
"Pak."
"Jangan tanya hal itu, Tari. Beri waktu aku untuk berpikir sejenak. "
Aku pergi meninggalkan gadis itu, tak mempedulikan teriakannya sama sekali.
"Pak Reza. "
Kini pikiranku benar benar kacau, melepaskan Ainun malah membuat hatiku bimbang, apalagi setelah mendengar perkataannya tadi.
Mengusap kasar wajah, " Apa yang aku lakukan ini sudah benar?"
Duduk di kursi, langkah kaki terdengar mendekat ke arahku, " Mas Reza. "
Ainun kembali mendekat ke arahku, ia tersenyum. Membuat aku bangkit dari tempat duduk. " Ainun. "
Iya tiba tiba menamparku.
Plakk ….
"Ainun, apa maksud kamu. "
"Maaf mas, dari tadi tanganku gatal. Ingin tampar kamu, sekarang kesampaian. "
" Sialan. "
Ainun pergi begitu saja setelah berhasil menamparku tanpa kejelasan, mengepalkan kedua tangan.
*******
Keesokan harinya, aku pulang ke rumah membawa ibu. " Reza, apa Ainun masih ada di rumah ini. "
"Pastinya bu, kita kan belum resmi bercerai menurut pengadilan. "
" Syukurlah, ibu ingin bertemu dengan Ainun. Reza. "
"Iya bu. "
"Jangan bercerai dengan istrimu. "
Mendengar perkataan ibu membuat aku semakin bingung, aku tak bisa berpegang teguh pada pendirianku. Pikiranku selalu berubah ubah.
Tangan yang terlihat mengkerut, kini memegang punggung tanganku, " Reza, kamu dengar kan apa yang ibu katakan, kalau kalian bercerai yang jadi korban itu anak anakmu. Kasihan mereka. "
Yang selalu dibahas pasti anak anak, padahal tidak ada kaitannya perceraian antara sepasang suami istri dengan anak anak. Setelah bercerai, ya anak anak akan menemukan suasana baru dan ibu baru yang jauh lebih baik daripada Ainun.
Ceklek.
__ADS_1
Pintu terbuka, sosok Ainun dan ketiga anak anak keluar, dimana aku terkejut dengan mereka yang membawa koper dan tas besar.
"Ainun." Ibu memperlihatkan kesedihannya di depan Ainun, terlihat jika wanita tua yang menjadi ibuku sangat menyayangi Ainun. Berbanding balik denganku yang muak dan benci akan sifatnya yang selalu melawan.
"Ainun."
" Ibu. " Tangan mengkerut itu kini memegang punggung Ainun, " Ainun jangan pergi ya, ibu mohon. "
Wajah Ainun kini menunduk, memperlihatkan kesedihannya, " Bu. "
Air mata mulai jatuh perlahan pada pipinya, aku yang melihat pemandangan itu merasa tak ada rasa simpati sama sekali.
"Bu, Ainun izin pamit bawa anak anak ya. "
Mendengar perkataan Ainun membuat aku menimpal. " Hey, siapa suruh kamu bawa anak anak. Belum ada keputusan dari pengadilan, kamu jangan seenaknya. "
Ainun mengusap kasar air matanya, ia bangkit berdiri menghadap ke arahku. " Walau belum ada keputusan dari pengadilan, aku tetap membawa anak anak, karena mereka darah dagingku, aku yang melahirkannya dan mendidik mereka."
Telunjuk tangan, tak segan menunjuk pada wajah Ainun, " mereka juga darah dagingku, aku yang membiayai mereka, memberi mereka makan. "
Ainun menundukkan wajah," ya, memang. Tapi yang berhak sepenuhnya atas anak anak, aku, mas. Aku ibunya. "
"Aku tak peduli, anak anak tetap bersamaku. "
Si kembar dan Denis menangis, mereka memeluk ibu, setelah mendengarkan perdebatan antara aku dengan Ainun.
"Tetap saja, aku tak setuju. Anak anak tetap ikut bersamaku. Titik. "
Aku mengusap kasar wajahku, " Kalau anak anak ikut denganmu, mereka makan apa, kamu itu hanya ibu rumah tangga yang tak becus mengurus anak.
"DIAM."
