Bertukar Peran Dengan Istriku

Bertukar Peran Dengan Istriku
Bab 68


__ADS_3

"Kenapa tidak bisa hah, cepat. "


Reza perlahan menidurkan Denis di atas sofa. Ia mengambil kunci dari tangan sosok yang mulai ia sebut namanya.


"Andre."


Lelaki berkumis tipis itu tersenyum lebar, " Kakakku yang tampan. "


"Cihh, jangan pernah panggil aku kakak."


Membuang ludah dihadapan Reza.


Andre mendekat, tangan yang terlihat berurat itu menepuk bahu Reza, " masih saja kamu tak menerima aku sebagai adikmu. "


Melepaskan tangan Andre, Reza sedikit menghindar. " Aku sudah peringatkan kamu dari tadi, cepat pergi dari sini. "


Reza mengusir sang adik, menujuk jari tangan pada pintu rumah. " Kenapa diam saja, ayo pergi dari sini. "


Perkataan Reza membuat Andre mengepalkan kedua tangan, kesal tak suka akan bicara sang kakak.


"Baiklah, aku pergi. "


"Silahkan."


Andre pulang dengan wajah merah, seperti udang rebus. Terlihat kemarahan memancar pada sorot matanya, " Andre. "


Membalikkan badan, menatap ke arah Reza, " kenapa?"


"Tolong, jangan pernah menginjakkan kaki kesini lagi!"

__ADS_1


Kesal mendengar hal itu, Andre mulai menarik pintu rumah, namun Reza dengan sigap menahan pintu rumahnya.


"Jangan menutup pintu rumah orang sembarangan. "


Andre memukul pintu rumah dengan keras, membulatkan kedua mata, mendekat pada sang kakak. " Baik kakak. "


Tangan kekar itu kini menjambak kerah baju Andre, " sialan kamu, sudah aku peringatkan beberapa kali. Jangan panggil aku kakak. "


Andre malah melepaskan tangan Reza, menggenggam tangan begitu erat. " kamu harusnya sadar Reza, bagaimana pun. Kita masih sedarah walau beda seorang ibu."


"Sialan, jangan selalu mengatakan hal itu. "


Menghela napas, Reza berusaha mengendalikan emosinya agar tetap setabil.


"Reza, kenapa kamu dari dulu tak pernah menerima aku sebagai adikmu?"


"Sampai kapan pun aku tidak akan pernah sudi menerima kamu sebagai adikku, walau kita masih ada hubungan darah dari bapak kita. "


"Santai saja dulu Reza, tak perlu kamu mengusir adikmu ini. "


"Jangan mengatakan hal yang membuat aku muak. "


"Mm, oke. Aku pergi. "


Langkah kaki Andre kini melangkah pada atas tanah, ia melambaikan tangan pergi dari hadapan Reza.


" Kenapa manusia tidak tahu diri itu, hadir di saat pikiranku sedang kacao, gara gara ibu yang selalu menyatukanku, kini Andre lancang datang ke mari. "


Kesal bukan main, Reza mulai melangkahkan kaki menuju ke mobil, ia melihat sang adik sudah menyalakan motor yang ia sembunyikan dibalik halaman gelap.

__ADS_1


"Dadah, kakak. "


Tak senang dengan raut wajah Andre seperti itu, Reza berusaha cuek dan tak peduli, ia tak ingin menatap lagi anak lelaki yang sudah tak ia anggap sebagai adik.


"Kayla, Kania. "


Membuka pintu mobil, Reza panik, ia tak melihat kedua anak kembarnya di dalam mobil.


"Kayla, kania. Kalian kemana. "


Mengusap kasar wajah, Reza kini berteriak memanggil kedua anak kembarnya.


"Kemana kalian?"


Denis keluar dari rumah, dengan mengucek-kocek kedua matanya, mencari keberadaan sang Papah yang tak ada di sampingnya saat itu.


"Papah."


Reza masih panik, ia berusaha mencari kedua anak kembarnya, berteriak kembali.


Namun tak ada jawaban sama sekali yang ia dengar.


"Papah, kenapa?"


Reza terkejut dengan Denis yang tiba-tiba saja berada di sampingnya, " Denis kamu bangun?"


"Papah sedang apa di luar, Denis takut sendirian dimana kayla dan Kania, kok mereka nggak kelihatan. "


Pertanyaan Denis membuat hati Reza tak karuan.

__ADS_1


"Denis."


Bingung harus menjawab apa?


__ADS_2