Bertukar Peran Dengan Istriku

Bertukar Peran Dengan Istriku
Bab 30


__ADS_3

Di dalam mobil Tari tersenyum bahagia, melihat aku seperti buronan yang pada akhirnya tertangkap oleh para warga dan juga kepala desa di tempatnya.


"Tari. Kamu ...."


Tari menyandarkan pipinya pada telapak tangan, ia memotong pembicaraanku yang belum terlontar semuanya." Kenapa Pak, kamu kesal kepadaku?"


Aku mengepalkan kedua tanganku, berusaha tidak terpancing emosi dan menyakiti gadis di hadapanku." Tari. Aku baru sadar sekarang. Kamu ini wanita licik."


Tari malah tersenyum kecil, iya tak memperlihatkan rasa bersalahnya," Loh, kok bapak malah nyalahin Tari? Bapak harusnya nyadar diri dong."


Mendengar perkataan itu membuat aku menghela napas berpikir dengan jernih, sampai di mana Gadis itu mendekatkan bibirnya pada telingaku," Bapak jangan lupa ya. Bapak juga pernah menyentuh tubuhku, Apa bedanya kita ini pak, sama sama salah."


Perkataan Tari benar-benar membuat aku menjadi seorang pria brengs*k, aku yang tak ingin kalah dengan perkataannya kini menjawab," Kalau kamu tidak menggodaku, mungkin aku tidak akan menyentuh tubuhmu yang murah itu."


Sepertinya Tari kesal kepadaku saat hinaan aku layangkan kepadanya," kamu marah. Ayo marah saja."


"Sialan."


Kata-kata kasar kini terlontar dari bibir tipisnya," terserah bapak mau hina bagaimana pun. Yang terpenting sekarang, kita menikah."


Aku mengusap kasar wajahku, menatap tajam ke arah Tari. " Gadis ini benar benar, hmm. "


Sampai di balai desa, Tari yang sudah berdandan seperti pengantin, tampak terlihat begitu bahagia. Iya mulai memegang tangan kananku, tersenyum lebar. 


Aku yang merasa risih dengan tangannya kini menghempaskan begitu saja, " Bapak, mau aku masukan ke dalam penjara. "


Karena perkataannya itu membuat aku seketika menurut, pada akhirnya aku mengalah menjadi seperti budak yang menuruti perintah sang majikan. 


"Nah, gitu dong. "


Aku sangat berharap sekali.  Jika Ainun datang menyelamatkanku seperti sang pahlawan di dunia khayalan, walau itu semua tak mungkin. 


"Jangan bengong, ayo duduk. "


Mendengar perkataannya, membuat aku pada akhirnya duduk, melihat Amil yang sudah menunggu dari tadi. 


"Jadi sudah siap?"


Semua menganggukkan kepala apalagi dengan Tari yang begitu bersemangat. 


Tari terus menyenggol lengan,  membuat aku menatap ke arahnya, " Fokus dong. "

__ADS_1


Bagaimana aku bisa fokus dengan semua  pernikahan terpaksa ini. 


Ponselku kini kembali berbunyi, aku bangkit dari tempat dudukku. Dimana orang-orang melirik ke arahku,  sedangkan Tari menyuruhku untuk duduk, namun aku tak mendengarkan perkataannya.  Karena melihat layar ponsel, bertuliskan dari pihak rumah sakit. 


"Apa jangan jangan terjadi sesuatu pada ibu. "


"Pak, ayo duduk. "


Tari terus menyuruhku untuk duduk melanjutkan acara ijab Qobul, " Ayo. "


"Pihak rumah sakit menelepon, aku takut ibu kenapa kenapa?"


"Kamu jangan pikirkan hal itu, kita gelar dulu acara pernikahan ini. Setelah semua selesai, baru kita temui ibu kamu di rumah sakit!"


Aku tidak setuju sama sekali dengan perkataan Tari, " Tidak. "


Aku mulai mengangkat panggilan telepon dari pihak rumah sakit, namun tanpa aku duga Tari mengambil ponselku. "Tari, cepat kembalikan ponselnya?"


Tari menggelengkan kepala duduk dan menarik tangan, " cepat duduk selesaikan ijab qobul ini, setelah ini aku akan berikan ponsel bapak. "


Pada akhirnya aku mulai menurun lagi kepada Tari, karena melihat warga di sana seperti bersiap-siap untuk mencegahku pergi. Pada akhirnya aku selesai mengucapkan janji suci di hadapan para saksi dengan hati yang terpaksa. 


