
Tasya terlihat tak tenang saat Rendy membawa Tari ke dalam rumah. Apalagi Rendy berniat menikahi Tari.
"Bagaimana ini?"
Kegelisahan terus dirasakan Tasya, ia bingung menasehati sang adik yang terus membatah akan perkataanya.
Ceklek. Rendy keluar dari kamarnya, melihat sang kakak masih berdiri di depan pintu kamar membuat ia bertanya," ngapain Kakak masih berdiri di depan pintu kamar Rendy?"
Sang kakak terlihat begitu panik mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut adiknya, dengan memberanikan diri, meluapkan apa yang dirasakan Tasya saat ini. Dengen begitu tegasnya Tasya menjawab!" sebaiknya kamu suruh Tari pulang dari rumah kita, setelah ia bangun. "
Rendy mengangkat kedua alisnya, " memangnya kenapa? Kok kakak jadi ngatur ngatur kayak begitu?"
Tasya berusaha mencari alasan, agar sang adik mau menuruti perkataanya.
"Kakak seperti ini, kakak takut jika tetangga di sini tahu kamu dan Tari belum menikah. "
Rendy malah tertawa setelah mendengar nasehat yang terlontar dari mulut Tasya, " kita ini hidup di kota bukan di kampung, Sejak kapan tetangga di sini mencampuri urusan keluarga kita?"
Perkataan Rendy, membuat Tasya menundukkan wajah, padahal ia ingin menjauhi Tari dengan adiknya, Karena rasa tak suka dari dulu tak pernah berubah di hati Tasya kepada Tari.
Rendy mendekat menatap wajah sang kakak yang terlihat kebingungan," sebenarnya kakak ini kenapa sih, seperti orang yang tak suka melihat adiknya bahagia?"
"Justru kakak berkata seperti ini, ingin kamu bahagia, kakak ingin keluarga kita dipandang orang itu bagus. "
Perkataan Tasya, membuat Rendy semakin menentang. " Di pandang bagus, hahhha. "
Tawa malah dilayangkan lagi oleh Rendy, lelaki berotot itu, tak suka jika hidupnya terlalu memperlihatkan diri di depan orang lain.
"Dinasehati, malah tertawa."
"Terus Rendy harus apa, kakak ini terlalu berlebihan. Sudahlah jangan dengarin apa kata tetangga. Toh kita makan bukan dari hasil kerja mereka, biarkan saja mereka mau mengomentari tentang keluarga kita. "
"Kamu ngeyel sekali kalau dibilangin Rendy. "
Menggelengkan kepala, pusing dengan tingkah dan perkataan adiknya yang tak peka.
"Sudahlah kakak, sebaiknya kakak urusin saja suami kakak yang tak pulang pulang itu. "
"Rendy."
" Kenapa kak, salah ya Rendy ngomong kayak begini?"
Tasya terdiam, Iya tidak menjawab perkataan adiknya, malah pergi begitu saja. Membuat Rendy memanggil wanita yang lebih tua darinya.
__ADS_1
" Kak Tasya. "
Tak ada respon sama sekali, dari Tasya saat sang adik memanggil namanya berulang kali.
" Sebenarnya Kenapa sih dengan dia, senang sekali ngurusin hidup orang, apalagi kehidupanku."
Rendy menggerutu Kesal. Di mana kata-katanya itu terdengar oleh telinga Tasya.
Tasya kini masuk ke dalam kamarnya, iya menutup pintu dengan begitu keras, memperlihatkan kekesalannya terhadap sang adik.
Duduk di ujung kasur, membuka sedikit jendela di malam hari. Hawa dingin mulai terasa pada tubuh Tasya saat itu.
"Ahk, dinginnya. "
Tasya berusaha memikirkan cara untuk mengeluarkan Tari dari rumahnya, iya tak mau jika Tari menjadi ratu di rumah yang sudah dibangun oleh kedua orang tuanya.
"Tari, apa yang harus aku lakukan, agar kamu tidak berada di rumah ini. "
Tasya seperti ketakutan jika Tari masih berada di rumahnya, iya begitu gelisah. Memijat kepala yang terasa berdenyut.
" Ahk, pusing. "
Tasya mulai merebahkan tubuhnya di atas kasur, ia tertidur pulas menghilangkan semua rasa pusing akibat memikirkan Tari.
Rendy yang baru saja melihat kekesalan dari raut wajah kakaknya, mulai duduk di ruang tamu, iya mulai melihat layar ponsel yang tergeletak di meja.
