Bertukar Peran Dengan Istriku

Bertukar Peran Dengan Istriku
Bab 34


__ADS_3

Saat keluar dari ruangan Tari, Alex tiba-tiba saja berdiri di hadapan, " Hai, bro. "


Ia malah tertawa terbahak bahak, " Lu kenapa tegang gitu. "


Entah sejak kapan Alex sudah berdiri di depan pintu Tari, " Hey. "


Lamunanku membuyar ketika Alex memukul punggung," ditanya malah melamun. "


"Pak Reza. "


"Hey, Tari. Kenapa mukamu merah gitu, matamu lagi basah kayak gitu, habis nangis?"


Tari menundukkan pandangan, ketika Alex menyindirnya. 


Mengusap kedua mata merah, Tari kini tersenyum dengan berkata, " oh ini, aku kelilipan. "


Alex malah sengaja mengulur waktuku, ia memegang dagu Tari dan berkata. " Lu, nggak ngapa ngapain Tari kan?"


Melirik sekilas ke arah Tari, ia mulai merespon perkataan Alex, " Pak, ini berkas penting. Tolong ditandatangani, oh ya. Saya lupa, berterima kasih kepada bapak. "


Mengerutkan dahi ketika Tari Mengatakan kata terima kasih, " untuk?"


Tari  pergi begitu saja, saat aku tanya kata dari ucapan terima kasihnya, sedangkan Alex yang masih berdiri di hadapanku, lini mengedipkan matanya, "cie, kayaknya lu udah bikin si Tari melayang layang. "


Aku mulai mengabaikan perkataan Alex, pergi dari hadapan lelaki itu. Membawa berkas yang entah aku tidak tahu isinya apa, duduk dan melihat. 


Tak ada pesan tertulis pada kertas yang diberikan, semuanya nampak kosong. 


"Dia itu menyebalkan ternyata. "


Ponsel mulai berbunyi, tumben sekali Ainun menghubungiku. " Halo. "


"Halo, papah. Ini Denis, papah, boleh nggak Denis menginap di sana?"


"Halo, sayang. Mm, tumben kamu mau sama papah, kangen ya!"


"Iya, pah. "


"Ya sudah, nanti pulang kerja papah jemput kamu. "


"Yeh, asik. "


Denis terdengar begitu bahagia saat aku memperbolehkannya untuk menginap di rumah. 


Tari sudah pergi terlebih dahulu, membuat aku leluasa untuk menjemput Denis ke rumah Ainun. 


Keluar dari tempat kerja, Alex menghampiriku kembali,  ia merangkul bahu dengan berkata. " Gue dengar, lu mau cerai sama istri lu ya. "


Deg ….


Entah dari mana Alex tahu akan renggangnya rumah tanggaku, " Kata siapa?"


"Ya gue dengar saja kata orang. Benar nggak sih?"


"Nggak benar!"

__ADS_1


Aku mulai menaiki motor bututku, di mana adik memajukan bibirnya. " Kenapa sih lu akhir-akhir ini jutek banget sama gue. "


Aku mengalihkan wajahku, memutarbalikkan motor beranjak pulang. " Heh, Reza. "


Sebisa mungkin aku harus menjauhi Alex, iya terlalu kepo menjadi laki-laki. Ingin selalu tahu urusan rumah tangga orang lain, sedangkan rumah tangganya juga banyak masalah. 


Setelah sampai di rumah Ainun, kedua mataku tertuju pada taksi yang terparkir di rumah Ainun. "Taksi siapa ini?"


Berjalan menatap ke arah depan rumah Ainun, aku melihat sosok wanita sedang memarahi Ibu dari anak-anakku. 


Menyipitkan kedua mata, melihat postur tubuh wanita itu dari arah belakang, membuat aku sepertinya. 


"Apa itu, Tari?"


Berjalan untuk melihat pasti siapa wanita itu, takut jika nantinya aku salah menduga, yang ujungnya nanti menjadi sebuah fitnah. 


Saat berjalan begitu dekat pada teras depan rumah Ainun, wanita itu ternyata adalah Tari. 


Iya menunjuk-nunjuk Ibu dari ketiga anak-anak , mendengar sebuah hinaan yang tak harus ia lontarkan pada Ainun. 


"Mbak, saya tahu jika Mbak itu tidak suka kalau saya menikah dengan suami Mbak. sampai Mbak terus menghasut Mas Reza agar tidak menafkahi dan juga tidak menghargai saya sama sekali sebagai istrinya."


Ainun melipatkan kedua tangannya membulatkan kedua mata dengan berkata," Memang iya aku tidak suka kalau kamu menikah dengan Mas Reza, tapi tidak ada niatku dari dulu menghasut Mas Reza."


"Lantas. Kenapa Mas Reza seperti itu kepada saya? Sebaiknya Mbak mengaku saja kepada saya, jangan bohong, karena saya tahu kalau mbak itu sirik kepada saya. "


Ainun malah tertawa terbahak-bahak mendengar tutur kata yang terlontar dari mulut Tari.


" kamu bilang apa tadi?" mendekatkan telinga pada bibir Tari, membuat wanita itu berteriak, " sirik mbak, makanya punya telinga itu dipakai. Jangan buat pajangan doang. "


Aku melihat Ainun menghela napas, dia mulai menjawab perkataan Tari, " untuk apa aku sirik pada kamu? Seorang pelakor, atau bisa dibilang wanita murahan. Rendahan. "


Aku terkejut melihat tamparan keras dilayangkan oleh Tari, pada Ainun. " Kenapa kamu tampar aku?"


