Bertukar Peran Dengan Istriku

Bertukar Peran Dengan Istriku
Bab 57


__ADS_3

Reza mulai membopong tubuh Tari, ia membawa istri keduanya ke rumah sakit dengan terburu-buru, melihat bekas penganiayaan, dan luka lembam dari tangan, kaki Tari, membuat Ainun tak tega.


"Tari, wajahmu bengkak. "


Ainun mengusap pelan pipi Tari, membuat ia nempelihatkan rasa simpatinya.


"Tari, bertahan lah. "


Tari tiba-tiba saja menangis, tangannya memegang kedua tangan Ainun, wanita itu mencoba meminta maaf.


"Mbak."


Ainun berusaha menenangkan Tari untuk tidak berbicara sementara waktu, " sebaiknya kamu jangan dulu bicara. "


Tari hanya bisa menitihkan air mata, tangannya terus menggenggam erat tangan Ainun, merasakan rasa bersalah yang amat. Iya sesali dalam hatinya.


Setelah sampai di rumah sakit, Reza kembali membopong tubuh Tari untuk segera ditangani oleh dokter. Reza tak sanggup melihat darah keluar dari baju Tari.


Dengan sigap para perawat datang, untuk segera membawa pasien. " Mbak Ainun. "


Tari terus memanggil Ainun, meminta maaf dengan bersujud pada kedua kaki wanita yang menjadi istri Reza.


Di bawahnya Taru ke dalam ruangan yang akan segera ditangani oleh dokter, Ainun begitu cemas sekali, iya bolak-balik kesana kemari. Dengan perasaan tak tenang dan juga rasa kuatirnya.


Reza yang melihat tingkah Ainun yang tak mau diam, membuat ia menarik tangan kanan istrinya." kamu kenapa?"


Ainun kini duduk di samping sang suami, kedua matanya tampak berkaca-kaca, bukannya senang melihat penderitaan yang dialami oleh Tari, Ainun malah menangis dan merasa kuatir sekali kepada wanita yang baru saja menikah dengan suaminya.


" Aku benar-benar takut sekali terjadi apa-apa dengan Tari, melihat dirinya yang begitu kesakitan."


Reza menghentikan perkataan sang istri, dengan telunjuk jari tangannya yang ia tempelkan pada bibir tipis milik Ainun.


" Sekarang kamu jangan terlalu banyak pikiran. Biarkan saja dokter yang menangani Tari, biar kita doakan di sini untuk kesembuhan Tari. "


Ainun pada akhirnya menganggukkan kepala menurut apa yang dikatakan suaminya, menghela napas. Berusaha mengontrol rasa cemas. Berulang kali, sampai akhirnya rasa cemas itu hilang.


"Bagaimana? Apa sudah tenang sekarang?"


"Ya."


Reza merangkul bahu Ainun, membuat sang istri menyenderkan kepalanya. " Mudah mudahan saja, apa yang dialami Tari tidak patal. "


"Iya, mas. " Mengusap air mata yang mengalir.


Ainun tiba tiba saja terlelap tidur tanpa di sadari Reza. "Ainun."

__ADS_1


"Mm, sepertinya Ainun kelelahan, ia sampai tertidur. "


Menunggu lumayan cukup lama, seorang dokter datang menghampiri Reza. " Dokter. "


Reza berusaha menggeserkan kepala istrinya, perlahan demi perlahan, agar Ainun tak bangun dari tidurnya.


Berhasil.


Waktunya Reza berdiri dari tempat duduknya untuk segera menghampiri dokter, lelaki berbadan kekar itu ingin bertanya tentang kondisi Tari yang sekarang,


"Pak Reza. "


Reza mulai mendengarkan apa yang dikatakan dokter, di mana Iya terkejut, kedua mata begitupun mulutnya membulat. Iya tak percaya dengan apa yang dikatakan sang dokter.


" Saya berharap anda bisa membuat pasien Tari tidak terkejut akan hal ini. "


Reza masih tak percaya dia bertanya lagi pada sang dokter," itu tak mungkin dok. Dokter pasti bercanda?"


Dokter berusaha menjelaskan lagi, sampai akhirnya hubungan Reza melemas.


Ainun terbangun, ia baru saja menyadari bahwa dirinya begitu lelap tertidur bahu sang suami.


Menguap beberapa kali, Ainun mengucek-ngucek kedua matanya, melihat sosok suaminya berdiri berhadapan dengan dokter.