Rendy berusaha membuka layar ponsel milik kakaknya, namun ponsel itu mempunyai kata sandi yang tak bisa ditebak oleh Rendy.
"Pake kata sandi lagi. Hah. Kenapa aku jadi penasaran pada kak Tasya ya, kenapa dia tidak suka jika aku berhubungan lagi dengan Tari?"
Rendy mulai berusaha membuka layar ponsel milik kakaknya. Baru beberapa minggu tinggal dengan sang kakak, selepas keluar dari dalam penjara. Membuat rasa curiga menghantui pikiran Rendy terus menerus, memikirkan kata sandi dari ponsel sang kakak.
"Apa ya kata sandinya?"
Gagal lagi, sampai ketiga puluh kalinya dengan kesabaran extra. Pada akhirnya Rendy berhasil, membuka kata sandi dari ponsel kakaknya.
Membuka pesan, di mana percakapan tak terduga mengagetkan Rendy saat itu.
"Mana mungkin, kak Tasya melakukan semua ini. "
Menggenggam kedua tangan, Rendy pada akhirnya bangkit dari tempat duduknya untuk segera menghampiri sang kakak yang berada di dalam kamar.
Mengepalkan kedua tangan, menggengam erat ponsel milik Tasya. " Aku harus mempertanyakan percakapan ini dengan jelas, jika Kak Tasya tidak menjawab, akan aku tekan dia agar mengakui semuanya. "
__ADS_1
Ada rasa tak menyangka akan kelakuan sang kakak yang merugikan Rendy.
Mengetuk pintu dengan begitu keras, berharap suka sosok sampai kita membuka pintu kamar.
Bukan ketukan pintu yang dilayangkan oleh Rendy, tapi sebuah gedoran keras sengaja Rendy layangkan pada pintu kamar sang kakak.
Mengetuk pintu berulang kali, Tasya tak membuka pintu kamarnya, membuat Rendy geram. Sampai akhirnya lelaki berotot itu menendang pintu kamar Kakaknya sendiri.
Berulang kali dengan kekesalan yang terus menggebu-gebuk pada hatinya, Rendy kini berteriak," Kak Tasya keluar. "
Menyuruh keluar sang kakak, namun tak ada respon sama sekali. sampai akhirnya Rendy nekat mendobrak pintu kamar kakaknya.
Pintu itu berhasil didobrak dengan kemarahan yang menggebu-gebu, Rendy melihat jika sang kakak tertidur pulas di ranjang tempat tidur.
Dengan amarah yang menggumpal dalam hati, Rendy dengan begitu kasarnya menarik rambut panjang milik sang kakak, membuat wanita itu bangun dari tidurnya yang begitu lelap.
" Ahk, sakit, Rendy lepaskan tanganmu itu, kenapa kamu menarik rambut panjang kakak. Sakit Rendy."
Setelah mendengar teriakan rasa sakit yang dilayangkan oleh Tasya, pada akhirnya tangan berotot Rendy melepaskan rambut panjang milik kakaknya.
Tasya masih merasakan rasa sakit pada kulit kepalanya, akibat tarikan keras yang dilakukan sang adik.
"Kamu ini kenapa, Rendy. kamu tega nyakitin kakak kamu sendiri, Untuk apa kamu menarik rambut panjang kakak, sampai ke atas lantai seperti ini."
Emosi Rendy terlihat meluap-luap, kedua matanya menatap tajam ke arah wajah sang kakak.
" Coba jelaskan, Sudah berapa lama Kakak melakukan semua ini."
Dengan menunjuk layar ponsel, Tasya terkejut oleh sang adik yang menunjukkan pesan yang tak harus dibaca dan diketahui oleh Rendy.
" Kenapa ponsel Kakak bisa berada pada kamu?"
Pertanyaan Rendy membuat Tasya semakin kebingungan, terlebih lagi Rendy menanyakan maksud dari pesan rahasia yang iya tutup-tutupi selama ini.
"Jawab, kenapa kak Tasya malah diam saja?"
Dengan tegasnya Rendy menekan sangkaka untuk berkata jujur.
" Ayo jujur , kenapa diam saja. "
Rendy tetap fokus melihat gerak gerik kakaknya.
" Baik, Kakak akan jelaskan sebelumnya, tapi kamu tidak boleh marah-marah."
__ADS_1
Tasya berharap sekali jika ia menenangkan suasana, sang adik akan mengerti, " kamu harus tenang dulu ya. "
" Bagaimana aku bisa tenang? kalau kakak sudah memperlihatkan ulah Kakak sendiri."