Bertukar Peran Dengan Istriku

Bertukar Peran Dengan Istriku
Bab 67


__ADS_3

Denis menatap jalanan, ia bertanya pada sang ayah. " Pah, mama mana?"


Pertanyaan Denis membuat Reza menghela napas, lelaki itu terlihat bingung harus menjawab perkataan anaknya. Tak mungkin menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.


"Denis, mama ada di rumah sakit!" jawab Reza dengan penuh keraguan, hati diselimuti rasa bimbang.


"Di rumah sakit, kok bisa, pah. Mama sakit apa?" Denis terlihat begitu terkejut, wajah Reza tampak tegang. Karena Denis bertanya dengan begitu detail.


Menghela napas, Reza mengusap pelan kepala anaknya yang terlihat gelisah." mama hanya sakit biasa kok. "


Reza tak mungkin memberitahu anak anaknya, bagaimana keadaan Ainun yang sekarang. Terpaksa berbohong demi menyelamatkan dirinya sendiri, Reza takut anak anak bukannya peduli dan mengerti, yang ada anak anak akan membenci dirinya habis habisan.


" Biasanya mama sakit biasa, tidak pernah masuk rumah sakit, apa lagi di rawat inap. "


Kayla dan Kania, kedua anak kembarnya pun tampak heran. Mereka menatap tajam ke arah sang papah.


"Papah, jangan bohong coba katakan dengan jujur?"


Deg ....


Perkataan anak pertamanya, membuat Reza terdiam melongo, bagaimana bisa ia menjawab pertanyaan pertanyaan yang membuat ketiga anak anaknya tidak memojokkan dirinya.


Karena jika ia berkata jujur pastinya akan menyakiti hati anak anaknya, apalagi dengan Denis, anak pertama yang sedikit keras kepala, pastinya memandang sang papah sebelah mata.


"Pah." Panggil Denis, pada sang papah.


"Ah, iya kenapa?"


Lamunan Reza kini membuyar, membuat Denis menghela napas, sedikit kesal dengan sang papah yang terlihat melamun saat anak pertamanya terus bertanya.


"Malah bengong!" Ketus Denis, memajukkan bibirnya di depan sang papah.


Reza mengusap kasar wajahnya, ia masih menggendarai mobil untuk menghindari perkataan anak semata wayangnya. Berpura pura fokus padahal otaknya berusaha memikirkan cara menjawab ucapan anak pertamanya tanpa memberitahu yang sebenarnya.

__ADS_1


"Kita pulang saja dulu ya. " Ucap Reza,


Ketiga anak anak Reza tampak terlihat bersedih mendengar ucapan sang papah, mereka kini menjawab. " Kami mau ketemu mamah, boleh ya pah. "


Denis memohon mohon pada sang papah, ingin menjaga Ainun di rumah sakit.


"Kalau kalian jaga mama, nanti kalian sakit. Dan lagi anak kecil nggak di bolehin masuk ke rumah sakit. "


"Masa sih pah. " Denis tak mempecayai perkataan papahnya itu, ia tetap bersikuku ingin menemani sang mama di rumah sakit.


Lelaki yang menjadi ayah dari ketiga anak anak itu tampak pusing, melihat ketiga anak anaknya tiba tiba saja menangis. " Kalian kenapa malah menangis. "


"Kami kangen mamah, pengen nemenin mama. "


Sudah di beri pengertian, tapi ketiga anak anak Reza, tetap ingin melihat Ainun.


"Denis, kayla, Kania. Kalian harus ngertiin papah dong, kalau kalian tetep ngeyel kayak gini. Nanti mama nggak mau pulang ke rumah loh. " Mencoba membohongi Ketiga anak anaknya, dengan alasan yang tak masuk akal.


"Ya jangan dong, pah. " Ucap Denis, sedikit kesal pada sang papah, dari tadi tak menuruti keinginan nya.


Denis melipatkan kedua tangannya, mengerutkan dahi, " papah ini curang ya. "


Reza berusaha menyembunyikan kesedihannya, dengan tersenyum lebar di depan Denis dan anak kembarinya. Ia berusaha menentramkan suasana agar tetap tenang, perlahan menganggkat jari tangan, lalu mencubit pipi Denis sedikit keras.


"Mm. Papah ini. "


"Kenapa Denis, sakit. " Reza mengusap pipi bekas cubitan anak pertamanya, dengan mempelihatkan sebuah candaan kembali.


"Papah ini kenapa sih?" Ketus kayla dan Kania.


Sang papah, berusaha menghibur ketiga anak anaknya. Semua tertawa terbahak bahak, di dalam mobil, walau sebenarnya Reza menyimpan kesedihan.


Setelah sampai di rumah, Reza melihat ketiga anak anaknya sudah tidur dengan begitu pulas. Membuat ia mengangkat, tubuh satu persatu ketiga anak anaknya.

__ADS_1


Berjalan keteras rumah, Reza terlihat bingung. Lampu sudah menyala, sedangkan ia baru saja pulang.


Merogoh saku celana, mengambil kunci untuk masuk ke dalam rumah, Reza terkejut pintu rumah sudah terbuka. " loh, kenapa nggak di kunci. "


Reza berusaha tetap tenang sembari membopong tubuh anak petamanya, dengan sangat hati hati.


Cetrek.


Lampu rumah kini menyala saat Reza masuk dengan membuka pintu, membuat Reza tentunya terkejut, " halo, Pak Reza. "


"Siapa itu. "


Langkah kaki perlahan terdengar mendekat, semakin dekat, membuat Reza berusaha tetap tenang tidak terlalu panik.


"Kamu."


Senyuman tergambar dari raut wajah sosok yang terus melangkah mendekatinya.


"Kenapa terkejut, pasti heran ya. "


Tawa dilayangkan sosok yang belum di sebut namanya itu, " ngapain kamu kesini, aku sudah tak butuh orang seperti kamu lagi. "


Tepuk tangan dilayangkan, " lucu sekali kamu Reza, tiba tiba saja marah marah tak jelas. "


"Sebaiknya pergi dari sini. "


"Mana mungkin. Jelas, kamu lihat ini. "


Sosok itu memperlihatkan kunci rumah pada Reza. " kamu lihat ini. "


Reza berusaha mendekatkan dirinya pada sosok lelaki yang belum ia sebut namanya.


" Kenapa kunci rumah ada di tanganmu, kembalikan. "

__ADS_1


"Tidak bisa Reza. "


Terima kasih masih menunggu, maaf kemarin autor mudik, heheh. Jadi belum sempat updet.


__ADS_2