
Saat ingin mendengar percakapan mereka tiba-tiba, Tari melirik ke arahku. Ia berlari dan langsung memeluk tubuhku saat itu.
"Pak Reza. "
Aku mulai bertanya pada gadis yang menjadi rekan kerjaku itu. " kenapa kamu malah menangis Tari?"
" Istri kamu menyebut. Saya wanita rendah dan juga murahan Pak Reza. "
Mendengar hal itu membuat aku melepaskan pelukan Tari, berjalan ke arah Ainun. " Apa benar yang kamu katakan itu, Ainun?"
Ainun hanya diam ia begitu santainya melipatkan kedua tangan, " iya."
Tamparan mulai aku melayang pada pipi kiri Ainun, namun tanganku tiba-tiba tertahan oleh wanita yang sudah melahirkan anak-anakku.
" kamu mau tampar aku lagi?"
Ainun melepaskan tangan kananku, ia menamparku saat itu juga. Plakk.
" Yang pantas ditampar itu bukan aku tapi kamu, Mas Reza. "
Ainun kini menatap ke arah Tari, menunjuk Tari dengan telunjuk tangannya. " Oh ya untuk kamu Tari, silahkan kamu ambil saja suamiku. Gantikan peranku untuk menjadi istri Mas Reza, aku akan Ridho dan ikhlas. Tidak akan ada rasa penyesalan setelah ini, tapi aku ingatkan kamu, kamu akan merasakan apa yang sudah kamu perbuat oleh dirinya sendiri."
Deg ….
" Jangan sok paling suci kamu Ainun, berbicara seakan-akan bahwa aku ini akan mendapatkan balasan dari perbuatanku. "
Ainun kini memalingkan wajah, " terserah kamu tapi aku. Hanya mengingatkanmu saja Tari. "
Ainun kembali lagi menatap ke arahku, " dan untuk kamu Mas Reza. Terima kasih kamu sudah membuat aku lepas dari penderitaan yang selama ini aku tahan tahan. "
Aku berusaha mendengarkan perkataannya, tak menjawab sama sekali.
"Pak Reza, lawan wanita itu. "
Tari terus mengompori aku untuk melawan perkataan Ainun. Namun aku yang tak mau memperdebatkan masalah, mengabaikan perkataan gadis yang sampingku ini.
Ainun mulai berpamitan pergi dari hadapanku, di mana aku melihat punggung yang terlihat begitu tegas tanpa rasa sedih sedikitpun, ketika aku tak menghargainya lagi.
Setelah kepergian Ainun membuat aku bertanya pada Tari, " Bukannya kamu tadi berpamitan kepadaku untuk pulang, tapi sampai sekarang kamu masih berada disini. Sebenarnya apa yang kalian perdebatkan sampai Ainun menghina kamu. "
"Mm."
Tari terlihat ragu menjawab pertanyaanku, di mana aku menyuruhnya untuk segera pulang.
" Sebaiknya kamu cepat pergi dari rumah sakit ini. Apalagi hari sudah mau menunjukkan waktu malam. "
Tari malam berlenggak-lenggok di hadapanku, membuat aku sedikit menghindar darinya," Anterin. "
__ADS_1
Karena melihat kesedihannya membuat aku terpaksa mengantarkannya untuk pulang ke rumah, " Ya sudah. Ayo naik ke motorku. "
Tari terlihat begitu senang, dia mengikuti langkah kakiku dari belakang.
Kami mulai naik motor untuk segera pulang, di mana tangan lembut itu memeluk pinggangku.
" Pak Reza. "
"Iya."
Di dalam perjalanan pulang, terasa hembusan angin malam menyentuh tubuhku, membuat aku sedikit menggigil kedinginan.
"Kalau sudah cerai, boleh dong Tari jadi penggantinya Mbak Ainun. "
Saat ini aku belum terpikirkan dengan perkataan Tari, di mana aku harus mengurus ibu yang mengalami stroke.
" Tak ada niatku setelah bercerai, mencari sosok pengganti. "
Tari terdiam setelah aku menjawab pertanyaan,
"Sudah sampai. "
Tari mulai turun dari motor yang diparkirkan di depan kontrakannya, ia tampak berdiri tersenyum menatap ke arahku.