Telunjuk tangan dari mulai menunjuk wajah Ainun kembali, aku yang ingin memisahkan mereka sempat ragu. 


"Itu tamparan bagi wanita munafik seperti kamu, Mbak Ainun!"


Ainun kini menggenggam telunjuk jari tangan Tari, ia memutarkan jari tangan itu. " Ahk, sakit."


Plakk ….


Ainun ternyata tak tinggal diam, ia menampar balik Tari dengan begitu keras. " ini tamparan untuk wanita tidak tahu diri seperti kamu. "


Melepaskan telunjuk jari tangan yang Ainun genggam erat itu, Tari yang terlihat begitu lemah, memberontak mendekatkan dirinya pada Ainun. " Kamu yang tak tahu diri. "


Emosi istriku terlihat meluap-luap, Tari kini mencekik leher Ainun. " Rasakan ini. "


Ainun kembali melawan, iya tak ingin kalah dengan Tari, menjambak rambut istriku.  Menendang lututnya, Tari malah terjatuh. 


"Bagaimana sakit kan. Harusnya kamu itu tahu diri.  Terima nasib kamu yang sekarang, bukannya itu yang kamu inginkan menggantikan aku sebagai istri Mas Reza. Dan sekarang kamu merasakannya kan, asal kamu tahu apa yang kamu rasakan sekarang itu sama seperti aku dulu, Mas Reza ya memang begitu, Itulah sifat aslinya."


"Ahk, bohong. Mbak Ainun jangan memfitnah Pak Reza, waktu saya bertemu dengannya dia tidak seperti itu, dia laki-laki baik. "


Ainun menutup mulutnya menahan tawa, " baik, karena ada maunya. Setelah dapat muncul sifat aslinya. "

__ADS_1


Mendengar tutur kata Ainun yang dilontarkan pada Tari, membuat aku benar-benar tersindir saat itu, sebagai seorang lelaki aku seperti tak ada harga dirinya di mata wanita.


" kalau kamu memang tidak percaya, silahkan kamu tanya pada ibunya?"


"Apa maksud mbak, berkata seperti itu. Mbak nyuruh saya tanya sama orang mati! Saya ini masih waras Mbak, saya bukan orang gila!"


Sepertinya Ainun begitu tampak dengan hadirnya Tari ke rumahnya, sampai ia membahas tentang dan kelakuanku selama menjadi suaminya. 


" Sebaiknya kamu cepat pulang dari sini.  Aku malas meladeni kamu. "


" Aku tidak akan pergi, sebelum Mbak, mengakui kesalahan Mbak Ainun yang sudah menghasut Pak Reza."


"Tidak ada yang menghasut aku. "


Deg …. 


Tari sepertinya terkejut dengan kedatanganku, ia membalikkan badan, menatap ke arahku dengan kedua matanya yang membulat," Pak Reza, ee. Sejak kapan anda ada disini."


"Kamu masih tanya, sejak kapan aku ada disini. Hey, Tari. Aku ingatkan lagi pada kamu, Ainun tidak pernah terlibat dalam urusan rumah tangga kita, jadi jangan salahkan dia. Kamu yang harusnya berpikir, kamu yang sudah memaksa aku menikahi. "


"Pak Reza, saya …."


Tari mulai menyentuh tanganku, namun aku yang tak suka dan jijik padanya. Kini menghindar, berjalan ke arah Ainun. 


"Pak Reza. "


Aku mulai bertanya kepada Ainun, " Mana Denis?"


" Mau apa kamu menanyakan anakku,  mas!"


"Denis ingin bertemu denganku. "


Tiba-tiba suara anak pertama yang selalu aku nantikan, setelah pulang untuk bekerja berlari keluar rumah berteriak memanggil. " Papah. "


Terlihat jika Ainun sedikit menjauhkan anakku, " Denis kamu jangan kesini ya sebaiknya kamu ajak main adik-adik Kamu di rumah. "


Denis tak mau pedulikan perkataan Ainun, anak Pertamaku itu mendekat lalu memeluk tubuhku ini, " papah, Denis kangen sekali sama papa. "


Aku memeluk erat tubuh anak pertamaku, " Papah juga kangen banget sama Denis. "


Ainun memalingkan wajah, ya terlihat menghindari kesedihannya.  Saat Denis merindukanku dengan menangis memeluk tubuhku ini. 


"Papah, jangan pergi terus, Denis ingin kita pulang ke rumah yang dulu. Yang biasa kita kumpul lagi bersama. "


Aku mulai melepaskan pelukan anak pertamaku. " Iya, sebulan lagi papa akan ajak kalian pulang lagi ke rumah.  Biar kita ngumpul lagi. "


Tari mendekat ke arahku, ia mendorong tubuh Denis, membuat Ainun yang berada di belakangnya kini memarahi Tari, " Kamu jangan berani menyakiti anakku. "


Aku kesal dengan tingkah dari yang seperti anak kecil, menarik tangan wanita itu. 


"Papah, siapa tante ini?"


Pertanyaan Denis membuat aku dan Ainun saling menatap satu sama lain. 


Dimana Tari melepaskan tanganku,  mendekat ke arah Denis. Membukukan badan, lalu menjawab. " Saya ini mama kedua kamu. "

__ADS_1


"Tari."


Kesal dengan perkataan Tari, aku menarik kembali tangannya, membawa dia pergi dari rumah Ainun. 


__ADS_2