
Setelah membereskan sisa makanan yang berserakan di atas lantai, suster mulai melangkah menjauhi Tari yang terlihat masih menahan emosi.
"Makannya kalau jadi. Suster itu yang bagus kerjanya. " Tari malah memaki sang suster yang sudah baik mengurus dirinya.
" Iya. " Berjalan sembari melirik sekilas. Tatapan Tari terlihat menyeramkan bagi sang suster, dengan terburu-buru suster itu keluar dari ruangan Tari. " Dasar pasien gila. "
Tari sedikit mendengar perkataan suster yang mengatai dirinya, berteriak, " hey, kamu ngomong apa tadi?"
Suster itu terburu-buru lari mendengar teriakan dari ruangan Tari.
" Bisa bisanya, suster itu mengatai saya gila."
Menggerutu. Tari tak terima, ia akan melaporkan pada pihak rumah sakit. " Awas saja, saya akan laporkan kamu ke pihak rumah sakit, karena kerjaan kamu tidak becus, dasar suster tak guna."
Setelah puas menggerutu diri sendiri, Tari kini mengacak rambut dengan kasar, kecewa dengan Reza yang tak memilih dirinya. Ia tiba tiba saja menangis, mengepalkan kedua tangan. Perasaanya terlihat tak menentu.
"Kenapa Pak Reza, tak memilih saya saja. "
Tari menangis terisak isak, ia tak tenang saat itu, kondisinya yang belum membaik, membuat ia hanya bisa terbaring di ranjang tempat tidur.
"Kalau saja saya bisa berjalan, sudah saya kejar Pak Reza, tapi .... Ahk. "
Berteriak, di dalam ruangan sendirian, kini yang Tari rasakan adalah kesepian. Tak ada yang menemaninya, ia terlalu egois. " kenapa bisa hidup saya jadi seperti ini. "
Tari tak terima dengan nasib yang ia rasakan saat ini, nasib menyedihkan membuat Tari benar benar hancur.
" Kenapa si Rendy itu malah datang lagi dikehidupan saya. Belum puas kakaknya membuat saya menderita. "
Tari tak bisa tenang, ia ingin keluar dari ruangannya. " saya harus bagaimana? Sekarang. "
Mencoba memaksakan diri, tak peduli dengan rasa sakit pada perutnya, Tari menggerakan kedua kaki.
Namun, " ahkk. "
Tari menjerit, merasakan rasa sakit pada perutnya lagi, ia baru menyadari bahwa dirinya sudah baru saja di operasi.
"Sialan, saya lupa. Jika saya sudah di operasi Badan saya sekarang banyak bekas jahitan. "
Menghela napas, Tari terdiam ia hanya bisa terbaring lemah dengan merasakan kesendirian di dalam ruangan tanpa saudara atau pun sahabatnya.
"Menyedihkan sekali, jika Reza pergi, saya akan hidup dalam kesendirian lagi seperti kemarin, padahal saya sudah senang menikah dengan dia. "
Mengusap pelan air mata, Tari berusaha melupakan kesedihan yang ia rasakan, walau ia tak kuat saat ini.
Tari ingin ditemani seseorang, ia mulai memanggil suster dengan menekan tombol beberapa kali.
"Mana sih mereka, susah amat datang. "
__ADS_1
Hidup Tari sedikit kacau, ia tak bisa melakukan apapun sendirian, perlu bantuan suster ataupun orang yang menjaga dirinya.
Meraih minum di atas meja yang lumayan jauh membuat ia tak kuasa, " kenapa suster itu, menaruh air minum di meja yang begitu jauh. Menyulitkan sekali. "
Tari mencoba menekan tombol berwarna merah yang tak jauh darinya, tapi tak ada respon sedikit pun. karena keegoisan dan amarahnya yang tak bisa iya kendalikan, membuat suster malas menemui dirinya, mereka tak mau mengurus pasien yang malah merugikan diri mereka sendiri.
Suster terlihat asik memainkan ponsel mereka, " tuh panggilan. "
Suster yang mengurus Tari, megangkat kedua bahunya, " malas sekali, aku datang ke ruangan pasien bernama Tari itu, tadi saja makanan yang akan aku berikan malah dia lempar. Gila tidak. "
"Sepertinya pasien yang kamu urus itu, agak gila. "
Suster kini mengosipi Tari, saking kesalnya, mereka tertawa bersama.
