
"Gimana Denis?"
Tari kembali lagi bertanya pada Denis, anak pertamaku mulai melihat ke arah Ainun, perlahan ia melirik ke arahku juga.
" kalau Denis ikut Tante, berarti mama tetap di sini sama Kayla dan Kania?"
Tari begitu lembut terhadap anakku, ia memegang kedua pipi gembul milik Denis, " jadi gimana, pilih mama atau papah?"
Aku berusaha menghentikan pertanyaan Tari, namun wanita itu malah, membulatkan kedua matanya ke arahku.
Denis yang menundukkan pandangan, kini menjawab, " karena Denis mau sama papa. Ya udah Denis ikut dulu saja sama papa, tapi nanti Papa janji ya bakal ajak mama pulang lagi. "
Semua mata memandang ke arahku, membuat aku hanya bisa menjawab. " Mm. Papah nggak bisa janji, gimana nanti saja. Kamu tahu sendirikan, papah itu sibuk. "
"Oke."
Aku mulai meminta izin kepada Ainun untuk membawa Denis menginap di rumah, " Ainun, aku izin bawa Denis. "
Ainun hanya menganggukkan kepala membuat aku berkata lagi, " kamu tidak keberatan kan."
"Tidak. Untuk apa aku keberatan bukannya kamu itu Papanya. "
Aku mulai menyuruh anak pertamaku untuk mencium punggung tangan Ainun. " salam dulu sama mama sayang. "
"Iya."
Memegang tangan Denis, membawa dia menaiki motor bersama dengan Tari. Sampai di mana kedua anak-anakku datang keluar dari dalam rumah, " Papah, papah. "
"Kayla, Kania. "
Ainun yang melihat anak-anakku terus menangis memanggil namaku, membuat ia menggendong dan menutup pintu rumah.
Denis yang duduk di depan bersamaku kini berucap, " Kasihan sekali ya Kayla dan Kania, mereka juga pasti ingin ikut bersama papa."
Aku sedikit mengabaikan perkataan Denis, karena memang hatiku ini terasa sakit ketika melihat tangisan kedua anak-anakku yang ingin ikut bersamaku.
Tari mulai mencolek bahuku, lalu berkata. " Ayo pak, jalan. "
Aku mulai menyalakan mesin motor kembali, pergi dari hadapan Kayla dan juga Kania yang terus merengek meminta ingin ikut bersamaku.
Di dalam perjalanan hatiku benar-benar sakit, aku baru merasakan perpisahan. Antara Aku dan juga Ainun, akan menjadi luka untuk ketiga anak-anakku.
Menghela napas di mana Tari berteriak. " Awas."
__ADS_1
Aku mulai sadar lalu menghentikan motor, hampir saja aku lepas kendali karena memikirkan kedua anak-anakku yang masih bersama Ainun.
"Kamu ini gimana sih, kalau aku kenapa kenapa gimana?"
Tari terus mengoceh membuat kepalaku terasa pening, " Bisa diam tidak. "
Sontak bentakanku membuat Denis tiba-tiba saja menangis, " papah, marahin Denis. "
Aku lupa menahan emosiku sampai di mana. Denis merasa ikut terbentak olehku.
" Papa tidak bermaksud membentak Denis, papa cuman mengingatkan Tante Tari saja agar tidak banyak bicara, maafin Papa, ya Denis. "
"Iya, pah."
Aku melihat pada kaca spion Tari melipatkan kedua tangannya, bibirnya nampak mengkerut. IYa seperti kesal dengan bentakanku.
Mengatur napas, agar nada suaraku setabil, berusaha berucap lembut dihadapan Tari. " Tari, pegangan tangannya ya. "
Karena di hadapanku ada Denis aku berusaha menurunkan rasa ego, begitu pun dengan amarah yang menggebu gebu, takut jika nanti Denis menangis lagi.
"Oh gitu ya, pah. "
Mesin motor mulai aku nyalakan lagi, perjalanan cukup lumayan melelahkan.
Sampai di tempat tujuan, aku mulai memarkirkan motor di depan rumah, menyuruh Tari dan Denis turun.
Entahlah dulu dia begitu terlihat anggun dan dewasa, tapi sekarang. Dia malah seperti anak kecil banyak sekali maunya, terkadang merengek ketika marah.
