Bertukar Peran Dengan Istriku

Bertukar Peran Dengan Istriku
Bab 62


__ADS_3

Reza masih menatap layar ponselnya, ia merasakan rasa ragu saat ingin memblokir nomor Tari. Di satu sisi lain, Reza juga harus menuruti perkataan Ainun," ayo mas. "


Berulang kali Ainun menyuruh suaminya untuk segera memblokir nomor Tari, " kenapa masih ragu. "Menghela napas, Reza belum juga memblokir nomor Tari, lelaki berbadan kekar itu masih menatap ke arah Ainun.


" Kenapa?"


Reza mulai mengungkapkan rasa keberatannya untuk memblokir nomor Tari," sebenarnya aku takut sekali, kalau aku memblokir nomor Tari. Wanita itu malah deperesi, apalagi sekarang dia sedang sakit. Kasihan kalau aku tak ...."


Brak ....


Ainun tiba tiba saja membuka pintu mobil dengan keras, tanpa disadari Reza jika istirinya itu sudah ada di luar mobil, " Cepat keluar."


Saat Reza belum mengatakan semua perkataanya kepada sang istri. Ainun dengan amarahnya yang menggebu gebu kini berucap lagi, "Silahkan kamu pergi dari mobil ini. "


Mempersilahkan, tapi Reza malah duduk dengan santainya. "Kenapa? Apa aku salah bicara, karena rasa kasihan. "


Dengan tegasnya Ainun menjawab, " kamu tidak salah kok mas, aku yang salah sudah hampir percaya lagi padamu. "


"Ainun, aku sudah memilihmu, jadi kamu jangan kuatir jika Tari masih menghubungiku, aku akan menganggap dia sebagai adik. "


"Menganggap adik?" Tanya kembali Ainun.


"Iya, menganggap adik, apa aku salah, hanya sebatas adik tidak apa apa kan, toh aku akan menceraikan dia!"


Alasan yang tak masuk akal didengar oleh Ainun dari mulut suaminya, " kamu lucu ya mas, bisanya ngelawak. "


Ainun menarik tangan suaminya hingga keluar mobil, mendorong tubuh suaminya hingga tersungkur jatuh ke atas tanah," kamu ini bukan seorang suami, tapi seorang ba***n yang tidak tahu diri. "


"Ainun, aku ...."


Memukul tubuh Reza berulang kali dengan kedua tangannya, sampai akhirnya lelaki berbadan kekar meringis kesakitan, karena perlakuan sang istri.


"Ainun, masa iya kamu turunkan aku di jalanan sepi seperti ini." Keluh Reza pada sang istri.


Ainun tak memperdulikan perkataan Reza, wanita berhijab putih itu masuk ke dalam mobil, untuk meninggalkan sang suami di pinggir jalan, " Ainun."


Lelaki berbadan kekar itu mulai bangkit dari atas tanah, menarik tangan sang istri agar keluar dari dalam mobil.


"Ainun."


Tanpa di sadari Reza, ia sudah menyakiti istrinya. " Mas, lepaskan tangan kamu. "


"Mana mungkin aku lepaskan tanganmu, biar aku ikut denganmu pulang, Ainun. "


"Tidak mau."


Ainun menendang perut suaminya dengan kaki tangan, sampai, Bruk. Begitu lemahnya Reza, ia tersungkur jatuh untuk kedua kalinya.


Ainun mulai masuk ke dalam mobil, ia melirik ke arah suaminya. " Mas, aku pergi dulu. "


Pintu mobil mulai di tutup, namun Reza dengan sigap bangkit kembali, " Ainun, tunggu. "


Terlihat urat tangan Reza begitu terlihat, ia berusaha menahan pintu mobil yang mulai Ainun tutup.


"Aku bingung sama kamu, Ainun. Aku sudah berubah meminta maaf, tapi kamu. "


Ainun pada akhirnya keluar dari dalam mobil, wanita itu mulai menghadapi ucapan Reza," Meminta maaf, tapi ragu untuk tidak berhubungan lagi dengan Tari, ngomong ikhlas. Tapi pada kenyataanya. "


"Ainun, aku sudah bilang, mau menganggap Tari sebagai adik, agar tidak ada kebencian dan permusuhan di antara kita bertiga. "


Ainun melayangkan lagi sebuah Tawa, " sudahlah mas, aku pergi dulu. "


Ainun yang mulai masuk ke dalam mobil, kini ditahan oleh Reza, lelaki berbadan kekar itu menarik paksa istrinya hingga Ainun terjatuh pada apa tanah.


"Ahk." Terdengar sebuah benturan keras membuat Ainun berteriak kesakitan.


