sudah mencari informasi tentang Tari akhir akhir ini. "


"Tidak mungkin?"


"Masih tak percaya. "


Tari kembali bangkit dari tempat tidurnya, merasakan rasa sakit pada kakinya. Ia berusaha sekuat tenanga, hingga dimana Tari mengintip Rendy sedang mengobrol dengan Tasya.


"Iya, aku tak percaya. "


"Saat kamu di dalam penjara, Tari tidak peduli lagi sama kamu, dia malah menikah dengan lelaki beristri. "


"Itu tidak mungkin. "


"Kenapa tidak mungkin, ini buktiknya. "


Rendy terlihat tak percaya, ia mempelihatkan semua pesan yang dikirim Dea, "Sudah jelas bukti ini nyata, tapi kamu masih mengelak. "


"Tari tidak mungkin melakukan semua itu. "


Rendy tetap bersikukuh, mempercayai Tari, " buka kedua matamu. "


"Apa yang dikatakan kakak kamu itu benar. "


Deg ....

__ADS_1


Tari muncul dari balik pintu kamar Rendy.


__ADS_2