Bertukar Peran Dengan Istriku

Bertukar Peran Dengan Istriku
Bab 53


__ADS_3

Tari menggeserkan tubuhnya, menjauh dari hadapan Rendy. Ia takut jika lelaki berotot yang berada dihadapannya macam macam." Mau apa kamu?" Membentak Rendy, karena rasa takutnya Tari.


Perlahan Rendy tersenyum dihadapan Tari, membuka kain yang menempel pada tubuhnya. " Apa yang mau kamu lakukan?" pertanyaan Tari, tak mendapatkan respon sama sekali dari Rendy.


Berulang kali Tari menghindar dari tatapan Rendy, ia berusaha bangkit, namun tangan Rendy malah menahan kedua tangan Tari. " Mau kemana kamu? Sekarang kamu berada di genggamanku, jangan berharap kamu menolak keinginanku sekarang. "


Tari berusaha mengerahkan tenaganya. Untuk bisa menghindar, ia berusaha menggerakan kakinya juga. Untuk berjaga jaga, agar bisa menendang perut Rendy.


"Rendy, cepat menyingkir, atau aku akan berteriak. " melayangkan sebuah ancaman tapi tak berpengaruh sama sekali pada sang tuan rumah.


Lelaki berotot itu, mengusap rambut panjang milik Tari.


Tari yang berusaha menghindar membuat


Rendy semakin sengaja melakukan semua keinginannya, ia mendekatkan wajahnya pada wajah Tari. " teriak saja, tidak akan ada orang yang peduli. "


Saat tubuh Rendy semakin dekat, membuat posisi yang pas untuk Tari, wanita itu mencari kesempatan, menendang sesuatu yang berharga milik Rendy, brak.


"Ahk."


Rendy yang kesakitan, malah melompat, dan tubuhnya terkena meja hingga terguling.


Bangkit, Tari mulai kabur dari hadapan Rendy, " kemana kamu. " Mencoba memaksakan diri, walau sedikit meringis kesakitan.


Tari mempelihatkan rasa takutnya, ia menatap wajah Rendy yang terlihat marah besar padanya.


" Tari."


Teriakan Rendy, membuat Tari tetap fokus pergi, Rendy yang tak mau melihat kepergian Tari, kini berteriak kembali."Jangan pergi. "


Mengabaikan kemarahan Rendy, Tari berusaha membuka pintu kamar. Berulang kali, menekan clop pintu. Ternyata Rendy sudah mengunci rapat rapat pintu kamarnya, ia sudah tahu, akan ada hal yang terjadi.


"Sialan, terkunci lagi. " Menggerutu kesal, menendang pintu kamar dengan kaki Tari, tak terbuka juga.


Mencoba mendobrak, namun tetap tak bisa. " ahk."


Sebelum Rendy bangkit dari rasa sakitnya, Tari kini mencari kunci kamar Rendy, di mana lelaki berotot itu memperlihatkan barang yang sedang dicari oleh Tari.


"Kamu mencari ini. "


Membalikkan badan, tatapan rasa kesal diperlihatkan Tari, wanita itu mengepalkan kedua tanganya. Sedangkan dengan Rendy, lelaki berotor itu malah sengaja menggantungkan kunci itu pada tangannya. Iya masih duduk dengan rasa sakit akibat tendangan dari Tari.


"Kembalikan kunci itu. " Meminta kunci pada Rendy, dimana ucapan Tari diabaikan begitu saja oleh Rendy, lelaki berotot itu sengaja membuat Tari untuk segera mendekat ke arahnya. Agar Rendy leluasa meluapkan keinginan dan juga hasratnya.


" Jika kamu mau kunci ini cepat ambil ke sini," Pinta Rendy, membuat Tari ragu. " Ayo ambil, kenapa diam saja, bukannya kamu mau pergi dari rumahku, meminta tolong pada suamimu yang tak berguna itu. "


" Jangan asal bicara kamu ini, cepat lemparkan kunci itu ke sini. "


"Tidak bisa, kamu harus menghampiriku saat ini juga, kalau kamu mau kunci di tanganku ini. "

__ADS_1


Tari berusaha memberanikan diri melangkahkan kaki, walau perlahan demi perlahan, untuk bisa mengambil kunci yang menggantung pada tangan Rendy, saat berhadapan dekat dengan Rendy, Tari kini meraih kunci itu dengan tangan kanan.


Dengan akal licik Rendy, Rendy malah sengaja membuat Tari terjatuh, wanita itu tersungkur, wajahnya mengenai dada bidang Rendy.


" Wah, kamu nakal juga, Tari. " terburu-buru bangkit, menghindari Rendy. Tari mulai berdiri lagi, ia menghela napas untuk segera mengambil kunci.


