
Saat aku tengah memarahi Tari, suara tangisan anak pertamaku terdengar keras. Denis terus memanggil," Papah."
Ia terlihat ingin berlari menghampiriku. " Papah."
Suaranya kembali lagi terdengar olehku, Ainun berusaha menahan Denis, menggenggam erat tangannya. Ainun berusaha membujuk Denis untuk masuk ke dalam rumah, namun Denis tampak tak mau. Iya berusaha melepaskan tangan Ainun untuk segera berlari ke arahku.
"Ayo, masuk. "
Ainun terlihat memaksa Denis, aku yang tak tega melihat anakku menangis terus menerus. Kini menyuruh Tari untuk menunggu.
"Kamu diam disini, aku mau menemui anakku dulu. "
Tari menganggukkan kepala, ia tampak terlihat cuek dan kesal saat menatap wajahku.
Berjalan menghampiri Denis, dimana anak itu menagih janjinya. " papah, kata papah bilang. Mau ajak Denis jalan jalan dan nginap sama mama di rumah kita dulu. Sekarang kok malah pergi sama tante itu. "
"Iya, maafin papah ya. Lain kali saja, sekarang papah sibuk. "
"Sibuk, apa pah. Kok bisa jalan sama tante itu, siapa dia?"
Aku sekilas menatap ke arah Tari, melihat wajahnya tak begitu bersahabat, menghela napas, mengingatkan lagi Denis." Denis sayang, maaf ya. Yang tadi itu, teman papah. "
Anak seumuran Denis, memang masih gemas gemasnya, banyak sekali pertanyaan yang ia layangkan padaku.
Membuat aku kadang bingung menjawabnya.
"Temen papah, tapi kok tadi dia bilang ibu kedua Denis, mana yang benar sih, pah?"
__ADS_1
Inilah yang membuat aku takut salah menjawab, dan malah membuat anak anak terus bertanya karena keingin tahunya.
Menatap ke arah Ainun, ia tampak memalingkan wajah, " Denis, kita masuk yuk. Papah masih sibuk. "
"Nggak mau, Denis maunya sama papah. "
Ainun menundukkan lagi badannya, "sayang, kamu ngertiin papah ya. "
Tari yang aku suruh diam, kini mendekat. " kamu, aku kan sudah bilang tunggu. "
Tari mulai memegang bahu Denis, membuat aku berusaha menghempaskan tangannya. " Jangan sentuh anakku. "
" Hanya buat dia senang saja. "
Aku memberi kesempatan lagi untuk Tari, " Sayang, tadi tante hanya bercanda maaf ya. "
Saat itulah Denis mengerti dan tersenyum kembali, " Owh, bercanda. "
Denis kembali memanggilku, dimana aku tersenyum dan menjawab, " Iya kenapa sayang. "
"Papah, Denis mau ikut papah. "
Deg ….
Ainun mulai mendekat pada Denis, memberi pengertian. " Denis, kamu nggak boleh ikut."
Denis mengerutkan bibirnya, ia memegang tanganku. " papah, Denis mau ikut. "
__ADS_1
Melihat anakku, merengut seperti itu, membuat aku tak tega, pada akhirnya mengusap pelan rambutnya dengan berkata. " Maaf ya sayang, nggak bisa. "
Aku tak mungkin mengajak Denis, karena akan ada pertanyaan pertanyaan yang nantinya ia lontarkan saat Tari berada di rumah.
Tari terlihat memegang tangan Denis, ia tersenyum pada anakku dengan berkata, " Denis mau ikut papah, ayo. "
"Beneran tante. "
Perkataan Tari membuat aku berbisik padanya, " Apa apaan sih kamu, Tari. "
"Biarkanlah, pak, biar aku saja nanti yang urus. "
"Ahk, bukan masalah itunya. "
Denis terlihat loncat loncat kegirangan, ia begitu senang.
Tari mulai menatap anak pertamaku, memberi tahu lagi, " hanya Denis saja yang ikut, mama Ainun nggak boleh. "
Ainun yang menundukkan pandangan, menatap ke arah Tari, " Tari. "
Tari tak mempedulikan panggilan dari Ainun, ia tetap fokus memberitahu anakku.
"Jadi gimana?"
Tari kembali menanyakan sebuah pilihan pada Denis.
Ainun berusaha membujuk anaknya, tapi Tari menekan lagi Denis.
__ADS_1
"Denis, ayo masuk ke rumah. "
Tari memegang tangan Denis. Anak itu terlihat kebingungan.