
"Ainun."
Aku memanggil istriku lalu mengejarnya, Tari yang duduk berada di kursi roda menahan tanganku untuk tidak mengejar Ainun.
"Mau kemana?"
Aku berusaha menghempaskan tangan Tari, di mana wanita itu tiba-tiba saja terjatuh dari kursi rodanya.
"Ahk."
Orang-orang menatapku, "Pak, tolong saya."
Tari meminta tolong kepadaku, membuat aku berdecak kesal mengangkat tubuhnya untuk duduk kembali di kursi roda.
"Ayo bangun. "
Ainun sudah jauh dari harapanku, ia pergi dengan menaiki taksi, dengan terpaksa aku mendorong kursi roda istriku mengajaknya pulang ke rumah.
"Kita pulang naik taksi. "
Aku tak mungkin membawa istriku naik motor, karena ia baru saja mengalami keguguran.
Sampai di rumah.
"Jadi ini rumahku. " aku tak menatap wajahnya sama sekali, apalagi menjawab perkataan.
Membuka pintu rumah, Tari tersenyum bahagia. Sedangkan aku merasa hampa.
Aku mulai duduk di sofa, memutarkan kursi roda Tari, agar ia berhadapan denganku.
"Tari."
Tari mulai fokus menatap ke arahku, " iya, pak. kenapa?"
" Aku akan memberikan waktu dan kesempatan selama 1 bulan untuk kamu bisa membuat aku luluh, jika semua itu tidak bisa kamu lakukan, aku akan menceraikan kamu. "
Tari menganggukan kepala dengan begitu semangatnya, dimana aku memberi lagi ke peringatan kepada dia. " Kamu harus ingat, tidak akan ada lagi kesempatan yang kedua kalinya untuk kamu. Karena aku sudah terlanjur sakit hati dengan pengkhianatan dan kebohongan yang sudah kamu sembunyikan."
Aku mulai beranjak berdiri menjauh dari hadapan Tari.
Dimana awal yang menegangkan akan dimulai.
Pagi hari.
Aku melihat Tari sudah tidak menggunakan kursi rodanya, iya kini menyiapkan kopi hangat untukku.
"Ini, pak. "
Aku menatap raut wajahnya yang terlihat begitu berseri, iya berdandan cantik di pagi hari.
"Kamu mau kemana?"
Tari memperlihatkan bajunya, membolak-balikkan badan dan menjawab, " Aku mau pergi ke kantor!"
Mendengar apa yang ia katakan, aku hanya mengusap pelan daguku. " Apa kamu tidak ingin jadi ibu rumah tangga?"
__ADS_1
"Pak, saya ini sudah biasa kerja, kalau urusan pekerjaan rumah gampang, asal kamu beri saya uang, semua pekerjaan akan beres!"
Menghela napas, aku mulai menyeruput kopi yang dibuatkan oleh istriku, sedikit demi sedikit kopi yang dibuatkan Tari sangatlah enak.
"Gimana kopi buatan saya enak?"
Menganggukan kepala di hadapannya, " Ternyata kamu juga jago ya buat kopi?"
Aku mulai beranjak berdiri, bersiap-siap pergi ke kantor. Tari yang dari tadi berdiri di hadapanku, kini menyodorkan telapak tangannya. " Kenapa?"
"Uang!"
"Bukannya kamu kerja?" Aku dengan spontan mengatakan hal itu, di mana Tari mengerutkan dahinya, " dih, walaupun saya kerja tetap saja lah anda harus menafkahi saya sebagai istri."
Aku tersenyum kecil, " tidak ada. "
Tari langsung terkejut dengan jawaban yang aku lontarkan, " mana bisa seperti itu, ngapain juga saya nikah sama bapak, kalau bapak tidak mau menafkahi saya. "
Mendengar perkataan Tari, tentulah membuat aku menjawab, " itu resiko kamu. "
Tari terdiam dengan perkataanku, " Bukannya kamu yang memaksa aku menikahi kamu. "
Tari terdiam mematung, aku yang melihat ekspresi wajahnya kini membalikkan badan, melangkahkan kaki pergi dari hadapan wanita itu.
Tari mulai memanggil mengejarku, " Tunggu. "
Aku yang baru saja menyalakan mesin motor, menunggu Tari berjalan ke arahku. " Apa lagi. "
" Bapak ini kan suami saya, walaupun saya memaksa bapak untuk menikahi saya, tetap saja Bapak itu harus bertanggung jawab soal nafkah. "
Aku mulai menyadarkan kedua lengan tangan pada motor, " Tari. Jika kamu memang menikah denganku, kamu harus terima resikonya dong, kalau aku tidak mau memberi kamu uang. Ya sudah kamu tinggal cari saja, kamu kan kerja. "
"kalau kamu tidak mau, ya sudah tinggal cerai."