"Kamu nggak takut apa, pasien kamu itu melapor pada pihak rumah sakit, nanti kamu dipecat loh. "
"Kata siapa, pihak rumah sakit tidak akan memecat ku. "
"Wih, memangnya kamu bisa melawan pihak rumah sakit. "
"Ya elah, kalian lihat ini. "
Suster yang sempat menangani Tari, kini menunjukkan sebuah lebar kertas dihadapan sahabatnya.
"Hey, itukan. "
Semua tertawa lagi, mereka seakan senang sekali mengosipi Tari, tak mempedulikan rasa kasihan terhadap wanita itu.
"Kok bisa, secepat itu. "
"Bisa dong, toh udah kelihatan dia berteriak teriak dan melukaiku. "
"Benar juga. "
Suster itu tersenyum kecil, dan bahagia. " Belum tahu saja tuh pasien, seenaknya ngeremehin suster di sini. Belum tahu saja dia akan di pindahkan ke rumah sakit jiwa. Ahk, mampus. "
Bel kembali berbunyi, mereka kini pergi dari ruangan perkumpulan untuk segera istirahat.
"Kita makan yuk. "
" Ayo. "
Sedangkan di ruangan Tari, wanita itu begitu gelisah, perutnya terus meronta ronta, meminta makan. Apalagi dengan tenggorokannya seakan kering, karena berteriak, terus menerus.
"Suster di rumah sakit ini, tidak ada yang peduli sama sekali pada saya. "
Mencoba menghilangkan rasa haus dalam tenggorkan, Tari kembali berteriak, walau rasanya itu menyakitkan.
__ADS_1
" Suster. "
"Suster."
Tangan kanan mengusap luar tenggorokan, mencoba tidak mempedulikan rasa sakitnya.
"Suster."
Berteriak berulang kali, tetap tidak ada respon dari Suster, Tari semakin telihat kesakitan, " sialan, mereka benar benar. Ahk."
Menelan lu udah beberapa kali, agar tidak merasa kesakitan, namun tetap saja Tari lemah dengan penyakitnya saat ini.
Tari mulai menatap kembali ke atas meja, dia terkejut melihat ponselnya lagi. "ponsel saya. "
Tari memperlihatkan senyuman bahagia, ia berusaha meraih ponsel yang sempat hilang, ia memegang erat lalu berkata," kenapa saya baru menyadari kalau ponsel saya ada di atas meja, Apa Reza yang menemukan ponsel saya?"
Saat itulah Tari mulai terpikirkan untuk menghubungi Reza, melihat layar ponselnya, Tari sengaja menghubungi Reza dengan kepura puraanya. Agar Ia mendapatkan rasa simpati lagi dan lelaki yang menjadi suami Ainun.
"Ini kesempatan yang bagus. saya harus menghubungi Reza, berharap dia datang jika saya berpura-pura kesakitan, menjerit saat menghubungi dirinya. "
Saat itulah Tari mulai melayangkan aksinya, Iya menekan tombol untuk segera menghubungi Reza.
Dreet ....
Sambungan telepon pun terhubung saat itu, Tari ngerasa bahagia ia bisa mendengar suara Reza.
Namun tiba dimana.
*****
Reza masih mencari keberadaan Ainun, lelaki berbadan kekar itu tak mau kehilangan istrinya untuk yang kedua kalinya.
" Ainun, kemana dia?" Reza bertanya pada orang orang yang duduk santai.
"Maaf bu, apa ibu pernah melihat wanita ini. "
Reza menunjukkan foto Ainun pada wanita tua yang ia tanya.
" Oh, wanita ini tadi lewat sini memang, dia pergi keparkiran mobil. "
"Terima kasih, bu. "
Reza tak lupa mengucapkan rasa terima kasihnya berulang kali. Tak sabar ingin menemui Ainun, Reza berlari hingga ke parkiran, melihat kesana kemari, Reza belum menemukan keberadaan istrinya sama sekali.
Hingga suara ponsel Reza terus mengeluarkan suara berdering, membuat lelaki itu merogok saku celana melihat layar ponsel, Siapa yang menghubunginya saat itu.
"Tari, ada apa dia menghubungiku. Bukannya sudah jelas kalau aku memilih Ainun. "
__ADS_1