Ibu berteriak di depanku, menghentikan perdebatan antara aku dan Ainun. Kedua mata wanita tua itu berkaca kaca, " Kalian ini, bisa tidak berdebat lain kali saja, jangan di depan anak anak. Kalian lihat Denis dan si kembar,
mereka menangis ketakutan, melihat kalian terus berdebat tak ingin saling mengalah. "
"Bu."
"Diam kamu, Reza. Jangan karena kamu kepala keluarga kamu seenaknya pada istrimu, hilangkan rasa egoismu itu Reza, jika kamu terus seperti ini, kamu tidak akan menemukan kebahagian bersama wanita manapun. "
"Tidak bu, Reza akan bahagia. Hanya dengan Ainun saja Reza tidak akan bahagia, karena dia tidak tahu cara menghormati suami."
Ainun tidak pernah membantah perkataan ibu, berbanding balik dengan aku anaknya yang selalu melawan perkataan ibu.
"Bu, sudah. Sebaiknya Ainun pulang saja, bawa anak anak, besok kita ketemu lagi di pengadilan. "
"Ainun, kamu pikirkan lagi. "
__ADS_1
Ibu menahan langkah Ainun yang membawa anak anak, membuat aku berkata, " Sudah cukup bu, jangan tahan Ainun. Biarkan dia pergi, kita lihat saja besok, hak asuh anak anak pasti akan jatuh pada tangan Reza. "
Ainun perlahan melepaskan tangan ibu dengan berkata, " Maafkan Ainun, semua sudah menjadi keputusan Mas Reza yang sudah menalak dan tak menginginkan Ainun, bu. Dari pada Ainun terus terluka, lebih baik Ainun pergi. "
"Ainun." Langkah Ainun membuat ibu menangis, wanita tua itu hampir mengejar Ainun dengan kursi rodanya.
Aku yang tak ingin melihat ibu mengemis pada wanita itu, kini menahan kursi rodanya dan berkata, " sudahlah bu. "
"Anak anak. "
"Biarkan saja, Reza kasih kesempatan untuk Ainun membawa anak anak, karena besok anak anak pasti ikut Reza. "
"Reza, kamu benar benar egois. Harusnya kamu itu tadi mengejar Ainun yang masuk ke dalam mobil. "
"Sudahlah bu, untuk apa? Buang buang waktu saja. "
Aku masuk ke dalam rumah, tak mempedulikan ocehan ibu yang terus membela Ainun.
"Reza."
Teriakan ibu membuat aku, mengambil hedset. Menutupi telinga, " kalau begini kan jadi enak. Nggak pusing dengar ibu ngoceh terus. "
Menghela napas, duduk di kursi dengan perasaan tenang. Sampai aku terlelap tidur, tak tahu ibu kemana, aku tak peduli.
Yang terpenting sekarang, aku bisa menikmati hidup tanpa gangguan siapapun.
Hingga beberapa menit kemudian, " Pak Reza. "
Seseorang menarik hedset, mengganggu ketenangan jiwa ini.
Membuka mata, aku terkejut dengan kedatangan Tari yang sudah ada di depan mataku. " Tari, sejak kapan kamu datang kesini?"
Tari tersenyum lebar, dimana aku melihat pintu terbuka lebar. " Barusan, pak. Kebetulan pintunya terbuka, saya panggil bapak nggak nyahut nyahut, ya sudah saya memberanikan diri masuk ke dalam rumah ini, bapak nggak marah kan sama saya?"
Aku mulai duduk, "ayo duduk dulu. "
Menatap wajah gadis itu, " untuk apa saya marah, saya senang kamu datang kesini. "
Aku menatap kesana kemari, mencari keberadaan ibu, " cari apa, pak?"
"Ahk, itu. Tadi ibu ada di luar rumah, tapi sekarang tak ada!"
"Mm, ibu. Pas saya sampai di rumah bapak, saya melihat ibu tadi naik taksi sendirian. "
"Naik taksi, sendirian, ibu ini ada ada aja, sepertinya ibu mau nyusul Ainun dan anak anak. Ahk, wanita tua itu bikin repot saja. " Gerutuku dalam hati.
"Bapak kok, kayak gelisah begitu, apa yang bapak pikirkan. "
__ADS_1
"Sebenarnya saya mikirin ibu yang pergi sendirian, ibu saya itu ngeyel kalau dibilangin. "
Tari tiba tiba mengusap lembut punggung tanganku, ia mempelihatkan kacing bajunya yang terbuka. " Pak Reza. "