
"Aku pergi dulu, mas. "
Ainun langsung melepaskan tanganku, ia terburu-buru pergi untuk segera menaiki taksi.
Aku yang tak suka dengan nada bicara Tari, kini kini mendekat ke arahnya," bisa tidak kamu itu tidak usah memfitnah orang lain yang belum tentu salah."
"Bela saja dia, pak. "
Tari terlihat begitu kesal terhadapku, dia berteriak memarahiku. Menunjuk wajahku dengan telunjuk tangan, " dulu saja kamu menjelek-jelekkan istrimu itu di depanku, sekarang malah membela dia dan memuji dia. Kamu memang lelaki tidak tahu diri, ingin enaknya saja. "
Tak terima dengan perkataannya itu, aku langsung menampar pipi Tari dengan telapak tangan kananku.
Plakk ....
Tamparan keras membuat Tari, membulatkan kedua mata. " Dasar gila. "
Tari berlalu pergi meninggalkan aku yang berdiri di depan pintu. Membalikan badan, milihat istriku berjalan berlenggak lenggok, sampai dimana wanita itu melirik sekilas ke arahku, lalu berjalan pergi menghampiri Kayla dan juga Kania.
Hatiku seketika menjadi takut dan was was pada Tari, apalagi saat wanita itu menghampiri kedua anak-anakku, " Apa maksud Tari menghampiri si kembar. "
Aku mulai berjalan menghampiri Kayla dan juga Kania. Dengan sigap kedua tangan ini berusaha menghindari tubuh Kayla dan juga Kania dari hadapan Tari.
Di mana wanita itu malah berkacak pinggang, menatap tajam ke arahku. "kenapa kamu malah menjauhkan aku dengan kedua anak-anakmu."
Aku yang mendengar perkataan Tari kini menjawab dengan lantang. "Aku tidak mau kalau kamu malah menyakiti anak-anakku. "
Ada senyum kecil terlukis dari bibir Tari, wanita itu malah mencoba memegang kedua tangan anak-anaknya.
"Ayo sini, sama tante. Kita main, Kayla dan Kania, pasti mau kan?"
Tari terlihat membujuk kayla dan Kania.
" Sebaiknya kamu membereskan saja rumah, biar Kayla dan juga Kania aku yang mengurus. "
"Sebegitu tak percayanya bapak kepada saya, saat saya berniat mengurus kedua anak-anak bapak ini. "
Ada senyum licik tergambar lagi dari bibir Tari, membuat aku menjadi seorang ayah sedikit was was.
"Tentu saja aku tidak percaya, karena kamu sudah mau menelantarkan Denis ketika sampai di rumah ini, kamu sudah membuat anakku kelaparan."
Tari mendekat ke arahku memegang kedua pipi dengan telapak tangannya," anda tenang saja saya tidak akan membuat anak-anak seperti tadi siang, apalagi sampai membuat dia mati. "
Deg ....
Perkataannya membuat aku langsung memeluk Kayla dan juga Kania, saat iya berkata hal aneh padaku.
Apalagi sampai menyangkut kematian.
Kayla dan Kania, terlihat ketakutan saat berhadapan dengan Tari, mereka memeluk betis kakiku. Merengek ingin tetap bersamaku.
"Kayla, Kania. Waktunya tidur. "
Wajah Tari tidak terlihat seramah sebelumnya, membuat anak anak menarik bajuku dengan berkata, " papah, kami takut. "
Aku mencoba menasehati keduanya, " kalian tenang saja, Tante Tari itu baik, jadi jangan takut. "
__ADS_1
Dreet ....
Ponsel di dalam saku celana, tiba tiba mengeluarkan suara, membuat aku langsung mengangkat panggilan telepon.
"Halo."
Ainun ingin mendengar suara Kayla dan Kania, begitupun Denis, aku yang masih berdiri dihadapan mereka mulai memberikan ponsel pada ketiga anak anakku.
"Mama, Ainun. "
Ketiga anak-anak terlihat senang kegirangan ketika Ainun menelepon lewat ponselku.
"Mama. Mama. "
Mereka terlihat menurut saat mendengarkan nasehat dari Ainun, aku mulai penasaran dengan nasehat yang diberikan Istriku itu.
Mulai mendekat, namun Denis, terlihat tak suka, sampai kuurungkan niat dan rasa penasaranku mendengar nasehat Ainun untuk ketiga anak-anakku.
Melirik ke arah Tari, ya tetap berdiri dengan rasa kesalnya, memberikan kode kepadaku untuk menutup panggilan telepon dari Ainun.
Aku yang tak ingin menjadikan semua masalah, mengambil ponsel itu dari tangan anak-anakku," ngobrol sama Mamanya sudah dulu ya, sudah malam, waktunya tidur sama tante Tari. "
Mencoba memberi pengertian pada mereka, agar Tari yang ada di sampingku tidak merasa kesal lagi.