"Ainun."


Reza burusaha membantu istrinya untuk bangkit kembali, namun secara tidak langsung Ainun menolak dengan mendorong tubuh Reza.


"Pergi kamu, aku tidak butuh kamu. "


"Ainun."


"Aku bisa berdiri sendiri. "


Perlahan, Ainun bangkit. Wanita itu masih memperlihatkan kemarahannya," kamu. "


"Ahk."

__ADS_1


Ainun terlihat meringis kesakitan, ia kembali jatuh.


Reza merasa sesutu terjadi pada istrinya." kamu kenapa Ainun?"


Menghentikan Reza, agar tak mendekat padanya, " jangan mendekat. "


Ainun berusaha menahan rasa sakitnya, ia menatap dengan begitu tajam ke arah Reza, mempertegas perkataanya. " Mas, pantas saja aku begitu ragu padamu, saat tadi kamu meminta maaf padaku, ternyata, kamu .... "


Tak meneruskan perkataannya, Ainun berusaha tetap kuat menahan rasa sakit dari tubuhnya, akibat suaminya yang menariknya hingga jatuh ke atas tanah.


"Ainun sebaiknya kita ke rumah sakit. "


Reza begitu mengkhawatirkan keadaan, istrinya yang terlihat meringis kesakitan, sembari memegang perut, ada rasa menyesal pada diri Reza karena sudah bersikap kasar dan menarik tangan Ainun.


"Mas, aku berharap kamu mendengarkan apa yang akan aku katakan sekarang."


"Ainun, Mana mungkin aku mendengarkan ucapanmu kalau kamu begitu meringis kesakitan karena ulah ku sendiri."


Ainun berusaha tetap kuat, ia menghela napas dan berkata. "kalau memang kamu memilihku dan tetap peduli pada istrimu ini, alangkah baiknya kamu tidak berhubungan lagi dengan Tari, membuang rasa kasihanmu itu pada wanita yang sudah menghancurkan rumah tangga kita. Apalagi kamu sampai berniat ingin menjadikan Tari sebagai adikmu, Mas Reza. "


Reza terdiam.


Membuat Ainun berucap dengan menahan rasa sakitnya, " Coba kalau posisi kita dibalik, apa kamu, mau aku seperti itu?"


"Ainun, aku berniat baik. "


"Berniat baik, tapi seperti tak mempedulikan perasaan istrinya ini. "


Reza berusaha menjelaskan semuanya, mencari pembelaan, " Ainun, kamu jangan kuatir, aku sudah menyuruh Tari mencari lelaki yang bisa menerima dirinya apa adanya. "


"Perkataan kamu benar benar tak jelas, mas. "


Ainun tiba tiba saja tak bisa menahan rasa sakitnya, ia mendudukkan tubuhnya di atas tanah. menjerit kesakitan. " Ahkkk. "


"Ainun."


Berlari ke arah Ainun, dimana Ainun berteriak, " jangan mendekat. "


"Tapi Ainun. "


Sampai suara ponsel Reza mengeluarkan suara. " Tari menelepon. "


"Reza, kenapa kamu tidak menganggkat panggilan dari Tari. "


"Tak mungkin. "


"Kenapa tak mungkin, ayo angkat. Kalau memang wanita yang kamu anggap sebagai adikmu nantinya tak akan mengemis lagi cinta padamu, maka buktikan lah sekarang."


" Tapi Ainun. "


"Cepat angkat, atau aku akan. "


"Apa, Ainun. Jangan. "


Ainun menarik baju Reza, mengambil ponsel suaminya. " Ainun, apa yang mau kamu lakukan. "


Pada akhirnya Ainun mengangkat panggilan dari telepon dari Tari, terlihat ia menekan tombol untuk mengeraskan suara.


"Ainun."


Reza terlihat mengambil ponsel miliknya dari tangan Ainun. Membuat ia berkata, " Jangan lakukan hal bodoh seperti ini. "


Namun Ainun malah mengigit tangan Reza, membuat lelaki berbadan kekar itu menghindar dan meringis kesakitan. " Ahk tangaku, kamu gila ya Ainun. "


Terlihat Ainun tak mempedulikan perkataan Reza, ia mengambil ponsel yang terjatuh ke atas lantai, mendengarkan perkataan wanita yang selalu mengganggu kebahagiaan rumah tangganya.


"Halo, Pak Reza, anda dimana. Sekarang saya kesepian, Pak Reza kenapa anda memilih Ainun, sedangkan saya masih mengharapkan anda menjadi suami saya. Saya mencinta anda. "


Terlihat Ainun, tampak murka dan muak dengan perkataan Tari, ia menggepalkan tangan kanan, berusaha menahan diri agar tidak melemparkan ponsel milik suaminya.