Karena rasa penasaran ingin mengetahui keadaan Tari, pada akhirnya Ainun berusaha bangkit dari tempat duduknya, menghampiri sang suami.


"Mas."


"Mas."


Ainun yang melihat Reza tak merespon panggilannya, membuat ia berusaha melangkahkan kaki menghampiri sang suami.


"Ainun, tak boleh tahu akan hal ini. "


Ainun kini berada di belakang punggung suaminya, tangan kanan mulai memegang bahu Reza, membuat lelaki itu membalikan badan dan tersenyum di hadapan Ainun.


"Kamu ini kenapa, dari tadi aku panggil kok malah diam saja?"


Reza berusaha menutupi kesedihannya, ia meminta maaf pada sang istri, di mana Ainun menatap ke arah dokter yang berhadapan dengan suami.


"Ini kan dokter yang menangani Tari?"


Reza menganggukan kepala, iya memberi kode pada sang dokter agar tidak mengatakan apa yang sebenarnya terjadi pada Tari.


Ainun begitu penasaran dengan keadaan Tari yang sekarang, bertanya," Gimana keadaan Pasien Tari, dok. "

__ADS_1


Ainun berharap jika sang dokter menjawab pertanyaannya, terlihat gelagat dokter itu tak mengerti dengan kode Reza.


"Dok, kenapa?"


Reza berusaha mengalihkan suasana, membalikan badan istrinya agar menghadap ke arahnya," Tari tidak kenapa-napa. "


Reza terpaksa berbohong di hadapan istrinya. Iya tak mau jika sang istri bersedih. Hanya gara-gara wanita bernama Tari itu.


"Iya kan dok, Tari hanya perlu banyak istirahat?"


Dokter hanya menganggukkan kepala meminta izin untuk pergi menangani pasien yang lain," Ya sudah kalau begitu Pak Reza dan ibu Ainun Saya pergi dulu ya, masih banyak pasien yang harus saya urus. "


Ainun mengerutkan kedua alisnya, ia merasa aneh dengan gelagat dokter yang terlihat seperti tak serius menangani Tari.


Dokter yang sudah berjalan lumayan cukup jauh dari hadapan Ainun dan juga Reza, kini menatap sekilas pada Ainun.


Reza mulai menyuruh istrinya untuk duduk kembali dan beristirahat, " sebaiknya kamu istirahat lagi. "


Ainun tampak menolak perkataan suaminya, Iya ingin sekali bertemu dengan Tari melihat kondisi wanita itu sekarang.


" Bagaimana kalau kita temani Tari sekarang, kasihan sekali dia Mas."


"Tidak usah, Dokter tadi menyuruh kita untuk diam dulu di sini, tunggu aba-aba dari suster untuk menemui Tari."


Ainun mengerutkan bibirnya," Baiklah kalau begitu."


Menurut, membalikkan badan untuk segera berjalan menuju ke kursi.


Ainun melihat suster masuk ke dalam ruangan Tari, membuat kakinya benar-benar gatal ingin menemui wanita itu, keadaan Tari yang sebenarnya.


" Sebenarnya Tari itu baik-baik saja tidak ya, kok aku melihat Kalau Mas Reza menyembunyikan sesuatu tentang keadaan Tari, apa lagi saat aku ingin bertanya kepada dokter. Mas Reza seperti menggunakan kode agar dokter itu tidak mengatakan yang sebenarnya padaku. " Ainun bergumam dalam hatinya.


" Sepertinya setelah Suster itu keluar kita bisa menemui Tari?"


Pertanyaan sang istri membuat gelagat Reza menjadi gugup dan juga gelisah. " kenapa, apa aku salah ngomong ya, mas. "


"Nggak?"


Baru saja duduk di Kursi, sontak jeritan terdengar dari ruangan Tari, membuat Ainun bangkit kembali dari tempat tidurnya.


wanita itu berlari tanpa meminta izin pada suaminya, Ainun masuk tak memperdulikan perkataan dokter ataupun suster. ia melihat jika Tari terus saja menjerit memberontak.


"Ahkkk."


Suster begitu sibuknya menahan tangan dan juga kaki tari yang terus meronta-ronta, buat mereka hampir saja kewalahan menangani pasien Tari.

__ADS_1


" Sebenarnya apa yang terjadi dengan kamu Tari?"


Ainun menatap ke arah Tari dan para suster, ia ingin menolong Tari. Namun apa daya Ainun tak punya wewenang.


__ADS_2