Bertukar Peran Dengan Istriku

Bertukar Peran Dengan Istriku
Bab 54


__ADS_3

"Jadi gimana, mas?"


Reza masih menatap layar ponselnya, mengirim pesan pada seorang wanita yang menelpon.


" Tak ada balasan lagi!"


Menghela napas, Reza tampak gelisah dengan keadaan Tari yang belum ditemukan sampai sekarang.


" Coba kamu lacak nomor ponsel yang menelpon tadi."


Reza kini mengikuti saran istrinya, nomor ponsel Tasya ternyata langsung terlacak oleh Reza.


"Ini dia. "


"Kamu menemukan alamatnya?"


Reza menganggukkan kepala saat sang istri bertanya kepadanya, " kita pergi sekarang?"


"Ya sudah ayo. Tapi sebelumnya kita harus menitipkan Kayla dan Kania begitupun dengan Denis. "


"Benar juga. Ya sudah kalau begitu kita titipkan dulu ketiga anak-anak kita lalu mencari keberadaan Tari. Gimana?"


"Ide yang bagus. "


keduanya langsung bergegas pergi untuk segera menemui Tari, walaupun penuh dengan keraguan tapi mereka tetap penasaran dengan suara wanita percis dengan suara Tari.


Reza mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi," hati-hati Mas, jalanan yang kita tempuh ini sedikit rame. "


"Iya."


******


Di saat Reza dan juga Ainun mencari keberadaan Tari.


Tasya begitu sibuk menyalahkan ponselnya yang tak nyala sama sekali, berulang kali Ia memperbaiki ponselnya, " ahk, si Rendy ini, dia bisa bisanya menghancurkan ponselku satu satunya.


Mencoba lagi , dengan harapan ponsel itu akan menyala. Di mana Tasya akan memberitahu lelaki yang sedang mencari keberadaan Tari.


"Kenapa nggak hidup hidup sih. "


Hampir saja Tasya tak bisa mengendalikan emosinya, tangannya mulai melempar lagi ponsel yang sudah rusak itu," sabar Tasya. Kita coba lagi." menenangkan diri sendiri agar tetap tenang dan tidak terpancing emosi.


Tasya mencoba lagi, sampai di mana ia berhasil menyalahkan ponselnya itu.


Tasya mendengar teriakan Tari yang meminta tolong, di mana ya begitu penasaran. Apa yang sebenarnya dilakukan Rendy.


"Kenapa Tari berteriak?"


Berusaha mengabaikan, namun teriakan itu begitu terdengar keras, membuat telinga Tasya benar-benar terganggu.


Bangkit dari tempat tidur, Tasya mulai memberanikan diri untuk menemui Rendy dan juga Tari di dalam kamar.


Ia takut jika Rendy tersudut oleh amarah sampai melukai Tari, hingga menjerit-jerit meminta tolong di dalam kamar.


Mengetuk pintu.


Tak ada respon sama sekali, Tasya begitu gelisah.


Ia mendengar suara Rendy.


"Kamu menikmatinya. "


Tasya semakin ketakutan pada adiknya yang bisa saja melukai Tari, mengetuk pintu kamar adiknya kembali.


"Rendy, buka. "


Memanggil nama Rendy berulang kali, ceklek.


Akhirnya pintu kamar terbuka, Rendy sudah tidak mengenakan baju salah itu, hanya handuk yang melingkari bawah perutnya.


"Tari mana. "


Tasya mulai memberanikan masuk ke dalam kamar Rendy, namun terhadang oleh sang adik." Eh, mau kemana?"


" Kakak ingin melihat keadaan Tari!"


Mulai menerobos masuk, Rendy malah mendorong tubuh kakaknya sendiri hingga terjatuh ke atas lantai.


"Ahkk."


Tasya meringis kesakitan akibat dorongan dari kedua tangan sang adik yang begitu kuat," Rendy kamu ini gila ya. "


Rendy membulatkan kedua matanya menunjuk ke arah wajah sang kakak," jangan berani masuk ke dalam kamarku."


Perkataan tegas Rendy, membuat Tasya berusaha bangkit, dengan tangan memegang pinggang yang terasa sangat sakit.

__ADS_1


"Rendy. Aku khawatir dengan keadaan Tari."


Rendy malah tersenyum kecil menjawab perkataan sang kakak," Kakak tenang saja Tari itu baik-baik saja bersamaku. "


" Baik-baik saja bagaimana? Jelas tadi Kakak dengar Tari berteriak meminta tolong, Kakak takut kamu menyakiti fisiknya, kakak tidak mau berurusan dengan Polisi, kalau sampai kamu menghabisi Tari."


Rendy malah menempelkan telunjuk jari tangannya pada bibir tebalnya itu, ia mendekat ke arah sang kakak, berbisik." Kakak jangan Tari, aku hanya memberi dia pelajaran sedikit. Jadi kakak tidak usah kuatir. "


Setelah mendengar bisikan itu Tasya terdiam, sang adik membalikkan badan melangkah untuk masuk ke dalam kamar lagi.


