
"Mas Reza. "
Belum Reza mengangkat panggilan dari Tari, sosok Ainun kini muncul di hadapannya, " Ainun." Reza mengabaikan panggilan telepon dari Tari.
Ia menaruh ponselnya pada saku celana. Tersenyum lebar pada sang istri yang terus berjalan menghampirinya.
"Kenapa kamu kesini?"
Pertanyaan Ainun, membuat kedua pipi lelaki berbadan kekar itu memerah, Reza telihat malu pada dirinya sendiri, saat berhadapan dengan sang istri yang ia abaikan di ruangan Tari sejak tadi pagi." Ainun, aku hanya. "
"Hanya apa?"
Belum apa apa, Ainun sudah memotong pembicaraan Reza yang belum selesai. Terlihat sekali jika Ainun marah dan kecewa pada sang suami.
"Kamu dengarkan dulu sampai selesai, jangan dulu menyela perkataanku. "
Reza berusaha meminta pengertian pada istrinya, untuk memberi kesempatan agar ia bisa berbicara dengan baik.
"Ya sudah ayo katakan, aku tidak banyak waktu untuk kamu, mas. "
Dengan melipatkan kedua tangan, Ainun mulai mendengarkan perkataan suaminya.
Deg ....
Jantung Reza berdetak tak karuan, saat mendengar ucapan Ainun yang terdengar begitu jutek.
"Begitu kesalnya Ainun kepadaku, sampai ia terlihat acuh. Menatapku pun seakan enggan " Gumam hati Reza.
"Malah diam, ayo katakan."
Ainun terlihat menatap jam tangannya." Aku beri waktu limat menit untuk kamu ngomong.
Mendelik ke arah Reza, Saking kesalnya Ainun, membuat ia malas menatap lelaki yang masih bersetatus suaminya sendiri.
"Baik aku akan katakan sekarang. "
Mengatur napas, mulut mulai terbuka, saat ingin mengatakan semua yang terpikirkan pada kepala Reza.
" Aku. "
Di saat keduanya sedang serius, suara ponsel Reza kembali berbunyi, membuat ia kesal dan ingin membatingnya. " Si Tari ini, dia itu selalu saja menganggu di saat aku sedang serius bersama dengan Ainun. "
" Siapa mas, apa itu Tari?" Tebakan Ainun selalu benar, tak ada yang salah.
Dengan terpaksa Reza menjawab dengan jujur "Iya. Tari dari tadi menghubungiku. Tapi, kamu jangan kuatir aku tidak ingin berurusan lagi dengannya. "
Kedua pipi Reza terlihat memerah, ia tak ingin momen dirinya meminta maaf pada Ainun terganggu.
"Kamu angkat saja, takutnya dia kenapa kenapa, karena kamu menghampiriku. "
Perkataan Ainun membuat Reza mematikan ponselnya, menyimpan ponsel itu pada saku celana, Reza mulai fokus pada sang istri.
"Tidak Ainun, aku tidak akan menganggkat panggilan telepon dari Tari, saat aku bersama kamu sekarang. "
Perlahan berjalan, lelaki berbadan kekar itu mendekat ke arah istrinya," ada apa, mas?"
Reza tak menjawab perkataan istrinya, kedua tangan lelaki berbadan kekar itu mulai meraih tangan Ainun. Apalagi dengan tatapan mata Reza, seakan mengisyaratkan bahwa ia sudah yakin dengan pilihannya.
Ainun malah melangkah mundur, mencoba melepaskan tangan suaminya. " Mas, lepaskan tangan kamu ini."
Reza tak mempedulikan perkataan Ainun, ia memegang erat tangan istrinya.
"Mas Reza. "
Reza tak mengeluarkan suara sedikitpun, saat Ainun terus memanggil namanya, tatapan mata Reza masih fokus menatap wajah Ainun.
"Mas, kamu ini kenapa?"
Ainun berusaha menghindari tatapan dari kedua mata suaminya, ia masih merasakan rasa kesal karena Reza, tak sigap saat mengejar dirinya. Reza malah begitu lama berada di ruangan Tari.
" Maafkan aku. "
Pada akhirnya perkataan maaf itu, terlontar dari mulut Reza, " Ainun, maafkan aku. "
Ainun melihat dari kedua mata suaminya, keluar rintikan air, sampai mengenai kedua pipi Reza.
"Maafkan aku. "
Berulang kali, sampai Reza melepaskan kedua tangan istrinya, tubuhnya terkurai lemah di atas tanah, bersujud meminta maaf berulang kali.