"Tari."
Aku mencoba memanggil wanita itu, namun ia tak memperdulikan panggilanku. " Tari. "
Padahal aku ingin menyuruh wanita itu untuk membawa Denis masuk ke dalam rumah, tetapi ia seakan tak peduli, padahal dirinya sendiri yang membuat dua pilihan untuk anak pertamaku.
Denis menunggu aku turun dari motor, dia berdiri, memperlihatkan raut wajah sedihnya.
"Tari."
Langkahku semakin cepat mengejar Tari. Setelah turun dari motor, " kamu ini lupa ya, kenapa kamu abaikan Denis. "
Tari seperti orang yang sedang menahan rasa kesal, kedua matanya membulat. Pipinya memerah, ya pergi dari hadapanku menghampiri Denis.
"Denis, tante lupa. "
__ADS_1
Raut wajahnya seketika terlihat begitu manis di hadapan anak pertamaku, ya benar-benar wanita yang munafik, bisa menyembunyikan rasa kesal dan juga ketidaksukaannya.
Menuntun Denis masuk ke dalam rumah, anak pertamaku tiba-tiba saja menghentikan langkah kakinya, ia melepaskan tangan Tari, berdiri tegap menatap ke arah Tari dengan begitu serius.
" Kenapa Papa tidak mengantarkan Tante ini pulang, kenapa Tante ini malah ada di rumah ini?"
Tari mulai menatap ke arahku, dimana ia kebingungan menjawab perkataan Denis. Aku terburu-buru berjalan menghampiri anakku dan juga Tari. " Denis. "
"Iya pah. "
Memegang kedua bahu anakku, membungkukkan badan, dihadapannya " Denis, Tante Tari ini, memang sekarang tinggal bersama papa. kebetulan ada satu proyek di kantor yang harus Papa selesaikan bersama Tari di rumah. "
"Oh, gitu ya pah. Jadi Tante Tari nanti nginap disini?"
Aku menganggukkan kepala untuk menyelesaikan pertanyaan anakku, " Ya sudah sekarang kita masuk ke dalam rumah ya, nantu Tante Tari bakal buatin kamu makanan yang enak."
Tari malah membulatkan kedua matanya saat aku berkata seperti itu pada Denis, " yeh asik makan. "
Denis berlari masuk ke dalam rumah, sekarang tinggal ada aku dan juga Tari di luar rumah.
"Pak, Kenapa anda tidak jujur saja pada anak anda Kalau saya itu istri kedua. "
"Tari, jangan ngaco kamu, kalau aku mengatakan semua itu bakal ada pertanyaan-pertanyaan dari Denis, yang akan membuat aku bingung untuk menjawabnya. "
"Bingung, tidak ada yang membingungkan menjawab perkataan anak kecil seperti Denis, kamu saja yang terlalu memusingkan semua hal. Anak seperti Denis itu harus diberitahu agar dia mengerti. "
"Cukup, jangan mengajarkan aku tentang hal itu. "
Aku mulai masuk ke dalam rumah, di mana Tari terus mengoceh, " Pak. saya ini istri bapak dan saya juga perlu pengakuan dari anak-anak bapak, begitupun dengan istri bapak saya tidak ingin ...."
Aku mulai membalikkan badan menghentikan perkataan Tari, " Cukup, jangan terus mengoceh, aku tidak suka dengan ocehanmu yang membuat Kepalaku benar-benar pusing. Sebaiknya kamu pergi untuk segera memasak makanan untuk anak pertamaku. "
"Aku tidak mau, kamu saja yang masak sana."
Tari malah pergi dari hadapanku begitu saja, wanita itu malah semakin berani kepadaku," Tari. "
Memanggilnya berulang kali tapi Tari mengabaikanku.
"Papah, makanannya mana. "
Denis kembali merengek, memegang tanganku, ia mengusap perutnya mungkin keroncongan.
"Kamu tunggu disini ya, papah bakal buatin makan untuk kamu nak. "
__ADS_1
"Ya, Denis kira makannya sudah jadi. Ternyata mau dibuat. "
"Kamu tunggu sebentar dulu ya sayang, sebentar tak akan lama kok. "