
Entah kenapa hatiku merasa sakit ketika mendengar perkataan Ainun, apa aku cemburu? Wanita yang menjadi istriku itu kini melipatkan kedua tangannya.
"Kamu kenapa mas?"
" Tidak pantas kamu seorang istri, mempunyai teman seorang lelaki!"
Ainun malah mendelik di hadapanku, " Owh, gitu ya mas. "
Ainun semakin mendekatkan wajahnya ke arah wajahku, " Lantas, kamu dengan Tari apa pantas?"
"Ya, dia kan teman kerjaku!"
Ainun menjauhkan badannya dari hadapanku, ia berkata," Lucu kamu mas, istri dekat dengan laki laki lain kamu larang, sedangkan kamu dekat dengan wanita lain, oke oke aja. Ini bukan jaman nenek moyangmu mas, ini jaman modern. Nggak ada namanya wanita terus mengalah dan diinjak injak terus sama laki laki. Kamu begitu, aku juga bisa begitu. "
Ibu tiba tiba menimpal, " Apa yang dikatakan istrimu benar, Reza. Kamu harus tahu, istri tergantung kepala keluarga, jadi kamu harus mendidik istri dengan benar. Jangan mencontohkan hal yang tidak benar, apalagi kamu sampai mempunyai sahabat wanita yang centil ke gitu. "
Lagi lagi ibu menyindir dan membela Ainun, " Bu, jangan suka ikut campur, ini urusan Reza dan Ainun. "
"Dih, siapa yang ikut campur, ibu hanya menasehati kamu. "
"Sama saja bu. "
Aku kembali fokus pada Ainun, dimana istriku tetap bersikap santai dan tak memperlihatkan penyesalannya.
"Kamu tidak meminta maaf padaku?"
Ainun tersenyum lepas, ia menjawab, " Minta maaf untuk apa mas, memang aku melakukan kesalahan padamu!"
"Tentu saja, kamu sudah membuat kesalahan padaku, mengirim pesan dengan laki laki yang bukan muhrim kamu. "
Ainun malah menatap ke arah ibu, dengan suara tawanya yang menyebalkan itu, " Bu, Mas Reza ini ada ada aja, masa iya Ainun di suruh minta maaf, sedangkan dia kemarin santai santai aja, tanpa rasa bersalah. "
"Beda konsepnya, MARKONAH." Gerutuku pada Ainun.
"Reza, jadi laki laki kamu jangan egois, bagaimanapun kamu harus intropeksi diri akan kesalahan yang sudah kamu lakukan pada istri kamu sendiri. "
Perkataan ibu semakin membuat aku kesal, " Sudah cukup bu, jangan bikin aku kesal. Dimana mana watak lelaki itu egois bu, wajar. Karena dia kepala keluarga di rumah. "
Ainun dan ibu malah tertawa. " Oh gitu ya mas, jadi aku juga berhak dong egois, nggak mulu mulu ngalah. "
"Kamu hanya istri, tugasmu menurut saja." Menghela napas, aku berusaha tegas pada Ainun.
"Menurut, tentu aku sebagai istri akan menuruti apa perintah kamu dengan syarat buang egois kamu ubah sifat kamu, kalau kamu tetap seperti ini, mana mau aku nurut. Yang ada aku makan hati tiap hari liat suami tidak punya rasa bersyukur seperti kamu. "
"Lama lama, kamu ngelunjak ya. Tak pantas kamu aku jadikan …."
Ibu berlari menutup mulutku, berusaha menenangkan perdebatan yang tak kunjung usai antara aku dan Ainun.
__ADS_1
"Jangan seenaknya kalau ngomong. Kamu tak boleh asal berucap, takutnya nanti jatuh talak. Sudah tenangkan diri kalian, saling intropeksi diri. "
Mendengar perkataan ibu, membuat aku menghempaskan tangan wanita tua itu, pergi dari hadapan keduanya.
"Reza, kamu mau kemana?"
Mengabaikan perkataan ibu, membuat aku terus melangkahkan kaki dengan cepat.
