Bertukar Peran Dengan Istriku

Bertukar Peran Dengan Istriku
Bab 75


__ADS_3

Ainun terbangun dari tidurnya, ia membuka mata, melihat sosok lelaki yang ada disampingnya, ternyata bukan Reza.


"Afdal, ngapain kamu ada di sini. "


Ainun menyadari jika tangan Afdal, memegang punggung tangan Ainun, membuat ia melepaskan tangan lelaki berpakaian putih itu, "Ainun, kamu jangan salah paham dulu. Dengarkan perkataanku. "


Ainun berusaha menahan amarahnya, mendengarkan perkataan Afdal, " baik, silahkan kalau kamu mau bicara?"


Afdal, begitu lancang, memegang tangan Ainun, kembali, membuat Ainun menampar pipi lelaki berseragam dokter itu.


"Afdal, setatusku sekarang sebagai istri, jadi tolong hargai aku. Jangan sentuh aku sembarangan. "


Menundukkan pandangan, ada rasa kecewa, tapi ia juga harus sadar diri, jika Ainun bukan siapa siapanya.


"Jadi ayo katakan. "


"Bolehkah aku mengerjarmu lagi, " jawaban yang membuat Ainun kesal,


"Jangan gila kamu Afdal, aku masih mempunyai suami."


"Aku tahu itu, tapi aku tak bisa menghilangkan rasa cintaku. Ainun. "


Ainun melepaskan tangan Afdal, dimana lelaki itu terus memohon mencoba merayu sang pujaan hatinya.


"PERGI DARI SINI. "

__ADS_1


Afdal mencoba memberi penjelasan kembali pada Ainun, menyakini wanita yang pernah menjadi kekasih hatinya.


"Kumohon. Aku tak tega melihat kamu terus sakit hati karena ulah Reza. "


"Kata siapa aku sakit hati, jangan sok tahu kamu. "


Ainun mempelihatkan kekesalanya. Membentak Afdal berulang kali, agar lelaki dihadapannya pergi dari ruangannya saat itu juga.


"Ainun, aku tahu kamu menyembunyikan semuanya dariku, kamu membohongi dirimu sendiri, menyiksa diri kamu sendiri, pura-pura kuat padahal hati kamu sudah lemah. "


Afdal seperti peramal saja, tahu apa yang dirasakan Ainun saat ini.


Dimana kedua mata membulat menatap tajam ke arah Afdal. "Aku katakan pada kamu sekali lagi, jangan sok tahu. "


Afdal yang tak putus asa, perlahan memperlihatkan wajah seriusnya, wajahnya terlihat teduh, membuat Ainun sedikit tersentuh.


Ainun kembali memalingkan muka, sebenarnya ia sudah tak kuat menahan apa yang ia rasakan saat ini.


"Ainun."


Hatinya bergetar, jika ia mengandalkan napsu mungkin ia sudah ikut dengan Afdal, mengejar cintanya.


"Ainun."


Suara lembut Afdal kembali terdengar, sampai Ainun berkata. " Kenapa, kenapa baru sekarang kamu mengatakan semua itu, kemarin kemana saja, kamu tinggalkan aku tanpa kepastian, apa bedanya kamu dengan Reza. "

__ADS_1


Deg ....


Hati Afdal terasa tersisit, mendengar perkataan Ainun, rasa menyesal kini menyelimuti hati lelaki itu.


"Aku .... "


Mulut seakan tertutup, memberi penjelasan terasa berat, Afdal menghela napas, lalu berkata lagi. " Aku ingin mengejar cita citaku ...."


Kedua mata Ainun terlihat berkaca kaca, wanita itu, kini memperlihatkan tangisannya di depan Afdal.


"Kamu tahu gimana rasanya menunggu tanpa kepastian?"


Pertanyaan Ainun membuat Afdal, menundukkan pandangan, " Ainun. Maaf. "


"Apa dengan kata maaf bisa menyelesaikan masalah dan rasa sakit yang aku rasakan dari dulu?"


"Aku .... "


Belum perkataan Afdal terlontar semuanya, Ainun kembali berucap, " sudah Afdal, aku tidak mau mendengar alasan apapun dari kamu, jadi stop jangan banyak berharap. "


Afdal berusaha bangkit, menghela napas, lelaki berseragam putih itu, menatap sayu ke arah wajah Ainun.


"Kenapa kamu masih berdiri di sini, cepat pergi, aku tak mau mendengarkan semua perkataan omong kosongmu itu."


"Ainun. Aku. "

__ADS_1


Ainun kini diam, wanita itu duduk dengan menyenderkan bahunya, " pergi dari sini. "


__ADS_2