
Ternyata Rendy sudah melepaskan pelukannya, tanpa disadari Tari. Tangan kekar Rendy perlahan memegang pipi kiri Tari, megusapnya pelan lalu berkata. " Apa yang sedang kamu pikirkan?"
Lamunan membuyar, Tari tersenyum lebar, iya memegang punggung tangan lelaki berotot itu. " Saya takut Rendy. Saya masih istri Reza. "
Baru saja Rendy mendapatkan ketenangan, untuk bisa mengontrol emosinya, kini Tari membahas nama Reza lelaki yang menjadi suaminya.
"Tari, di saat momen berdua kita ini, bisa tidak kamu jangan membahas nama itu. Kamu tidak ingin apa, meneruskan impian kita yang sempat tertunda. "
Menghela napas, Tari mengerutkan bibirnya. " Saya tidak bisa, saya sudah mencintai Reza."
Padahal tadi Tari sempat memikirkan dosa yang sudah diperbuat pada Ainun, namun sekarang ia malah berterus terang.
"Kamu harus sadar, suami kamu itu sudah mempunyai istri. "
Tari melepaskan genggaman erat tangan Rendy, " karena dia sudah menyelamatkan saya, dari rasa malu. "
"Hanya itu saja?"
Tari menganggukkan kepala, membuat Rendy semakin kecewa, hatinya merasa sakit.
******
Tasya masih berada di depan jendela, ia menatap pada polisi yang berdiri menunggu dirinya membuka pintu.
__ADS_1
"Apa mereka tahu kalau Rendy menyembunyikan Tari?"
Perasaan Tasya terasa tak menentu, takut dan tak mau terseret dalam masalah. " Rendy, kenapa kamu selalu saja bikin ulah. "
Tasya menghela napas, menenangkan kegelisahan yang kini melanda hati.
"Tenang, tenang. "
Berulang kali, mencoba untuk tenang. Perasaan gelisah itu terus saja menggebu-gebu dalam hati wanita berambut pendek itu.
Pintu kembali diketuk oleh seorang polisi, dimana Tasya terkejut, kedua tangannya bergetar hebat.
Iya tak mungkin menghindar dari masalah yang sedang dihadapi oleh adiknya, Jika ia menghindar begitu saja, kemungkinan dirinya juga akan tersalahkan dan menjadi seorang buronan.
"Permisi."
Saat membuka pintu rumah, sosok lelaki tampan berbaju biru menghampiri Tasya terlebih dahulu, " Maaf sebelumnya. Apa anda yang menelepon saya tadi pagi?"
Tasya mulai teringat apa yang dikatakan lelaki berbaju biru itu, " Jadi kamu yang bernama Reza itu?"
Lelaki tampan berkulit putih itu menganggukkan kepala, memperlihatkan senyuman lebarnya. " Sialan, pantas saja Tari menyukai lelaki beristri ini, dia begitu tampan. "
Bergumam dalam hati. Lamunan Tasya seketika membuyar, " maaf. "
__ADS_1
"Ahk, iya. kenapa?"
" Saya mau tahu dimana keberadaan istri saya?"
Tasya perlahan menatap ke arah wanita yang berada di samping Reza, wanita berkerudung putih dengan baju gamisnya yang terlihat begitu anggun.
"Apa ini istri pertamanya, " mendelik kesal menatap kembali ke arah Reza.
"Istri anda ada di dalam rumah ini. "
Tasya lupa dengan janjinya terhadap Rendy, iya malah mengatakan jika Tari ada di dalam rumah.
"Apa boleh saya menemui istri saya?"
Tasya ternyata terpana akan raut wajah tampan Reza, " Boleh, silahkan duduk!"
Tasya mempersilahkan polisi dan juga Reza masuk ke dalam rumah.
"Silahkan duduk disini, biar saya panggilkan Tari."
Tatapan Tasya tak berpaling kemanapun, Ia tetap menatap ke arah wajah Reza.
Sampai di mana kakinya terbentur pada kursi, Ainun sudah menduga, jika wanita bernama Tasya itu kagum dengan ketampanan Reza.
__ADS_1
"Mm, sebegitunya liatin suami orang. " Sindiran halus dilayangkan Ainun, Tasya yang menyadari akan sindiran istri Reza kini menundukkan pandangan, kedua pipinya memerah.
Tasya terburu-buru pergi dari hadapan orang-orang yang menunggu Tari.