Bertukar Peran Dengan Istriku

Bertukar Peran Dengan Istriku
Bab 21


__ADS_3

"Pak Reza. "


Hembusan napas Tari terasa hangat, membuat aku menatapnya penuh dengan napsu. Apalagi dengan buah dada yang ia perlihatkan di hadapanku saat ini, panas. Benar benar panas, birahi mulai memuncak. 


Dimana  kedua tangan Tari dengan lembutnya, bergelayut manja pada bahuku, tatapannya mengisyaratkan jika aku boleh mencoba apa yang dipertontonkannya. 


Bulu mata lentik itu, mengedip berulang kali. 


"Tari."


"Mm, Mas Reza. "


Perlahan, Tari dengan beraninya menarik kepalaku, hingga bibirku ini menyentuh belahan yang tak harus aku sebut namanya. 


"Ahk."


Terdengar suara lembut Tari, membuat darah ini mengalir dengan cepat. Dengan beringasnya aku membuat warna kulit gadis ini sedikit memerah. 


Tari terus menekan kepalaku. " Ahk. "


Dan sialnya, aku tak bisa menahan. Semua kain yang menempel terbuka tanpa aku sadari, " Lakukanlah. "


Entah apa yang ada dipikiranku saat ini, aku merasa menikmati apa yang aku lakukan. 


" Tari, badanmu begitu mulus. "

__ADS_1


Tari tersenyum, " Terima kasih mas. "


"Aw."


"Maaf terlalu cepat. "


Puncak yang sudah hampir aku lepaskan, dimana Tari menjerit dan. 


" Astagfirullahaladzim. "


Aku segera mengakhiri semua permainan, menarik kain yang berserakan, menutupi tubuh begitupun dengan Tari. 


"Ibu." Aku terkejut sekali dengan kedatangan ibu, terlebih lagi dia datang disaat momen pelepasan yang selalu laki laki nantikan. 


Wanita tua itu mendekat, ia menunjuk pada wajah Tari dan wajahku. " kalian ini benar benar, " Ibu memegang dadanya, seperti kesakitan. Aku yang tak tega, berusaha mendekat dan membantu ibu. 


Aku mencoba menjelaskan semua pada ibu, dengan kejadian yang tak aku sadari," Bu, semua diluar kendaliku, aku khilaf. "


Plakk …. 


Tamparan ibu melayang pada pipi kiriku, membuat Tari bangkit dan membelaku, " Bukan salah Pak Reza, tapi salah …."


Plakk ….


Belum perkataan Tari terlontar semuanya, ia sudah mendapatkan tamparan dari ibu. " Dasar wanita lont**, wanita tidak tahu diri. Murah*n. "

__ADS_1


Ibu yang terlihat begitu emosi menarik rambut panjang milik Tari, " ahk. "


Tari meringis kesakitan, membuat aku berusaha menghentikan tangan ibu. " Stop, jangan sakiti Tari bu. "


Ibu terus melakukan aksinya, ia tak mendengarkan perkataanku, tetap saja menyakiti Tari, dengan memukulkan kepala wanita itu pada kursi hingga mengeluarkan darah. " Rasakan ini, semua pantas kamu dapatkan, dasar wanita perusak rumah tangga anakku. "


Sialan, ibu malah semakin menjadi jadi. Menyiksa Tari begitu ganasnya, membuat aku bingung. " Apa yang harus aku lakukan. "


Mencoba menenangkan ibu, tapi wanita tua itu tetap saja melakukan aksinya yang menyakiti Tari. 


"Bu."


" Pak Reza, tolong saya. "


Darah bercucuran terus menerus dari kepala Tari, membuat aku dengan terpaksa menarik tubuh ibu. Hingga kepala wanita itu terkena benturan tembok. 


"Pak, Ibu anda. "


Aku malah menatap kedua tanganku, dimana Tari menarik tangan dan berkata. " Kita harus bawa ibu anda ke rumah sakit, ini gawat sekali. "


Padahal aku tidak berniat sama sekali, mendorong ibu begitu keras hingga mengenai tembok. Aku hanya ingin ibu berhenti menyakiti Tari.


"Ayo pak. "


Tari yang terlihat begitu panik, bersiap siapa memakai baju yang berserakan di atas lantai, sedangkan aku malah menangis dalam kepanikan, melihat ibu terkulai lemah bersipu darah.

__ADS_1


"Pak, kalau bapak terus diam begini, ibu bapak tidak akan selamat. Ayo pak, saya tidak mau urusannya jadi panjang. "


__ADS_2