Bertukar Peran Dengan Istriku

Bertukar Peran Dengan Istriku
Bab 59


__ADS_3

"Aku bingung harus memilih siapa di antara keduanya, Tari tidak bisa memiliki anak lagi, kehidupannya pasti akan terpuruk tanpa aku, sedangkan Ainun ibu dari anak-anakku, yang sangat aku butuhkan, tanpa Ainun anak anak tidak akan tubuh sehat seperti sekarang. " Gumam hati Reza melihat langkah istrinya yang semakin jauh.


"Pak." Tari berusaha menahan tangan Reza dengan sekuat tenaga yang ia punya, agar Reza tak mengejar Ainun. " Pak, jangan pergi ya, saya mohon. "


Tari tak mau hidup tanpa Reza, bagi dirinya Reza sangat berarti, walau ia sering tersakiti berulang kali, karena sifat dan prilaku Reza yang egois.


Permohonan Tari, tak di dengar sama sekali oleh Reza, lelaki berbadan kekar itu malah melamun.


"Apa yang sedang anda pikirkan Pak Reza, anda tidak kasihan terhadap saya?" Pertanyaan Tari, menganggu cara berpikirnya Reza untuk memilih salah satunya.


"Pak Reza, anda lihat saya. Betapa kasihannya saya ini yang sekarang. Saya butuh sosok lelaki yang menerima saya apa adanya seperti anda, saya mohon jangan pergi menemui Ainun. "


Menghela napas, kata memelas yang keluar dari mulut Tari berulang kali, membuat Reza tak tahan. Ia mencoba memikirkan yang terbaik baginya.


Menatap Tari, Reza tak mengeluarkan suara sedikitpun, ia seperti malas.


"Pak Reza. " Tari berusaha mencari sesuatu yang membuat Reza tidak pergi dari hadapannya.


Melihat makanan pada nampan, yang di sediakan suster, membuat Tari menunjuk dan berkata.


"Pak, saya lapar, tolong suapi saya. "


Tangan Reza masih dipegang erat oleh Tari.


"Tangan kamu, Tari. " Reza menyuruh Tari untuk melepaskan tangannya.


Tari malah tersenyum tipis, dia menjawab perkataan Reza. " Saya takut bapak pergi. "


Reza menggelengkan kepala, " Tari, sepertinya aku akan memilih Ainun. "


Dengan sepontannya berkata seperti itu, Reza seakan tak mempedulikan perasaan Tari. Apalagi rasa kasihan, "Tari, saya sudah memikirkan semuanya dengan matang."


Deg .... Perasaan Tari benar benar tak menentu saat itu, ia malah semakin memegang erat tangan Reza.


"Tari, kamu dengar tidak. Aku sudah memutuskan pilihanku sekarang. "


"Pak Reza, anda bercanda ya?"

__ADS_1


Tari malah mengulur waktu, membuat Reza takut kehilangan Ainun, yang tak sempat ia kejar.


"Tari, ayo lepaskan tanganmu ini. "


Tari masih terlihat terkejut dengan perkataan Reza, ia menitihkan air mata, tak percaya dengan apa yang ia dengar dari mulut lelaki yang ada dihadapannya.


Tari menggelengkan kepala, iya tak mampu menerima kenyataan yang sebenarnya.


"Jangan bercanda Pak, saya ...."


Reza memotong pembicaraan Tari, " saya tahu kamu ini sakit, tapi kamu masih mempunyai kesempatan untuk menikah lagi. "


"Kesempatan bagaimana pak, kalau saya menikah dengan yang lain, apa mereka akan menerima kekurangan saya, seperti bapak?" Tari begitu mengaggulkan Reza, ia begitu takut mencari seorang lelaki lagi untuk menemani hidupnya, sampai nada suaranya terdengar membentak.


"Tari, maksud saya!"


Tari memalingkan wajah, ia mempelihatkan bibir cemberutnya di hadapan Reza.


"Tari."


Tari tak suka dengan ucapan Reza," sebaiknya Bapak cepat pergi dari ruangan ini, kalau memang Bapak tidak merasa kasihan terhadap saya. "


Tari perlahan menatap lagi ke arah Reza, melihat langkahnya yang semakin jauh membuat dia mengeluarkan air mata lagi.


"Pak Reza. "


Nada bicaranya yang pelan tak mampu didengar oleh Reza, lelaki itu terus melangkah pergi dari ruangan Tari.


Tari tak sanggup lagi menahan luka pada hatinya, ia tiba-tiba saja menjerit meronta-ronta, mengatai Reza dengan kata-kata kasarnya.


"Dasar ba***gan."


Reza perlahan menutup pintu ruangan Tari, Iya mendengar namun mengabaikan, tak ingin menambah masalah.


Melangkahkan kaki menjauh dari ruangan Tari, Reza kini menyusul istrinya yang sudah jauh dari hadapannya, perasaannya terasa bimbang, hatinya tak karuan.


******

__ADS_1


Sedangkan di dalam ruangan, Tari malah membulatkan kedua matanya, mengepalkan kedua tangan, suster melihat semuanya.


Perdebatan hebat antara Reza dan Tari, namun sebagai suster yang bekerja di rumah sakit, berusaha tak peduli, dan fokus pada pekerjaanya.


Tari kini menatap ke arah suster yang mengambil makanan di atas meja, suster itu berniat menyuapi makanan ke mulut Tari, agar sang pasien mendapatkan energi dari makanan yang ia bawa.


"Kita makan dulu ya, Bu Tari."


Berusaha bersikap ramah, Suster sedikit ragu ingin menyuapkan makanan pada mulut sang pasien bernama Tari, Karena Suster itu melihat dari sorot mata Tari terlihat kebencian dan kekesalan.


Yang nantinya malah sang suster terkena imbas. Dari kemarahan Tari yang terlihat dipendam.


"Ibu Tari. "


"Apa."


Tari malah membentak ucapan suster, " dimakan dulu makananya. "


"Kamu ini tidak lihat apa saya, sedang kecewa dan sakit hati. "


Tari menatap makanan di atas piring, ia mendelik kesal lalu berucap, " tidak ada makanan yang lain apa. Masa ia sama sayur. "


"Hanya ada ini saja, karena diharuskan makan seperti ini. "


Tari menghindar dari makanan yang dibawa suster.


" Ahk, saya tak suka. Coba makanan yang lain. "


"Tak ada. "


Tari meluapkan kekesalannya di hadapan sang suster, ia melemparkan piring yang masih ia genggam pada tangan suster ini, " rumah sakit apaan nggak bisa ganti makanan. "


Sang suster berusaha sabar menghadapi tingkah pasien, dia menggelengkan kepala lalu membersihkan makanan yang berserakan di atas lantai.


"Kamu ganti makananya, kalau kamu tidak mau ganti saya akan menyuruh pihak rumah sakit memecat kamu. "


Suster tetap fokus, membereskan semuanya sampai selesai. " Kamu dengar tidak."

__ADS_1


Bentakan dari Tari untuk sang suster terus terdengar.


__ADS_2