" Aku pulang dulu. "
Tari malah sengaja memasukkan kunci motor itu pada tasnya, " sebaiknya Bapak mampir dulu ke kontrakan saya, biar saya bikinin bapak minuman dan juga makanan. "
Aku menatap kesana kemari dimana kontrakan yang ditempati oleh Tari begitu sepi, " Nanti sajalah Tari, di rumah aku masih banyak urusan. Kepalaku benar-benar pusing. Sekarang aku ingin beristirahat. "
Aku menolak ajakan Tari, mau minta kunci itu
pada Tari, " jadi cepat kembalikan kunci itu. "
Tari malah semakin sengaja, iya menarik kerah bajuku lalu berbisik, " Apa anda tidak tertarik untuk melanjutkan aksi tadi siang?"
Perkataan Tari membuat aku menelan ludah, merasakan debaran yang terasa begitu aneh.
"Ayolah pak, biar rasa pusing bapak itu hilang."
Napsu itu semakin memuncak, bisikan Tari membuat badan ini terasa panas, aku benar-benar ditawari secara gratis oleh Tari. Dimana wanita itu terus memegang bawah perutku.
"Ayolah pak. "
Pancingan yang dilakukan Tari membuat aku tak tahan, memang semenjak bertukar peran dengan istriku aku tidak pernah menyentuhnya lagi.
Entah kenapa, hilangnya seleraku untuk menyentuh Ainun, yang di mana aku merasa tak ada daya tarik kepadanya lagi.
__ADS_1
Benar-benar hilang begitu saja, tapi melihat wanita di luaran seperti Tari ini, membuat napsu dan keinginanku bangkit. Malah semakin menggelora, " Ayolah, pak. Sekarang kan bapak bakal berpisah dengan Ainun secara negara. "
Karena tak tahan pada akhirnya aku turun dari motor, mengikuti langkah kaki yang terus mengajakku masuk ke dalam kontrakan.
"Ayo, pak. "
Ceklek.
Pintu pada akhirnya terbuka, dengan begitu gampangnya aku masuk ke dalam kontrakan yang ditempati oleh Tari.
"Duduk dulu, pak. " Tari mulai menyuruhku untuk duduk di atas, di mana ia masuk ke dalam kamar, aku yang tak bisa menahan hawa napsuku ini.
Pada akhirnya mengikuti langkah kakinya itu, masuk dalam kamar, aku sudah tak memperdulikan Nasehat Ibu dan peringatan dari ibuku.
Yang terpenting saat ini aku bisa meluapkan semua hasrat membara dalam hati ini. Dengan begitu lantangnya Tari membuka kembali kain yang menutupi tubuhnya itu.
" Waw. " kedua mataku membulat, terpesona akan indahnya tubuh gadis itu.
Dimana aku tak pernah sadar akan diriku yang mempunyai anak perempuan. " Kamu cantik Tari. "
"Bapak bisa saja memuji. "
Aku mulai menempelkan tubuh ini, dimana.
Suara ponsel berbunyi. Ahk, selalu ada gangguan.
Meraih ponsel melihat Siapa yang menelpon, aku mulai mengangkat panggilan saat itu," Halo, siapa ini?"
"Papa, papah. Kapan pulang. "
Aku terkejut mendengar suara anak kembarku yang memanggil aku dengan sebutan papa, membuat hati ini tiba-tiba sadar.
"Kayla, kania. Kalian nelepon papah?"
Suara kedua anak-anakku tak terdengar lagi, membuat aku memanggil nama-nama mereka.
"Halo, kayla, kania. "
Ponsel tiba-tiba di ambil oleh Tari, membuat aku terdiam, dimana Tari berbisik lagi. " sudah lah pak, lupakan saja anak-anakmu itu, menikmati apa yang harus kita nikmati malam. "
Tari, mulai meraba dada bidang, iya seorang gadis yang terlihat begitu lihai memainkan sesuatu.
"Pak."
Perlahan demi perlahan tangan lembut itu terus membuka selembar kain yang menempel pada tubuh ini, di mana dalam pikiranku saat ini hanyalah kedua anak kembarku.
"Pak."
__ADS_1
Aku terus melamun memikirkan keadaan mereka, membuat hawa napsu ini tak berselera lagi. Menyingkirkan Taru dari hadapanku, dimana wanita itu menarik tanganku. " Pak. "