Aku menatap ke arah para warga yang ada di sana, tak ku temui keberadaan Ainun saat itu. 


"Ainun. Aku kira kamu akan menjadi siluman laba laba di dunia film yang menyelamatkan aku dari orang jahat seperti Tari ini. " bergumam dalam hati, Tari mulai memberikan ponselku. " Nih, sekarang kamu boleh menelpon pihak rumah sakit. "


Aku mengambil ponsel itu dengan perasaan kesal kepada Tari, " Ayolah pak, ngapain Bapak malah menatapku seperti itu.  Yang terpenting aku kan sudah menepati janjiku, memberikan ponsel bapak, setelah acara Ijab Qobul selesai. "


Aku mulai bangkit dari tempat duduk meninggalkan acara pernikahan, menatap layar ponsel, pihak rumah sakit sudah meneleponku beberapa kali. 


Membuat perasaanku begitu gelisah, terutama mengingat keadaan ibu yang belum aku temui seharian ini. Memencet tombol keyboard dengan tangan yang terasa bergetar, memikirkan Keadaan ibu sekarang, takut terjadi sesuatu hal, yang nantinya membuat aku menyesal seumur hidup


Namun betapa terkejutnya aku, Ainun menelepon. Di saat aku mulai menelepon pihak rumah sakit.


"Halo, Ainun. "


"Halo, mas. Kemana saja kamu ini, ibu keritis, kamu biarkan sendirian, dan sekarang Ibu meninggal dunia kamu tidak datang ke rumah sakit. "


Aku terjatuh ke atas lantai, setelah mendengar berita yang tak kuharapkan sama sekali dalam hidupku. Rasanya baru kemarin aku tertawa bersama ibu, menceritakan masa-masa sulit bersama Ainun.


" innalillahi wa Innalillahi rojiun. "

__ADS_1


Tubuhku begitu lemas, setelah mendengar berita kematian ibu dari Ainun, ponsel yang aku genggam erat kini tergeletak di atas lantai.


Suara Ainun dalam sambungan telepon masih dapat kudengar, aku yang benar-benar menyesal tak bisa mengeluarkan suara satu patah kata pun.


"Halo, mas. "


"Halo."


Tari yang menyusul, kini melihat keadaanku. Iya mengambil ponsel yang aku biarkan tergeletak begitu saja di atas tanah.


"Halo."


Mendengar suara Ainun membuat Tari langsung menjawab, " Halo, Mbak Ainun. "


" Owh, jadi suamiku bersama kamu, pantas saja ia tak datang ke rumah sakit. "


"Jelas dong, kami kan melangsungkan pernikahan. "


Bangkit dari atas tanah, berdiri berhadapan dengan Tari, tak suka dengan perkataannya, aku rebut ponselku dari tangan Tari.


"Pak."


Aku mematikan sambungan telepon yang masih terhubung dengan Ainun. Tari menunjuk ke arah wajahku, " pantas saja tadi kamu ngebet ingin menganggkat panggilan telepon, ternyata dari mantan istri. "


"Jaga ucapan kamu itu, jangan asal menunduh. "


"Menuduh bagaimana, itu sudah ada buktinya, masih saja mengelak. "


"Asal kamu tahu Tari, gara gara kamu ibuku meninggal dunia. "


Tari membulatkan kedua matanya, Iya seperti orang yang tak percaya dengan apa yang aku katakan. " Kenapa, kamu masih tak percaya. "


Tring ....


ponsel kembali berbunyi, tanda satu pesan datang, Ainun mengirimkan foto terakhir ibu. " kamu lihat ini, Ainun meneleponku karena aku tak mengangkat panggilan dari pihak rumah sakit, kalau bukan karena dia. Mungkin aku tidak akan tahu bagaimana keadaan Ibuku saat ini. "


Tari tampak diam, " semua ini gara-gara kamu Tari. Andai saja kamu tadi malam tidak memfitnahku, mungkin aku masih bisa menemani Ibu di saat terakhirnya, tapi sekarang kamu lihat ini, Ibu meninggal dunia tanpa ada aku di sampingnya. "


"Pak, Kenapa juga anda malah menyalahkan saya, itu semua kan sudah takdir, apalagi yang harus disesali kalau, mati ya sudah mati saja. Tinggal di kubur. "


"Tari."

__ADS_1


__ADS_2