Bertukar Peran Dengan Istriku

Bertukar Peran Dengan Istriku
Bab 39


__ADS_3

Tari membawa sebuah map berukuran cukup lumayan besar kepadaku, dimana ia melemparkan map itu pada wajahku," Anda lihat itu. "


Aku langsung memungut map dan isi kertas yang berserakan di atas lantai, merapikan perlahan berkas itu lalu melihatnya satu persatu. " Bagaimana apa anda akan berubah pikiran. "


Betapa bodohnya aku tidak membaca dari awal surat perjanjian yang dibuat oleh Tari, semua isi surat itu sangatlah memberatkan bagiku.


" Selama 1 bulan ini, jika anda tidak membayar denda dan juga uang 10 juta itu, anda otomatis akan keluar dari rumah ini. Berhubung anda masih menjadi suami saya. Saya tidak akan memberatkan anda sama sekali. "


Tari benar-benar memerasku saat ini, mencari kesempatan dalam setiap masalah.


" Licik kamu. "


Ainun tiba-tiba saja mengambil berkas yang masih berada pada tanganku, dia membaca setiap lembar kertas itu dengan begitu teliti.


" Sepertinya. Kamu bisa aku tuntut saat ini juga?"


Tari terdiam, kedua matanya berusaha menghindari tatapan Ainun. Aku yang kurang mengerti kini bertanya padanya. " Maksud. "


Ainun memperlihatkan baris kata dari map yang ia pegang, " kamu lihat mas, dari baris kata ini ada tulisan seperti ancaman. kamu tahu sendirikan, orang yang mengancam seperti ini bisa kita tuntut. "


Aku tidak pernah berpikir akan hal itu, tapi Ainun benar-benar luar biasa, iya bisa membuat Tari seketika lemah.


" Kalian jangan mengada ngada, tidak ada ancaman dari perjanjian yang saya buat itu. "


"Tapi aku baca kok."


"Ainun, anda hanya membalikkan fakta agar suami anda itu tidak bersalah, mencari pembenaran yang malah membuat saya mengalah. "


Ainun malah menutup mulutnya untuk tidak tertawa, " Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu Tari. Atau kamu sudah ketakutan duluan."


Aku mulai mencairkan suasana, menenangkan Tari dan juga Ainun untuk tidak berdebat lagi.


" Apa yang kamu inginkan sekarang, Tari?"


Aku ingin masalah ini selesai, hari ini juga. " Saya ingin anda menjadi suami saya seutuhnya, ceraikan wanita itu."


"Tari, mana mungkin. Bukannya kamu tahu sendiri, aku punya tiga anak."


" Saya tahu anda punya tiga anak. Memangnya kenapa dengan anak-anak anda?"


"Aku ingin anak anak bersamaku!"

__ADS_1


"Ckk, hanya itu. Gampang, aku bisa mengurus mereka, kamu tinggal ceraikan Ainun. Kalau tidak mau ya sudah by by. "


"Tari, jangan gila kamu. Ini masih rumahku. "


"Ya sudah, makanya pilih saya atau Mbak Ainun. "


Sialan, Tari malah menekanku untuk memilih salah satu dari mereka berdua, rasanya ini benar benar tak adil, Tari terus mengancam dan memperbudakku.


"Ayo pilih, susah amat. "


Menghela napas, Tari terlihat merengut, wajahnya seakan tak sabar menunggu jawaban dariku.


"Tunggu mas, kamu jangan asal pilih. "


Tari seperti tak terima akan perkataan Ainun, ia berkacak pinggang lalu berucap, " asal pilih, anda menyepelekan saya. "


Dengan tegasnya Ainun berkata, " iya, aku ragu kalau nanti Mas Reza memilih kamu, anak anakku akan terlantar, kamu kan tidak bisa mengurus anak kecil. "


Tari terlihat emosi dengan perkataan Ainun, ia tampak murka dan berkata, " sialan sekali anda mengatakan saya tidak bisa mengurus anak kecil. Mengurus ketiga anak-anak anda itu, adalah urusan yang sangat kecil bagi saya. "


Ainun tiba tiba meledek Tari, " oh masa iya, aku tak percaya. Bisa buktikan nggak. "


"Anda terlalu menyepelekan kehebatan saya sebagai seorang istri dan ibu."