"Maafkan aku. "
Ainun menatap situasi di parkiran begitu banyak orang, membuat ia berusaha menyuruh suaminya untuk berdiri lagi.
"Mas, kamu ini ngapain sih pake bersujud segala. "
Bentak Ainun.
Reza tak memperdulikan perkataan Ainun, yang ia pedulikan adalah jawaban bahwa istrinya sudah memaafkan Reza.
" Aku tidak akan bangkit dari sujudku saat ini. " Reza tak peduli, ia ingin mendengar Ainun memaafkannya.
" Mas Reza kamu jangan gila di sini itu banyak orang, nanti kamu malu sendiri." Ucap Ainun, berusaha membantu suaminya untuk berdiri.
"Kenapa malu, aku benar-benar minta maaf kepada kamu. Apa kamu mau memaafkanku Ainun. "
Ainun belum juga menjawab permintaan maaf dari suaminya, " sebaiknya masalah ini kita bicarakan saja di rumah. Aku tidak mau orang-orang mengetahui masalah rumah tangga kita. "
Reza tetap ingin mendengarkan bahwa istrinya sudah memaafkan perbuatannya di depan banyak orang," Aku tidak akan berdiri sebelum kamu memaafkanku, Ainun. "
Ainun merasa bingung saat itu, dengan terpaksa ia memaafkan suaminya.
__ADS_1
"Bagaimana Ainun?"
Menghela napas, " aku memaafkan kamu mas, tapi .... "
"Tapi kenapa? Apa cara meminta maafku kurang?"
"Bukan itu!"
"Lantas."
"Kamu harus berdiri, kita pulang sekarang. "
"Tapi, aku ingin jawaban dari kamu. Ainun. Sekarang juga, bukan di rumah. "
Ainun memukul jidatnya, " baiklah, mas. Aku maafkan kamu. "
Reza malah sengaja, berpura pura tak mendengar permintaan maaf dari istrinya.
"Aku nggak dengar jawaban kamu Ainun. "
Ainun menghela napas, memegang dada bidangnya. " mas, kamu ini bikin aku malu saja. "
"Jadi bagaimana istriku, kamu sudah memaafkan suamimu yang banyak salah ini?"
"Iya mas, aku sudah memaafkan kamu!"
"Nggak dengar sayang?"
"Aku sudah memaafkan kamu?"
"Tetap tidak dengar sayang?"
"Ya ampun mas, kamu ini budek ya. "
Pada akhirnya Ainun menarik telinga suaminya dengan berkata, " Aku sudah memaafkan kesalahan kamu, mas. "
Semua mata pada akhirnya memandang ke arah Ainun yang berteriak, membuat Reza bangkit berdiri. Membawa istrinya masuk ke dalam mobil.
Setelah keduanya duduk, Reza berucap sembari menatap ke arah istrinya. " Makasih ya sayang. "
"Kamu gila ya mas, kamu malu maluin. "
"Ini bukti bahwa aku benar benar minta maaf pada kamu Ainun. "
Ainun baru terpikirkan akan perkataan Reza, " Benar juga ya. "
"Jadi kamu sudah memaafkan aku, Ainun. "
"Oh tidak segampang itu. "
"Apa?"
Reza terkejut dengan jawaban berbeda dari istrinya. " Loh bukannya tadi kamu sudah maafkan aku. Kenapa pas di mobil beda lagi?"
Reza menatap ke arah istrinya, dengan tatapan heran. " Ainun. "
"Kenapa mas, kamu keberatan?"
" Tidak. "
"Ya sudah kalau gitu cepat jalankan mobilnya. "
Menganggukkan kepala, Reza mulai menyalakan mesin mobilnya, mereka pergi dari rumah sakit.
Saat mengendarai mobil, Reza perlahan menatap ke arah istrinya.
"Kenapa mas?"
Fokus kembali pada mobil, Reza tak mengeluarkan suara sedikit pun.
Sedangkan dengan Ainun, wanita itu berusaha menahan tawa, melihat wajah suaminya yang terlihat sedih.
"Rasain kamu mas, memangnya enak aku kerjain, kali kali saja setelah ini kamu bisa berubah tidak terpancing akan Tari. " Gumam hati Reza.
"Mas, kita jemput dulu anak anak. "
"Iya."
Setengah perjalanan, Reza memberanikan diri bertanya lagi, walau ia tak yakin.
"Ainun, kamu benar tidak maafkan aku suamimu sendiri?"
