Bertukar Peran Dengan Istriku

Bertukar Peran Dengan Istriku
Bab 13


__ADS_3

(Pak, anda gila ya. Kenapa anda mengatakan jika saya ini wanita murahan.) 


Sudah aku duga, jika Tari akan marah besar padaku. (Tari, saya tidak berniat mengatakan hal itu.) 


Denis yang berada di sampingku terus menarik baju, ia mengajak untuk bermain, namun aku yang sibuk mengabaikan Denis. 


"Papah, ayo main."


"Sebentar dulu ya, nak. kamu main saja dulu sendiri. "


Tanpa aku sadari, ternyata Denis berani pergi sendirian. Walau aku hanya menatapnya sekilas. 


Pesan terkirim, namun tak ada balasan sama sekali dari Tari, " Ahk, ini semua gara gara si Ainun. "


Hingga beberapa menit datang lagi pesan dari Tari. Aku mengira jika ia tak akan membalas lagi atau langsung memblokir nomorku. 


(Tak berniat, apa memang bapak ingin menjatuhkan harga diri saya sebagai wanita.) 


(Bukan begitu, saya benar benar tak ada niat sama sekali berkata seperti itu, yang mengatakan hal itu adalah istri saya.) 


(Ahk, bapak bisa saja mengeles.) 


Aku menggerutu kesal, dimana Denis tiba tiba sudah tak ada disampingku. " Loh, Denis, kemana anak itu. "


Padahal baru saja anak itu menangis, membuat aku memarkirkan motor sementara waktu, anak pertamaku sudah hilang begitu saja. 


Tring, satu pesan datang lagi dari Tari, aku hanya menatapnya sekilas. Mengabaikan dan tidak membalas lagi. 

__ADS_1


" Denis. "


Aku mulai berteriak, memanggil nama anakku. Membuat kepalaku semakin pusing setelah masalah bersama Tari belum juga selesai. Sekarang Denis malah hilang. 


"Bagaimana nanti jadinya kalau aku pulang tidak membawa Denis, Ainun pasti marah besar. "


Menatap jarum jam, masih menunjukkan pukul sepuluh, aku mulai berjalan bertanya pada orang orang yang sedang duduk santai di taman. 


Setiap kali menanyakan kepada orang orang, mereka sama sekali tak melihat keberadaan Denis. " Kemana kamu, nak. BODOH, papah terlalu mengandalkan emosi, "


(Ainun.) 


Mencoba menelepon istriku dengan harapan jika ia langsung mengangkatnya saat itu juga. Karena pesan yang aku kirim belum juga ia baca. 


"Halo, mas. Ada apa?"


"Mas, kamu ini kenapa?"


"Denis!"


Karena panik dan rasa takut, membuat aku susah sekali mengungkapkan semuanya pada istriku. 


"Halo, mas. "


"Denis hilang. "


"Apa. "

__ADS_1


Aku menutup kedua mataku, bersiap mendengarkan ocehan istriku. " Kalau begitu kamu tenang dulu, aku akan kesana. "


Terkejutnya aku mendengar Ainun, tidak mengomel. 


Sampai panggilan telepon mati sebelah pihak, aku tak ingin pantang menyerah, mencari keberadaan anak pertamaku lagi. 


"Denis kamu kemana, nak. "


Kedua kaki ini terasa pegal, seharian berjalan bolak balik mencari keberadaan Denis. 


Duduk di atas tanah, aku mulai stres setelah Denis tak kunjung kembali. 


Aku mulai mengirim pesan kembali pada Ainun, mengirim alamat dimana keberadaanku saat ini. 


" Mas Reza. "


Kini Ainun datang sendirian, ia memegang bahuku. " Apa kamu sudah menghubungi polisi. "


Aku malah menggelengkan kepala, dimana istriku tetap tenang, walau tak bisa aku pungkiri jika dari ujung matanya, keluar rintikan air mata.


"Ya ampun mas, kenapa kamu malah tidak telepon pihak polisi dan pemilik taman ini. "


Mungkin karena panik, aku tak sempat berpikir dengan hal yang dikatakan istriku.


Ainun menarik tanganku, untuk segera mengendari motor.


"Ayo mas, kita ke kantor polisi. "

__ADS_1


Mencoba menjalankan motor, sampai dimana orang orang berteriak, ada kecelakaan terjadi dan sopirnya lari.


__ADS_2