Tasya mulai melirik ke arah samping badan adiknya, ia melihat Tari sedang menangis dengan selimut yang menutupi tubuhnya.


"Tari?"


Entah apa yang dilakukan Rendy kepada Tari, sampai ia melihat Tari seperti kesakitan.


"Rendy."


Tasya mencoba berjalan cepat, untuk segera menemui Tari di dalam kamar.


Namun, Rendy yang menyadari langkah kaki kakaknya, kini berkata. " Stop. Jangan melangkahkan kaki lagi, jika Kakak berani melangkahkan kaki lagi untuk masuk ke dalam kamarku. Aku tidak akan segan-segan mengusir Kakak dari rumah ini. "


" Bagaimana bisa kamu berkata seperti itu, Kakak juga punya hak atas rumah ini. Jangan sembarangan kamu menginginkan rumah ini. "


Rendy malah tertawa terbahak-bahak di hadapan sang kakak," Apakah kakakku ini lupa perkataan ibu. Saat wanita tua itu meninggal dunia? Dan lagi perkataan ayah. Mm. Apakah kakak benar benar lupa atau Kakak pura-pura Amnesia? "


Tasya mencoba mengingat kematian kedua orang tuanya, apalagi wasiat yang ia dengar.


"Sialan, aku benar benar lupa. Ternyata Rendy yang memang berkuasa di rumah ini. " Gerutu hati Tasya. "


"Bagaimana, kakakku sayang, sudah mengigat semuanya. "


"Diam kamu. "


Tasya terlihat kesal pada sang adik, ia melipatkan kedua tangannya, " jangan bersenang hati dulu kamu Rendy. Ibu dan Ayah memberikan harta dan rumah ini, ketika kamu sudah menikah, tapi kalau kamu belum menikah, rumah ini masih atas nama ibu dan Ayah. "


" Jelas, makannya itu, Rendy akan menikah dengan Tari besok, jadi kakak tenang saja. Kalau nanti Rendy sudah menikah, kakak boleh tinggal di rumah ini, dengan syarat jadi pembantu. "


Perkataan Rendy, malah membuat rasa emosi meluap luap di kepala Tasya, bagaimana bisa sang adik berbicara seperti itu.


"Aku ini kakak kamu, bukan orang lain. " Tasya berusaha menasehati sang adik.


"Kamu memang kakak kandungku, tapi aku merasa kamu seperti orang lain. "


Mengepalkan kedua tangan, Tasya ingin sekali memukul kepala adiknya yang keras kepala itu, " Bisa tidak kamu ini berpikir dengan jerni. "


"Tari sudah memiliki seorang suami, ia sudah menikah dan tak bisa menikah lagi dengan kamu!"


"Kakak tenang saja, Rendy akan menyuruh suami Tari untuk menceraikan Tari secepatnya, agar nanti Rendy bisa menikah dengan Tari. "


Dengan begitu santainya, Rendy berucap seperti tak punya beban sedikitpun," tidak segampang itu menikahi orang yang sudah bercerai, harus menunggu masa iddahnya Tari. "


" Sudahlah Kak Tasya. Jangan ikut campur urusan Rendy, sebaiknya kakak urus saja urusan Kakak sendiri. "


Deg ....


Kesal dengan nada bicara sang adik, Tasya berjalan cepat untuk masuk ke dalam kamar dengan melewati Rendy.


Satu kesempatan, Rendy tak bisa menahan kakaknya, karena tiba tiba sekali Tasya menerobos masuk ke dalam kamar.


"Berani kakak masuk ke dalam kamar Rendy. "


Tasya tak mempedulikan perkataan adiknya, ia menghampiri Tari yang sedang menangis terisak isak.


"Tari."


Banyak luka lebab dari tubuh Tari, dimana wanita itu tak memakai baju sehelai pun.


"Kak Tasya, sudah aku bilang jangan masuk. "


Kini rasa takut Tasya hilang seketika, melihat Tari menangis dengan meminta tolong kepadanya.


Padahal Tasya begitu membenci Tari, ia ingin menghancurkan kehidupan wanita yang tersiksa itu.


Namun, melihat Tari menangis kesakitan karena adiknya sendiri, membuatnya tak tega. Tasya merasa bahwa dirinya juga seorang wanita, membayangkan. Bagaimana dirinya saat berada di posisi Tari.


Dengan menangis, Tari mulai meminta tolong kembali pada Tasya, kini kedua tangan Tari memegang tangan Tasya.


"Tolong saya kak Tasya. " permintaan tolong cari membuat hati Tasya tersentuh. Apalagi melihat keadaannya yang begitu mengkhawatirkan.