"Kalian bisa tidak, jangan terus beradu mulut. "


"Tidak bisa pak, istri bapak ini. Terlalu menyepelekan keahlian saya. Dia tidak tahu saja, kalau saya, jago dalam segala bidang. "


"Segala bidang. "


Ainun tertawa terbahak bahak, di depan Tari, dimana wanita itu mengumpat dengan berkata. " jangan tertawa kamu. "


"Lantas aku harus apa, menangis. "


Tari seperti tak terima, ia kini menjambak hijab yang dikenakan Ainun." Kurang ajar kamu. "


Ainun tak ingin kalah dengan jambakan tangan Tari, ia membalas dengan menarik baju Tari sampai robek.


"Ahk. Baju saya. "


"Rasakan ini, emang enak. "

__ADS_1


Ainun mempelihatkan amarahnya dihadapanku, membuat aku menelan ludah. Bergumam dalam hati, " Ainun kok kelihatan sangar ya. "


Denis datang memegang kedua tanganku, " papah, papah ini. "


Anak mungil itu memberikan sebuah gelas berisi air padaku, dimana ia menyuruhku untuk mengguyur Ainun dan Tari saat itu juga.


Byurr ....


Keduanya, berhenti berdebat, aku tidak mengerti dengan perkelahian wanita yang tak ada ujungnya saling menyalahkan satu sama lain.


"Stop, kalian ini bisa berhenti tidak, aku pusing lihat kalian bertengkar seperti ini. Kalian tidak lihat ada anak anak disini. "


Aku mencoba menasehati keduanya, di mana Tari berkata kembali, " Sudahlah Pak. Sekarang anda pilih saja di antara kami berdua, mau pilih Mbak Ainun atau saya. "


Tari kembali lagi melayangkan sebuah pilihan kepadaku, membuat aku menghela napas terasa begitu panjang.


" Sudahlah sebelum Mas Reza memilih kita berdua, sebaiknya kamu buktikan dulu ucapan kamu, kalau kamu memang pintar dalam segala bidang menjadi seorang ibu dan juga istri. Bukan hanya omong kosong belakang. "


" Anda terlalu menyepelekan saya Mbak Ainun. "


" Ya sudah kalau begitu. Sekarang aku akan pulang ke rumah, aku akan menitipkan ketiga anak-anak di rumah ini, biar kamu bisa membuktikan perkataan kamu itu."


"Oke, saya terima tantangan anda Mbak Ainun."


Tantangan apa lagi yang mereka lakukan dan mereka janjikan, sampai-sampai melibatkan ketiga anak-anak.


Ainun mulai berpamitan kepadaku untuk menitipkan ketiga anak-anaknya, terlihat ia mencium Kayla dan juga Kania begitupun dengan Denis, untuk berpamitan pulang.


Padahal bukan ini yang aku harapkan. Aku ingin keluarga yang utuh seperti dulu, bukan pembuktian dan juga pertarungan antara


Tari dan juga Ainun.


Saat Ainun melangkahkan kakinya keluar rumah, aku mulai mengejar istriku, menghentikan langkah kakinya.


"Ainun tunggu. "


ia membalikkan badan lalu menjawab panggilanku yang terus mengejarnya," padahal dalam hatiku aku sudah memilih kamu, kenapa kamu malah membuat rencana seperti ini, aku takut jika nanti Tari yang memenangkan semuanya."


" Kamu jangan kuatir soal ini mas, Aku sengaja melakukan semua ini agar Tari tidak bisa menguasai rumah kita ini, aku juga sudah sadar akan diriku yang terlalu menekan kamu, tidak memaafkan kamu saat itu. "


" Sudahlah aku yang terlalu bersalah pada kamu. Di mataku kamu itu tidak salah apapun Ainun, yang salah itu aku, aku terlalu egois saat menjadi seorang ayah dan juga seorang suami."

__ADS_1


Tari datang menghampiri kami berdua, Iya berjalan dengan melipatkan kedua tangannya," sepertinya Mbak Ainun mau membuat Pak Reza tidak memihakku ya. "


" Tari, kamu buang sifat negatifmu itu. "


__ADS_2