
Sang suster menyenggol lengan tangan sahabatnya, membuat Tari berucap, " kenapa kalian malah diam?"
Menundukkan pandangan, Tari tampak kesal, apa yang ia tanya sepertinya sesuai apa yang ia rasa pada hatinya.
Kepalan tangan, Tari perlihatkan di hadapan para suster. " kalian lihat ini apa. "
Keduanya menelan ludah, sepertinya mereka ketakutan sekali, sampai tak berani menatap Tari lagi.
Mendekatkan lagi kepalan tangan, yang diperlihatkan Tari, kedua suster itu sedikit melangkahkan kaki kebelakang.
"Kenapa, kalian takut, dengan tangan aku ini. "
Tersenyum sinis, keduanya berusaha tidak menanggapi perkataan Tari. " Ibu Tari, sebaiknya anda makan dulu, tak baik untuk kesehatan anda jika anda tidak makan pagi. "
"Aku akan makan, tapi setelah menampar atau menonjok pipi kalian berdua. "
Saking bencinya Tari pada kedua suster dihadapanya, ia sampai membuat aba aba, agar suster itu mengaku.
Keduanya memegang pipi mereka masing masing, lalu berkata lagi. " Kami salah apa?"
Pertanyaan kedua suster itu, membuat Tari semakin senang. " Mm, kalian bingung. "
"Coba jawab yang jujur, aku akan menampar kalian, kalau jawab bohong aku akan meninju wajah kalian, bagaimana?"
Pilihan yang sulit bagi keduanya, Tari saat itu, sangat menyebalkan sekali bagi sang suster.
"Sialan, wanita gila ini benar benar membuat aku kesal. " bergumam dalam hati.
__ADS_1
Keduanya saling menatap satu sama lain, dimana Tari terlihat tak sabar ingin melayangkan sebuah tamparan atau sebuah tonjokan, agar keduanya mengaku.
Kalau pun berbohong, pastinya. Tari tak akan rugi, toh bisa meninju keduanya.
Kedua suster kembali menatap tangan Tari, dimana tangan itu bersiap siap, ingin meninju kedua wajah mereka.
Menghela napas, " jadi gimana, kenapa kalian diam saja?"
Pertanyaan Tari, membuat keduanya kini berucap, " Ah, maafkan kami. Bukan maksud kami berkata seperti itu!"
Tari mengerutkan dahi, merasa aneh dengan jawaban kedua suster dihadapannya. " Hahha. Maksud kalian apa?"
Tari menutup mulutnya, menunjuk jari tangan pada kedua wajah wanita yang ada dihadapannya, berusaha menahan tawa.
"YANG JELAS. "
Berdecak kesal, tangan pada akhirnya dilayangkan pada wajah kedua suster dihadapannya.
Plakk ...
Plakk ...
Kedua pipi suster terlihat memerah, sepertinya mereka kesakitan dan terlihat ingin menangis.
"Kenapa? Hah, ingin nangis. "
Keduanya menggelengkan kepala, Tari yang melihat hal itu begitu senang, ingin tertawa plus senang bisa membalas perlakuan suster di rumah sakit.
__ADS_1
Melipatkan kedua tangan, "jadi gimana kalian masih mau membicarakan aku lagi dibelakang dengan tertawa tawa seperti orang gila? Hah. "
"Ahk, tidak. Maafkan kami. "
"Ya sudah, kalau begitu kamu suapin aku, dan kamu lagi. Cepat pijitin kedua bahuku. "
Keduanya malah diam, saling menatap satu sama lain. " Heh, malah bengong, cepat. Kalian ini tuli, budek, apa bisu. "
"Iya."
Keduanya mulai melakukan apa yang diperintahkan Tari, sampai Tari lupa perjanjian suster yang mengancamnya membuat surat rujukan rumah sakit jiwa.
"ah, ini baru enak. "
Tari diperlakukan seperti raja, dimana mereka benar benar terlihat menyedihkan. " Yang keras dong, kalian ini gimana sih, cemen. "
Keduanya tampak kesal, salah satu suster yang memijit, kini membulatkan mata, memberi kode. Sampai dimana. " Ahk. "
Teriakan Tari, membuat suster terkejut. " Kenapa?"
"Kenapa, kenapa. Heh, kamu gila apa. Bisa mijit tidak sih. "
"Ya ampun maaf."
" Maaf, maaf, dasar tidak berguna. "
Tari yang sudah tersudut emosi, kini memukul suster itu dengan tangannya. "Kalau
__ADS_1