Bertukar Peran Dengan Istriku

Bertukar Peran Dengan Istriku
Bab 70


__ADS_3

Terkejutnya Reza, ia membulatkan kedua mata, setelah membaca surat yang tergeletak di atas meja.


Meremas surat itu, membuat hati Reza kesal, " bagaimana bisa si kep*r*t Andre itu, membuat surat tak berguna ini. "


Menghela napas, Andre berusaha tetap tenang tidak terlalu memikirkan surat itu, ia membuangnya begitu saja pada tong sampah.


Dreet ....


Ponsel berbunyi, membuat Reza melihat isi pesan yang datang. ( Hai kakak, bagaimana dengan isi surat di dalamnya, pasti menarik untuk dibaca.)


Ingin membalas tapi Reza tahan, karena jika ia balas kemungkinan besar, Andre akan seenaknya.


(Reza.)


Membelokir nomor Andre, Reza tak ingin berurusan dengan adiknya lagi. Apalagi sampai mengingat masa lalu tentang ibu dan ayahnya.


"Mama."


Reza terkejut dengan suara Denis, memanggil sang mama, membuat ia berlari. Menaiki anak tangga.


"Mama."


Reza berlari menuju pintu kamar, setelah mendengar suara tangisan Denis.


Melihat anak itu menitihkan air mata sembari mengusap-ngusap kedua matanya.


Berjalan memanggil-manggil sang mamah, Reza berlari menatap Denis yang terus menangis, membuat dia memeluk anak pertamanya itu.

__ADS_1


"Denis. Kamu kenapa, nak?"


Reza perlahan mengusap rambut anak pertamanya itu, melihat air mata yang terus mengalir mengenai pipi Denis membuat Reza merasa tak tega.


Terlebih lagi, ia terus memikirkan keadaan Ainun yang berada di rumah sakit. Dimana sang istri tak ada yang menemani.


" Papah, kemana mama?"


Duduk di atas lantai, kedua tangan kekar Reza mulai mengusap air mata yang tak henti keluar dari kedua mata anaknya itu.


"Papah, mana mama?"


Denis terus memanggil- manggil sang mama, menekan terus menerus pertanyaan dihadapan sang papah.


"Mama kan lagi di rawat!"


Denis memajukan kedua bibirnya, dia tampak nggak puas dengan jawaban yang terlontar dari mulut sang papah.


Menghela napas berusaha tetap tenang, menghadapi anak pertamanya itu," Papah jahat, papah bohong. "


Entah kenapa Denis bisa berbicara seperti itu, padahal Reza sudah berusaha membujuknya dengan baik.


Menempelkan telunjuk jari tangan pada bibir anak pertamanya itu, Reza berusaha menasehati Denis. " Denis, papah nggak bohong. Papah berkata jujur."


"Mm, jujur?"


Kenapa bocah sekecil Denis bisa merasakan, kalau sang papah sedang berbohong. " Denis. Sudah ya jangan menangis lagi, papah besok belikan kamu eskrim, kamu mau. "

__ADS_1


Reza berusaha merayu anak pertamanya, agar menurut. Namun yang ia dengar malah tangisan yang semakin keras.


"Nggak mau, papah bohong."


"Denis, kok malah makin keras nangisnya. " Bentak Reza, yang tak sabar dan tak kuat mendengar tangisan anak pertamanya itu.


"Papah jahat. "


"Denis." Menarik tangan anak pertamanya itu, terlihat jika Reza tak bisa mengendalikan emosi.


"Kamu mau nurut sama papah atau tidak, hah."


Kesal karena tak bisa membuat Denis diam, Reza kini memukul kaki anak pertamanya yang masih kecil itu.


Amarah menggebu pada hati Denis, emosi mereda tak bisa ia kendalikan lagi. " Papah. " Denis menangis dengan berteriak, merasakan rasa sakit pada betis kakinya.


"Papah, sakit."


"Kamu ini, hah. Papah sudah bilangin sama kamu, nurut. "


Kayla dan Kania kini bangun dari tidur mereka, keduanya melihat apa yang dilakukan sang papah.


" Papah. "


Berteriak, memanggil sang papah. Untuk menghentikan aksi yang tak pantas dilakukan ayah kepada anaknya.


Tangisan Denis tiba tiba berhenti seketika, dimana anak pertamanya itu tergeletak di atas lantai.

__ADS_1


"Denis."


Sontak Reza terkejut.


__ADS_2