"Kamu tidak bisa mengambil kunci ini, owh. Suguh disayagkan. "


Perkataan Rendy membuat Tari semakin kesal, wanita itu menginjak betis kiri Rendy.


" Ahk. "


"Sakit."


Rendy berusaha menahan rasa sakit atas perlakuan Tari, ia menarik kedua kaki Tari hingga wanita itu terjatuh.


"Ahk."


"Sakit."


Tari dengan sekuat tenaga berusaha menghindar dari, pelukan tangan Rendy. Ia mencari kesempatan di saat dirinya memberontak, untuk mengambil kunci yang berada pada tangan Rendy.


"Tidak bisa. "


"kembalikan kunci itu. "


"Ternyata kamu ini lemah. "


Rendy semakin memperlihatkan kekuatannya sebagai lelaki, menekan tubuh Tari agar tidak kabur dari hadapannya.


"Kamu mau pergi kemana pun, tidak akan bisa. "


Mencoba memberontak kembali, Tari tetap tak bisa lepas dari genggaman Rendy. " Lepaskan."


Rendy mulai melayangkan aksinya pada sang Pujaan Hati, ia dengan segaja dan penuh napsunya kini merobek baju Tari. Beberapa kali, " apa yang kamu lakukan, jangan gila Rendy, saya sudah mempunyai suami. "


Rendy malah tertawa mendengar perkataan Pujaan Hati," aku tak perduli, jika kamu sudah mempunyai seorang suami, yang aku inginkan sekarang, aku ingin menikmati semua yang belum aku nikmati dari diri kamu. "


"Bodoh, jangan gila kamu. Saya tak mau. "


" walau kamu tetap menolak, aku akan melakukannya sendiri, agar kamu tahu. Aku begitu sangat mencintai kamu. "


" Saya tak sudi. "


Berusaha memberontak, namun tenaga Tari tak cukup untuk melawan Rendy, karena tenaga lelaki itu begitu kuat, membuat kekuatan Tari melemah.


"Masih mau memberontak silahakan. "


Rendy malah semakin sengaja, ia merobek rok yang dipakai Tari. " Rendy hentikkan. "

__ADS_1


"Aku tidak akan menghentikan semua ini, aku mengiginkannya Tari. "


Tari benar-benar dalam bahaya saat ini, ya tak bisa berbuat apa-apa, tubuhnya terlalu lemah untuk memberontak kembali.


Tak ada yang sudi menolongnya saat ini, " saya mohon jangan lakukan semua ini. "


Rendy tak memperdulikan perkataan Tari, ia sengaja menahan rasa sakit akibat pukulan yang dilayangkan, bangkit dengan memaksa Tari untuk berdiri.


Tubuh lemah Tari, membuat Rendy dengan leluasa, melakukan apa saja pada Tari.


"Jangan sentuh saya. "


Tari tiba-tiba saja menangis, iya mengusap-ngusap kedua air matanya, di mana Rendy tak ada rasa tega sedikit pun dengan tangisan yang diperlihatkan oleh Pujaan Hati.


"Kumoho jangan. "


Melemparkan tubuh Tari pada ranjang tempat tidur, Rendy mulai menyentuh setiap inci tubuh wanita yang ada di hadapannya.


"Saya tidak mau. "


"Kenapa tidak mau, bukannya dulu kamu menikmati setiap permainan kita. "


"Please, lepasakan, jangan sentuh. "


Rendy sedikit kesal dengan tangisan dari Tari, ia menghela napas, baru saja membuka semuanya. Tari malah ketakutan.


Menekan kedua tangan Tari, " kamu lihat aku?"


Tari memalingkan wajah, ia tak mau, menatap Rendy sedikit pun. " Tatap mataku sekarang juga. "


"Saya tidak mau. "


Semakin Rendy memaksa semakin Tari menangis kencang. " Lepaskan, saya tidak mau. "


Rendy tak mungkin melepaskan Tari begitu saja, sedangkan napsunya sekarang sedang mengebu gebu dan tak bisa ditahan.


"Nikmatin saja, bayangkan masa masa kita dulu. "


Berhasil melumpuhkan Tari yang berpura pura seperti menolak, akhirnya Tari juga menikmati permainan Rendy.


"Jangan."


Berteriak pelan, dan beirama sahdu, Rendy malah tersenyum bahagia. " Sudahlah nikmati saja, kamu juga menyukainya kan?"


"Rendy. Kamu baj****!"


Rendy malah semakin segaja, mengencangkan permainnya sampai dimana. Suara gedoran pintu mengganggu aktifitasnya saat ini.


"Siapa lagi?"

__ADS_1


__ADS_2