Ainun tiba tiba tertawa terbahak bahak, ia tak bisa menyimpan rasa ingin tertawanya.
"Loh, kenapa kamu malah tertawa, apa aku salah bicara?"
"Nggak!"
"Lalu kenapa?"
Ainun tersenyum kecil, " memangnya kalau aku sudah memaafkan kamu, kamu akan berubah seratus persen. "
"Berubah."
Ainun kembali tertawa, " apa jaminannya. "
"Aku akan meceraikan Tari. "
"Hanya itu. "
"Lantas kamu mau apa? "
__ADS_1
"Kalau kamu selingkuh lagi, kamu berani tidak kalau aku potong titittt ya. "
"Hah, apa?"
Reza terkejut, ia seketika menghentikan mobilnya, melirik ke arah sang istri.
"Aduuhh, mas. Kenapa berhenti mendadak sih. "
"Kamu ini gila ya, masa ia potong tittiit. "
"Ya apa lagi, kalau nggak gitu, ya pastinya kamu selingkuh lagi, namanya laki kan kalau sekali selingkuh pasti akan diulang lagi. "
Reza tak terima dengan perkataan istrinya. " Yaelah Teori dapat dari mana itu."
" Dari internet. "
"Ahk, ngelawak kamu Ainun. "
Reza kini mencubit hidung istrinya, kemesraan diperlihatkan keduanya.
"Mas, ini hidungku kalau kenapa kenapa bagaimana?"
"Ya ampun nggak papah lah, hanya hidung pesek juga. "
"Ngeledek kamu. "
Dreet ....
Ponsel kembali berbunyi, Ainun mengambil ponsel suaminya. Merogoh celana Reza. " Ahk geli. "
"Dih, apaan sih kamu mas. "
"Ya elah, cuman ngambil ponsel doang. Kira mau mer*mas."
Ainun menyunggingkan bibirnya. Melirikke arah sang suami, " mau aku potong. "
Menghindar, menyelamatkan buah pisangnya.
"Kamu sadis sekali sih. "
Ainun mulai fokus pada ponsel suaminya, dimana Reza tak peduli. " Si Tari lagi. "
"Sudahlah jangan pedulikan lagi dia, kamu matikan saja panggilan teleponnya. "
"Mas."
"Iya."
Ainun membulatkan kedua mata, menatap kearah suaminya. " Kenapa?"
Reza tampak ketakutan dengan tatapan Ainun. " Kamu kenapa sayang?"
"Kamu sudah mengatakan kalau kamu akan menceraikan Tari dan memilih aku kan?"
"Sudah, aku sudah mengatakan semua itu, kamu jangan takut. "
"Takut, aku nggak akan takut kalau kehilangan kamu. "
"Apa, semudah itu kamu bicara, aku ini suamimu loh. "
"Ngapain juga, masih mempertahankan lelaki yang tak mau berubah dan tukang bohong seperti kamu. "
"Tega kamu Ainun. "
Di dalam mobil, masih banyak percakapan yang dibahas oleh Ainun dan Reza. Tentang Tari yang terus menghubungin Reza.
"Kalau begitu, aku belokir nomor Tari dari nomormu. "
"Hah, tapi. "
Mengerutkan dahi, " apa kamu belum melupakan Tari?"
"Hah tidak. Ee, kamu belokir saja silahkan!"
"Kok kamu kelihatan ragu begitu, jangan sampai aku memotong titittmu itu mas. "
Menelan ludah, malah mendengar ancaman dari mulut Ainun, Reza kembali diam.
"Kenapa diam? Masih sayang sama si Tari. "
"Mana ada, aku lebih sayang pada kamu. Ainun. "
"Terus kenapa kamu terlihat ragu, saat aku mau membelokir nomor Tari. "
"Kamu salah mengira sayang, aku tidak ragu, aku sudah mengikhlaskan. "
"Jangan bohong. "
"Nggak bohong, asli banget. "
"Benar ya. "
"Iya sayang, silahkan kamu mau belokir nomor Tari. "
Tiba tiba saja, Ainun memberikan ponselnya pada pemiliknya. " Ini. "
"Loh. Bukannya Kamu mau memblokir nomor Tari?"
"Kamu saja yang belokir, kan itu HP kamu bukan hp-ku."
"Iya juga sih. "
__ADS_1
"Ayo belokir. "
Reza menatap ke arah istrinya, mulai menggerakan jari jemari pada ponselnya. " Ayo. Belokir. "