Deg …
Kedua mata Tari terlihat berkaca-kaca, tak ada rasa kasihan sedikitpun dalam hati ini, menyalahkan mesin motor, aku mulai berangkat pergi dari hadapan istriku ini.
"Pak Reza. "
Motor yang sudah mengeluarkan suara membuat aku menjawab perkataan Tari, " Kamu berangkat sendiri saja. "
"Pak Reza, kita …."
Belum perkataan Tari terlontar semuanya, aku mulai mengucapkan salam dan pergi begitu saja.
Melihat kesedihan pada diri wanita itu, tak membuat aku berniat balik lagi untuk memboncengnya pergi ke kantor bersama-sama.
Kenapa setelah menikah, bukannya malah bahagia tapi malah terluka. Aku merasakan angin menusuk kulitku, merasa tak nyaman dengan kehidupan sekarang.
Setelah sampai di tempat kerja.
Aku melihat Tari sudah sampai menggunakan taksi, padahal perasaanku saat membawa motor begitu cepat.
"Pak Reza. " Tari menghampiriku dengan menggenggam lengan tangan.
__ADS_1
" Lepaskan tanganmu itu. Aku tidak mau orang-orang di kantor mengetahui, kalau pernikahan kita. "
Tari malah sengaja menggenggam arah tanganku, " nggak papa sih Pak, malahan bagus mereka tahu. Kita kan bisa leluasa bermesraan. "
Aku tak menyukai perkataan Tari, melepaskan tangannya, menatap tajam ke arah wanita yang menjadi istriku itu. " aku sudah Ingatkan beberapa kali kepada kamu, pernikahan kita ini hanya keterpaksaan karena ulahmu sendiri. Jadi jangan berharap kalau aku akan mengakui kamu sebagai istriku. "
Tari perlahan melepaskan tangannya, menjauh dariku, ya berjalan begitu cepat, " wanita itu benar-benar bikin aku pusing. "
" Hai, bro. kemana aja lu. " sosok Alex tiba-tiba datang, membuat aku tentunya tak senang.
Berjalan pergi menjauhi obrolan dengannya, tetapi Alex malah menahanku.
" Mau ke mana sih bro buru-buru amat?"
" Jangan halangi jalanku!"
Berjalan cepat yang sedikit menyenggol bahu Alex, " Reza. "
Aku tak merespon teriakanlah sama sekali, tak ingin lagi berteman dengan lelaki bawel seperti dia.
Duduk dengan keadaan gelisah, aku takut jika Tari mengatakan pada semua orang di kantor bahwa dia sudah menikah denganku.
Jika semua itu terjadi otomatis aku akan mendapatkan Bulian dari teman-temanku di kantor.
Beranjak berdiri dengan perasaan tak tenang, aku mulai menghampiri ruangan Tari.
Mengetuk pintu ruangannya.
Tok … tok.
"Masuk."
Membuka pintu ruangan Tari terlihat begitu sibuk mengurus kertas berwarna putih di hadapannya.
"Pak Reza. "
Melihat kedatanganku membuat dia berdiri lalu memeluk tubuhku saat itu, " Ahk, saya tahu pasti anda merindukan saya kan?"
Aku mulai melepaskan pelukannya itu, " Jangan berharap kalau aku akan merindukan kamu, aku datang kesini hanya mengingatkan kamu saja."
"Mengingatkan, soal apa?"
Tari bertanya dengan raut wajah polosnya. " sekali lagi aku ingatkan pada kamu, Jangan pernah mengobrol dengan Alex. "
Tari tiba-tiba tertawa, ia kini mengelilingi tubuhku, " Ahk, kenapa? Pasti bapak cemburukan. "
Wanita yang aku nasehati itu, terlihat begitu pede, saat aku ingatkan agar tidak mengobrol dengan Alex.
Tangan mulusnya itu mulai memegang daguku," Saya tahu, bapak cinta sama saya. Cuman gensi aja, karena Mbak Ainun. "
Brakk ….
Aku mulai memukul meja di hadapan Tari, di mana wanita itu terkejut. " Jangan pernah libatkan Ainun dalam masalah kita. Aku bukan cemburu. Jika kamu mengobrol dengan Alex, aku takut mulutmu itu tidak bisa menyimpan rahasia tentang pernikahan kita. Jadi aku datang ke sini hanya memperingati kamu saja."
"Hanya itu saja. "
__ADS_1
"Iya."
Pergi dari ruangan Tari, dimana aku mendengar wanita itu berteriak, ia sepertinya kesal dengan perkataanku.