Bertukar Peran Dengan Istriku

Bertukar Peran Dengan Istriku
Bab 78


__ADS_3

Brukk ....


Tari terkulai lemah di atas lantai, kedua mata terlihat samar samar menatap sosok itu.


Tubuh Tari di tarik paksa, dibawa ke sebuah tempat yang tak mungkin orang tahu.


Suster yang selalu dikatakan rese oleh Tari, kini datang ke ruangan wanita itu, melihat pintu sudah terbuka begitu saja.


"Kemana? Pasien Tari. "


Menatap pada atas lantai, tampak jejak keringat berceceran membuat sang suster sedikit menuntup mulut. Menundukkan badan, " apa mungkin dia melarikan diri. "


Rasa waswas menggebu pada hati, pikiran tak tentu arah, " bagaimana ini. '


Mencoba tetap tenang dalam rasa bimbang, suster itu kembali keluar dari ruangan, untuk memberi tahu sahabatnya.


"Gawat, pasien Tari tidak ada?"


Salah satu suster di sana terkejut, mendengar kenyataan yang dikatakan sahabatnya. " kok, bisa. Bagaimana caranya kita memberi tahu keluarga pasien.


"Entahlah, aku juga bingung. "


"Ada apa?"


Deg ....


Tanpa di duga, Reza datang mengagetkan ketiga suster yang tengah membicarakan kepergian Tari.

__ADS_1


"Kenapa kalian malah diam. " Reza menatap ke tiga suster dihadapannya, mengusap pelan dagu. Nampak ketiga suster itu saling melempar sebuah kode pada teman temannya.


"Kenapa?"


"Ahk, tidak apa apa!"


Semuanya berpura pura menghindari pertanyaan dari Reza. Dimana mereka mulai berpamitan. " Kami permisi dulu. "


"Tunggu."


Langkah kaki kini terhenti begitu saja, ketiga suster itu membalikkan badan menatap ke arah Reza.


"Iya, kenapa pak?"


Reza melipatkan kedua tangan, lalu mendekat ke arah mereka, " siapa yang sudah menyuruh pasien Tari masuk ke dalam rumah sakit jiwa?"


Lelaki berbadan kekar yang masih berdiri tegap, nampak tak sabar dengan jawaban ketiga suster dihadapannya.


"Kenapa kalian diam saja?"


Ketiganya menundukkan pandangan, mereka mulai mengakui kesalahan mereka karena sudah mengalihkan pasien Tari tanpa seizin keluarganya.


"Kami mengalihkan pasien Tari, karena mempunyai bukti, karena kegilaannya. "


Menghela napas, mendengar sebuah kegilaan yang dikatakan suster itu, membuat Tari ingin memukul wajah ketiga suster itu.


Namun ia berusaha tahan, karena bagaimana pun, ia harus bisa bersikap baik. " apa kalian mempunyai bukti?"

__ADS_1


Pertanyaan Reza dengan sigapnya, kini diperlihatkan ketiga suster itu, " kami punya buktiknya. "


Kedua mata Reza membulat, melihat video yang diperlihatkan sang suster sebagai barang bukti. " Apa anda masih ragu terhadap kami, pak. "


Menggelengkan kepala, mencoba tetap tenang lagi.


"Jadi sekarang pasien Tari, ada dimana. "


Menaruh ponsel setelah mempelihatkan barang bukti, ketiga suster itu, saling menatap satu sama lain kembali.


"Sebenarnya, pasien sudah melarikan diri. "


Jawaban yang membuat Reza kesal, bagaimana bisa di rumah sakit besar dengan pengawasan yang ketat, pasien bisa melarikan diri.


"Kalian ini bagaimana sih, kalian sendiri yang menentukan pasien Tari masuk ke rumah sakit jiwa, dan kalian sendiri yang kurang menjaga pasien Tari."


Ketiganya meresa bersalah, mereka menundukkan wajah, lalu berkata. " Maafkan kami pak."


"Maaf, maaf. "


Reza tak tinggal diam, ia menunjuk ke arah suster dihadapannya dengan berkata, " saya tidak mau tahu, kalian harus tanggung jawab atas semuanya. "


"Tanggung jawab, mana mungkin. "


Reza tak mengeluarkan suara lagi, ia pergi dengan kekesalan yang menggebu pada hatinya. Pergi untuk mencari keberadaan Tari yang melarikan diri, ketika lengah dari pengawasan suster.


"Tari tak mungkin melarikan diri, kondisi tubuhnya sedang tidak baik. Apa ada orang yang sengaja membawa dia. "

__ADS_1


Karena curiga dengan satu orang, Reza mulai bergegas pergi ke penjara, melihat keadaan Rendy.


__ADS_2