"Halo, Pak Reza, tolong beri kesempatan saya. Apa anda tidak kasihan terhadap saya. "


Ainun tersenyum kecil, mendengar perkataan Tari yang terdengar mengemis dan dirasa menjijikan.


"Halo, Pak Reza, kenapa anda tidak menjawab pertanyaan saya. "


"Kalau boleh saya ingin dekat anda terus. "


Kesalnya Ainun, membuat ia tak tahan lagi, " Halo, Tari. "

__ADS_1


"Mbak Ainun. "


"Iya ini saya. " Ainun berusaha tak mempelihatkan rasa sakitnya.


"Mbak Ainun, mana Pak Reza saya ingin berbicara dengannya. "


"Suami saya ada bersama saya, kenapa kamu begitu bersikukuh ingi memiliki Mas Reza, jelas jelas dia sudah memilih saya. "


"Saya nyaman dengan suami Mbak Ainun. "


"Mm, benarkah. Kalau Mas Reza menganggap kamu sebagai adik bagaimana?"


"Mana mungkin, tidak ada adik kakak di antara kami berdua, saya yakin Pak Reza juga beranggap seperti saya. "


Ainun tertawa pelan, menatap penuh kekesalan pada Reza. " Mbak Ainun, beri kesempatan untuk saya dengan Mas Reza. "


Ainun berusaha tetap tenang, walau sebenarnya hatinya begitu sakit, karena sudah dipatahkan beberapa kali oleh Reza.


"Mbak Ainun, apa mbak memberi kesempatan untuk saya lagi?"


Ainun mencoba memancing Tari, dengan sengaja, ia ingin tahu apa jawabannya setelah mengatakan hal yang dipikirkan Reza.


"Ainun, kembalikan ponselnya. "


Ainun malah membulatkan kedua matanya, telunjuk tangan ia tempelkan pada bibirnya. " Diam mas. "


Tak bisa dipungkiri, Reza akhirnya mengalah, ia diam berdiri mematung, menunggu percakapan Ainun dengan Tari.


"Mm, kesempatan. "


Tari tampak semangat, saat Ainun mengatakan kesempatan. " Iya Mbak Ainun, apa Mbak nggak tega sama saya. "


"Bagaimana saya tega, jelas kamu juga tak tega sama saya, sudah menjadi duri di kebahagiaan saya. "


"Tapi, Mbak. Semua sudah jadi takdir. "


"Takdir, apa kamu tidak salah berucap?"


"Benar kan, jodoh maut, itu semua takdir. "


"Jadi kalau aku membunuhmu, itu semua bisa dikatakan takdir. "


"Mbak, itu bukan takdir tapi kejahatan yang di sengaja. mbak. "


Ainun kembali tertawa. " Lantas saat kamu menikah dengan suami saya sama saja kejahatan di sengaja dong. "


"Ahk itu. "


Tari tak bisa berkata kata, dia benar benar terdiam dengan perkataan Ainun yang begitu terdengar cerdas.


"Makannya kamu harus tahu batasan, jadi jangan salahkan takdir, kamu saja yang tak tahu diri, Tari. "


"Mbak kok nyongot. "


"Saya tidak nyongot, saya hanya menasehati kamu agar sadar dari perbuatan jahat kamu yang terus mengemis cinta pada suami saya. "


"Mbak, sekarang berikan ponselnya pada Pak Reza, saya ingin berbicara langsung dengan suami saya. "


"Tapi, Mas Reza tidak mau. Dia hanya ingin bercerai dengan kamu. "


"Bercerai, tidak mungkin. "


"Ya sudah kalau tidak mungkin, dia akan menganggap kamu sebagai adiknya. "


"Adik, tidak mungkin Mbak. "


"Loh kenapa tidak mungkin, kamu memangnya tak mau, lumayan walau jadi seorang adik. "


"Lumayan bagaimana Mbak, saya mencintai Pak Reza bukan sebagai adik tapi sebagai seorang istri. "


"Seorang istri, tapi Mas Reza yang bilang, bahwa dia menganggap kamu sebagai adiknya. "


"Tidak mungkin. "


"Kenapa tidak mungkin, tanya saja. "


"Pasti ini akal akalan, Mbak Ainun saja ya. "


"Mana mungkin, Mas Reza yang ngomong sendiri. "

__ADS_1


"Mana sekarang Mas Rezanya, saya mau berbicara dengan dia. "


__ADS_2