"Reza, bukan dengan cara pergi. Bisa menyelesaikan masalah, kamu harus bersikap dewasa dan bijak dalam menanggapi semua masalah rumah tanggamu. Reza. "
Perkataan ibu membuat aku menyalakan mesin motor, " Reza. "
Dimana wanita tua itu berlari, berteriak memanggil namaku berulang kali. " Reza, jangan pergi. "
Ibu mendekat, menahan motorku. " Bu, lepaskan atau aku tabrak ibu. "
Ainun datang menyusul, menarik tangan ibu. " Jangan gila kamu, mas. "
Aku pergi menjalankan motor bututku, mencari suasana baru, menghilangkan semua kegundahan dan rasa kesal di dalam hati.
********
Setelah sampai di tempat yang terasa nyaman bagiku, aku mulai duduk memandangi sungai kecil yang mengalirkan airnya. Membuat rasa sejuk aku rasakan.
Menyalakan rokok, menikmati angin yang terus menyejukkan badanku, membuat aku ingin sekali terlelap tidur, melupakan semua amarah dan emosi yang meluap luap dalam hati ini.
Aku terkejut, baru saja terlelap karena merasakan sejuknya angin di taman, kedua mataku langsung terbuka mendengar suara di sampingku.
"Tari, kamu ada disini?"
Setiap kali aku pergi ke taman, selalu ada Tari yang tiba tiba saja datang di depan muka.
Tari membenarkan rambutnya yang menutupi wajah, ia tersenyum padaku dengan menjawab. " Ah, kebetulan sekali, kalau libur di kantor, atau belum waktunya kerja. Tari selalu mampir kesini. "
Mendengar jawaban dari Tari membuat aku terkejut," wah, kita sama dong, kalau lagi galau dan kesal sama istri pasti larinya kesini. "
Tari tersenyum kecil, ia begitu mempesona dan
Indah dipandang mata. Tidak seperti istriku yang jauh dari kata mempesona.
"Sudah jam delapan, waktunya berangkat bekerja. "
"Iya. Kamu naik apa ke sini?"
"Tari naik taksi!"
"Kebetulan sekali, jadi kita bisa berangkat bersama. "
__ADS_1
"Nggak usah pak, ngerepotin, bisa naik Taksi lagi aja. "
"Nggak apa apa, aku senang kita bisa bareng. Ayo. "
Tari seperti malu malu dengan ajakanku, dimana ia ragu untuk naik pada motor bututku ini. " kenapa, pasti karena motornya butut ya. "
"Nggak enak sama istri bapak nantinya, kalau Tari barengan pergi berangkat kerjanya. "
"Sudah jangan mikirin hal itu, istri kan ada di rumah mana tahu dia. "
Berulang kali merayunya, pada akhirnya Tari ikut menaiki motor bututku, dimana Tari tiba tiba memeluk pinggangku dari arah belakang.
" Nggak papa kan mas, kalau Tari pegangan. "
"Nggak papa, bagus kalau kamu pegangan kaya gini, jadi nggak bakal jatuh. "
Aku mulai melajukan mesin motor, dimana kami berdua menikmati perjalanan menuju ke kantor.
Aku merasa tumbuh lagi seperti sedia kala, kata semangat yang redup, kembali lagi. Berkat Tari yang memberikan kehangatan.
"Maaf ya, pak, gara gara Tari. Istri bapak marah kemarin. " ucap Tari, sembari menggoyangkan pinggulnya.
Mendengar tutur kata Tari membuat aku senang, ia tidak egois seperti Ainun yang tak ingin mengalah dan mengakui kesalahanya.
"Masalah itu, sudah jangan dibahas lagi. Ainun memang begitu orangnya, bikin stres. Dan tak tahu malu. "
"Kenapa bapak tidak ceraikan istri bapak itu?"
Pertanyaan Tari, terbesit dalam pikiranku. " Iya juga ya, ngapain mempertahankan wanita seperti dia. "
"Iya pak, kan nanti bapak bisa sama Tari. "
Deg ….
Aku merasakan gejolak aneh dalam jiwa, dimana perkataan Tari membuat hatiku berbunga bunga.
"Kamu kan masih gadis. "
Tari terus menekan kedua buah dadanya pada punggung, membuat aku gagal fokus.
"Nggak papah, Tari senang kok sama Pak Reza. "
Semakin meledak hati ini, ternyata masih ada yang menginginkanku lagi di dunia ini.
Aku mulai berpikir, sampai kedua mata tak fokus ke arah jalanan dan.
" Awas pak. "
__ADS_1
Brakkk.