Bibir yang mengeluarkan suara itu terlihat berdarah. " Rendy, kamu benar benar bereng**. sebenarnya apa mau kamu terhadap Tari, kalau memang kamu ingin menikahinya, kenapa kamu malah menyiksa dia dan memaksa dia melakukan semua ini. "


" Sebaiknya Kakak jangan terlalu ikut campur akan urusanku. "


Tasya semakin kesal dengan jawaban yang terlontar dari mulut sang adik," berulang kali Kakak bilang kakak itu, tidak akan ikut campur urusan kamu. Tapi jangan perlakukan Tari seperti ini. "

__ADS_1


Rendy malah semakin tertawa, " lantas saat pemerkosaan itu, kakak tidak ada hati nurani, melihat Tari digilir, sedangkan dengan Rendy, kakak malah marah, kakak ini waras tidak."


" Kamu harus dengar perkataan kakak, sebenci apapun kakak terhadap Tari, Kakak tidak pernah menyuruh orang untuk memperkosa Tari. "


Rendy terlihat malas sekali berdebat dengan. Ia menarik tangan Tasya, mendorong tubuh kakak wanitanya itu keluar dari dalam kamar.


sang kakak yang tak terima dengan perlakuan adiknya, kini berusaha bangkit membuka Clop pintu kamar Rendy.


" Kakak belum selesai berbicara. Kenapa kamu malah mengusir kakak. "


" Sebaiknya Kakak tidur saja di dalam kamar jangan memperkeruh keadaan saat ini. Aku benar-benar muak mendengar perkataan kakak. "


" Rendy. Bagaimana pun, Tari itu masih istri orang, kamu jangan seenaknya pada dia. "


Rendy tak mendengarkan perkataan kakaknya, ia melanjutkan permainanya yang tertunda.


"Rendy."


Memukul kembali pintu kamar adiknya, Rendy sudah tak merespon lagi ucapan Tasya.


"Anak itu tidak bisa dikasih tahu, malah ngeyel. Apa yang harus aku lakukan saat ini. "


Mencari ide. Sampai suara ketukan pintu depan rumah, terdengar oleh kedua telinga Tasya.


"Pemisi."


Tasya mendengar suara asing di luar rumahnya, ia mengintip, dan betapa terkejutnya.


"Ini gawat. "


******


Di dalam kamar, Rendy menarik selimut Tari, " sayang, kenapa. Ayo kita lanjutkan lagi. "


"Jangan Rendy, saya masih bersetatus sebagai istri Pak Reza. "


"Reza, lagi Reza lagi. Pasti lelaki itu yang selalu kamu bahas. Apa sih sepesialnya dia sampai kamu melupakan aku."


"Maaf Rendy. "


Rasa kesal tak terbendung lagi, pada akhirnya selimut itu berhasil di tarik, Tari berusaha menutup tubuhnya.


Rendy tak mempedulikan perkataan Tari, ia malah ingin menyentuh lagi tubuh wanita yang tak memakai sehelai busana. 


"Saya mohon jangan lakukan lagi."


Ketika Rendy marah ternyata begitu menyeramkan, membuat Tari ketakutan. " saya mohon. " 


Berulang kali  Tari mengatakan permohonan pada Rendy, lelaki berotot itu malah semakin menjadi jadi. Ia tak bisa mengontrol hawa napsunya sama sekali. 


"Tari."


kembali lagi menyebut nama itu, Tari menundukkan wajah, ia terlihat melindungi dirinya dengan kedua tangan. 


"Ayolah, dulu kamu tidak seperti ini. "


Tari malah menangis, luka lebab akibat pukulan Rendy masih terasa. " kenapa kamu malah menangis Tari. " Rendy berusaha menyingkirkan tangan Tari. 


Namun sekuat tenaga, Tari menghempaskan tangan Rendy. Hingga. " Ahkkk. "


Kemarahan lelaki berotot itu tak terbendung lagi, ia mengambil sebuah tali pecut, mengarahkan pada Tari. 


"kamu rasakan ini. "


"Sakit, Rendy. "


"Ini adalah hukuman untuk wanita seperti kamu. "


"Apa salah saya. "


"kamu masih tanya apa kesalahan kamu, Tari kamu sudah menghianati aku. "


Rendy, lelaki yang amat mencintai Tari, kini menitihkan air mata juga, ia mendekat pada tubuh Tari. 


Tari terlihat ketakutan sekali, ia tak sanggup, menerima pukulan dari  Rendy yang begitu menyakitkan. " Ampun Rendy. "


Lelaki berotot itu menarik tangan Tari, memeluk tubuh wanitanya. " Aku tidak akan menyakiti kamu asal kamu mengatakan, jika kamu ingin kembali lagi padaku."


Selama menikah dengan Reza, banyak sekali nasib sial yang dirasakan Tari. " Apa ini hukuman untuk saya. " Gumam hati Tari. 


Tari terdiam dalam pelukan Rendy, hati wanita itu merasa besalah, selama Tari ditinggalkan pergi Rendy ke penjara. 


Tari selalu menggoda Reza, menghasut, agar jatuh kepelukaannya. Terkadang merayu ketiga anak anaknya, ketika Reza sedang ada masalah dengan Ainun. 


" Apa separah ini, hukuman untuk saya. Karena saya sudah merebut Reza dari hati Ainun.  Membuat Reza kadang menyakiti hati Ainun. "

__ADS_1


"Tari."


__ADS_2