Pada akhirnya mereka mengalah, memberikan ponsel kepadaku, Tari mendekat pada anak-anakku, ia mengajak mereka untuk segera tidur.
"Denis, kayla. Kania. Ayo kita tidur, yuk. "
Ajakan Tari malah membuat mereka terdiam, seperti tak suka, tangan Tari yang mulai merangkul ketiga anak-anakku dihempaskan oleh Denis begitu saja.
Aku mencoba melihat Tari menahan emosi, " Kenapa sayang?"
Denis mengabaikan perkataanku, anak pertamaku itu langsung membawa adik-adiknya jalan ke kamar tidur.
"Kalian mau kemana?"
Tari mencoba memanggil ketiga anak-anakku, dia berusaha berlari, menghentikan langkah Kayla dan juga Kania.
" Kayla, Kania, ayo Tante Tari bacakan cerita. "
Tangan Tari mulai memegang, tangan kedua anak anakku. " kami bertiga nggak mau dibacakan cerita sama tante Tari. "
Denis langsung menimpal perkataan Tari saat itu juga, " Denis. "
Tangan Tari mulai memegang telinga Denis, aku yang melihat pemandangan itu langsung berjalan ke arah mereka." Tari. Apa yang kamu lakukan pada anakku?"
Tari melepaskan tangannya," hanya pelajaran kecil, pak. Biar anak bapak itu nurut."
Denis menggosok-gosok telinga kanannya, membuat aku langsung bertanya pada anak pertamaku. " Denis, apa yang sudah dilakukan Tante Tari kepada kamu?" aku melihat Denis begitu ragu menjawab perkataanku.
" Denis. "
Anak itu membulatkan kedua matanya menatap ke arah Tari," Tante Tari sudah menjewer telinga Denis, pah."
Aduan, Denis membuat aku geram kepada Tari, " kalau kamu memang tidak bisa mengurus anak-anakku. Kenapa kamu menerima tantangan dari Ainun. "
__ADS_1
Tari terlihat Santai dengan ucapanku, ia melipatkan kedua tangannya lalu menjawab," Kata siapa saya bisa kok mengurus ketiga anak-anak bapak ini, ya, anak bapaknya saja yang bandel. Nggak bisa dikasih tahu kalau orang tua ngomong gitu. "
" Memang iya, tapi kamu bisa kan memberitahu anak kecil dengan cara yang baik, bukan dengan menjewer telinganya. "
Menghela napas, " saya sudah memberitahunya dengan cara yang baik, tapi anak bapak ini tetap saja nggak ya kayak mamanya, dikasih tahu malah melawan,"
Aku tak mengerti dengan akal pikiran yang ada pada kepala Tari saat ini, membawa anak-anak masuk ke dalam kamarnya.
"Kalian tidur ya, papah ada urusan dulu sebentar. "
ketiga anak-anakku langsung mengganggukan kepala, Di saat aku mulai meninggalkan mereka.
Geram dengan tingkah Tari, yang keterlaluan pada
anakku, kini datang menghampiri wanita berambut pendek itu.
"Tari."
Tari terlihat sedang sibuk dengan ponselnya, ia mengabaikan panggilanku, " Tari. "
" Mm, apa sih, pak. "
Wanita berambut pendek itu mulai menaruh ponsel, ia merebahkan tubuhnya di atas kasur menarik selimut menutupi wajahnya, " Tari, aku ingin berbicara dengan kamu. "
Tari begitu acuh kepadaku. Di saat aku mulai menarik selimutnya, " saya cape , mau tidur. "
Geram dengan tingkahnya yang kekanak-kanakan, perlahan aku mulai naik pada ranjang tempat tidur, merebahkan tubuh menatap sekilas ke arah samping istriku.
Dia benar-benar menutup wajahnya dengan selimut, mengabaikan perkataanku. " Sampai kapan aku akan bertahan dengan wanita yang membuat aku selalu kesal. "
Beberapa menit kemudian, rasa lelah menghantui tubuhku ini, aku mulai menutup kedua Mataku untuk segera tidur.
*******
"Pak, pak. "
Aku mendengar Tari terus memanggil-manggilku, Iya menggoyang-goyangkan tubuh ini, membuat aku mengabaikan panggilannya.
"Pak Reza, anak anak kamu itu. "
Mendengar Tari membahas ketiga anak-anakku, membuat aku mulai terbangun dari tidurku.
"Kenapa dengan anak anak. "
" Mereka berisik, coba anda suruh mereka diam. "
Hanya karena urusan berisik, Tari membangunkanku, " biarlah namanya juga anak-anak, asalkan mereka tidak kenapa-napa. "
"Pak Reza, saya terganggu dengan teriakan mereka, Apa anda tidak bisa menghentikan mereka di tengah jam malam ini. "
"Ngantuk, capek. "
Merebahkan kembali tubuhku ini, aku mulai tertidur lagi.
"Pak Reza. "
__ADS_1
Tari begitu berusaha keras membangunkan tidurku, " Pak Reza. "
Sampai dimana. Barkkk.