Bertukar Peran Dengan Istriku

Bertukar Peran Dengan Istriku
Bab 27


__ADS_3

"Baiklah, saya akan bertanggung jawab. "


Menatap ke arah Tari, ia tersenyum. Memperlihatkan jempol tangannya. Jebakannya yang dibuat Tari, membuat aku tak bisa berkutik, ia begitu jago dan hebat dalam membuat jebakan. Sampai aku terjerumus ke dalamnya. 


"Ahk, apes sekali hidupku saat ini. " Gumam hatiku. 


Semalam aku tak tidur, perasaan tak tenang, dimana aku ditahan di desa. Berulang kali meminta pengertian pada mereka. Untuk meminta izin pulang. Tapi mereka tak mengizinkanku dengan alasan takut aku kabur dan tak menikahi Tari. 


Padahal semua identitasku sudah ada di tangan kepala desa, tetap saja. Aku seperti tahanan yang tak boleh pergi kemana mana. 


Suara ponsel berbunyi, aku mencoba melihat siapa yang menghubungiku saat ini. " Pihak rumah sakit. "


Menatap jarum jam, masih pukul tiga malam. Ada apa pihak rumah sakit menelepon, apa terjadi sesuatu dengan ibu?"


Aku merasa gelisah saat ini, terutama pihak rumah sakit tiba tiba saja menelepon.


Dengan penuh rasa gelisah, mengangkat panggilan  dari  pihak rumah sakit. 


"Halo."


"Halo, Pak Reza. kami ingin memberi tahu keadaan ibu bapak. "

__ADS_1


Aku yang panik, kini memotong pembicaraan suster di rumah sakit, " Kenapa dengan keadaan ibu saya. "


Perasaanku benar benar tak karuan, hati dan pikiran tak tenang, semua orang terlihat tertidur dengan penuh rasa nyaman. 


"Ibu anda kritis. "


Mendengar kenyataan itu, membuat aku terkejut. " Ibu kritis, kenapa bisa sus. "


"Ibu anda mengamuk dan memberontak, kami berusaha menenangkan tapi tekanan darahnya malah naik, membuat kondisi ibu anda tak stabil. Sampai sekarang tak sadarkan diri. "


Aku mengusap kasar wajahku, rasanya ingin berlari menaiki motor, untuk segera menemui ibu di rumah sakit. Semua gara gara Tari,  karena dia aku tak bisa melihat ibu sekarang. 


Tak tenang, aku bangkit dari tempat dudukku, mengambil kunci motor, disaat orang orang lengah. 


"Mau kemana?"


Aku terkejut dengan penjaga di depan pintu, mengira jika ia tidur, tapi nyatanya tidak. Lelaki berotot itu terjaga. 


"Saya hanya ingin pergi ke toilet, apa ada toilet disini?"


Pertanyaanku membuat lelaki itu menunjuk ke arah pintu toilet, " Oh, dibelah sana. "

__ADS_1


Menganggukkan kepala, pamit pada lelaki berotot itu, aku tak menyangka jika warga disini begitu kompak.


Berjalan, berharap lelaki berotot itu tidak mengikuti langkah kakiku, karena jika lelaki berotot itu mengikuti langkah kakiku. Aku tidak bisa pergi ke mana-mana.


Masuk ke dalam kamar mandi, di luar aku mendengar suara orang yang sedang menggobrol.


"Sialan, bagaimana caranya aku kabur dari sini?"


Aku berusaha mencari cara untuk bisa kabur dari para warga, " gimana ya. "


Tring.


Satu pesan datang dari ponselku, membuat aku menatap siapa yang mengirim pesan di jam tiga malam begini.


(Pak Reza sayang, sebentar lagi kita akan menikah, jadi bapak tak perlu banyak berpikir.)


Sialan sekali si Tari ini, bisa bisanya ia mengirim pesan seperti ini padaku. Bodohnya aku malah mudah terayu olehnya.


(Kamu jangan berbuat gila deh Tari, besok hari pengadilanku dengan Ainun, jadi kamu jangan halangi. )


(Aku tidak menghalangimu Pak Reza, kan pengadilan anda dan Mbak Ainun di gelar siang, sedangkan pernikahan kita pagi sekali, benar tidak.)

__ADS_1


Menggenggam erat ponsel, aku menggerutu kesal dalam hati ini. " Si Tari ini, ada aja akalnya. Aku harus gimana. "


__ADS_2