
Belum perkartaan Tari terlontar semuanya, segerombolan suster datang menghampiri Tari.
Wanita yang tertidur di atas kasur, kini membulatkan kedua matanya. Mulut melongo, membuat Tari sedikit panik.
Salah satu suster, melipatkan kedua tangannya, lalu berucap, " mm, ternyata anda tidak menepati janji. Bu Tari. "
Kedua mata menatap ke arah suster suster yang berdiri dihadapan Tari, "Sialan, aku tak bisa mengontrol emosi, sampai sampai mereka datang tanpa aku sadari. "
"Kenapa diam saja, Bu Tari. "
Menghela napas, Tari mulai membela diri.
"Aku hanya memarahi mereka karena mereka salah. "
Suster menatap pada sahabatnya yang mengurus Tari, "Benarkah kalian sudah melakukan kesalahan?"
Kedua suster itu, menggelengkan kepala, " tidak, kami tidak melakukan kesalahan sama sekali. "
Terkejut dengan perkataan kedua suster disamping Tari, wanita itu semakin terpojokan.
"Lihatkan, kedua suster ini mengakui, kalau dirinya tidak salah. "
"Mana mungkin, heh kalian. "
Tari membulatkan kedua mata, berusaha membuat kedua suster itu takluk padanya.
Namun pada kenyataannya kedua suster itu tak takut padanya, mereka begitu takluk. Sampai sampai, Tari dengan nekadnya mencekik salah satu suster dihadapannya.
"Ahk, tolo-ng. "
__ADS_1
Salah satu suster itu meminta tolong, dimana para sahabatnya berusaha menyelamatkan sang suster.
"Bu, Tari. Anda benar benar tak waras, lepaskan sahabat kami. "
"Kalian yang tak waras, kalian membuat aku gila. "
Suster dengan kompaknya, berusaha membantu sang sahabat, menyingkirkan tangan Tari, mengikat tubuh Tari dengan tali tambang.
"Lepaskan aku. "
Tari berusaha memberontak dengan sekuat tenaga yang ia bisa, menyingkirkan tali tambang, agar bisa bebas dari para suster yang membuat ia tak bisa lari.
"Kamu mau kemana?"
Mencoba melawan tapi tak kuasa, tenaga Tari sudah habis, membuat ia tak bisa berbuat apa apa lagi.
Salah satu suster, mulai menyuntikan obat penenang agar Tari tenang dan tak melawan.
Obat bius sudah beraksi, Tari perlahan demi perlahan tenang tak melawan, sampai akhirnya, ia tertidur dengan lelap.
"Akhirnya kita bisa membuat wanita ini tidur juga."
"Iya benar. "
Terlihat Tari terlelap dari tidurnya karena obat bius, suster berunding, mereka begitu yakin akan membawa Tari ke rumah sakit jiwa.
*******
Masalah Tari yang belum selesai di rumah sakit.
__ADS_1
Ainun, masih tak sadarkan diri, alat medis sudah menempel pada bagian tubuhnya. Tak ada satu orang yang menemani sampai dimana.
"Denis."
Bibir tipis itu, mengeluarkan suara. Menyebut nama Denis. " Denis. "
Untuk ketiga kalinya. Air mata keluar dari kedua mata Ainun. Dimana matanya masih menutup.
Pintu terbuka, sosok lelaki datang menghampiri Ainun yang masih tertidur di atas ranjang rumah sakit, " Ainun. "
Lelaki itu duduk, perlahan tangannya dengan lancang, memegang tangan Ainun.
Kedua mata berkaca kaca, ada rasa tak tega melihat wanita pujaan hatinya tak sadarkan diri.
Seragam putih yang dikenakan sang lelaki masih menempel lekat, " Ainun, aku menyesal dulu tidak mempertahankan kamu, kalau pada akhirnya kamu sekarang menderita seperti ini. "
Air mata terus mengalir, membuat lelaki itu berusaha menahannya, " Ainun, jika lelaki itu terus melukai hati kamu, aku tak segan akan merebut dia dari kamu. "
Tangan yang digenggam lelaki berpakaian putih itu, perlahan bergerak, bibir mulai mengeluarkan suara lagi.
"De-nis."
"Ainun, kamu sadar. "
Bertapa senangnya sang lelaki mendengar Ainun mengeluarkan suara, " kamu sadar Ainun. "
"Denis."
Menyebut nama anaknya lagi.
__ADS_1
Sampai.