Bertukar Peran Dengan Istriku

Bertukar Peran Dengan Istriku
Bab 38


__ADS_3

Setelah selesai memakan makanan yang dibawa oleh Ainun, aku mulai merapikan meja. 


"Mas, biar aku saja. "


"Nggak papa biar aku saja. "


Aku dan Ainun saling menarik piring satu sama lain, sampai Tari datang dihadapanku. " Hem, Kenapa tidak langsung dipecahin saja."


Ainun seketika melepaskan piringnya, ia tersenyum kecil, mengambil piring yang lain di atas meja. 


Plak. 


Piring kotor yang ia ambil di atas meja, tiba-tiba saja ia pukulkan pada kepala Tari. " Oh, ternyata tidak pecah, berarti kurang keras. "


Tari terkejut dengan apa yang dilakukan Ainun, membuat ia menghentikan tangan wanita yang ada di hadapannya. " Stop. "


Piring kotor yang berada di genggaman Ainun, kini ia turunkan, " Kenapa?"


Tari yang terlihat kesal terhadap ibu dari anak anakku, kini berucap, " sebaiknya kamu cepat pergi dari sini?"


Aku melarang Ainun untuk pulang, " jangan. "


" Loh, kenapa pak. Kenapa anda larang Mbak Ainun pulang, dia itu cuma mantan istri anda, pak. "


Aku menatap ke arah Tari, menghentikan perkataannya yang asal berucap itu, " Ainun belum jadi mantan istri, dia masih sah istri pertamaku. "


" Bukannya anda mau menceraikan dia saat nanti di pengadilan?" tanya Tari terlihat begitu santai menanggapi semua perkataanku. 


" Sekarang aku berubah pikiran.  Aku tidak akan menceraikan Ainun!" Jawabku membuat Tari memegang  lengan. " Kamu."


"Apa."


Wanita yang baru aku nikahi selama seminggu ini, malah membulatkan kedua mata, " anda mengingkari janji anda. "


Aku mencoba melepaskan tangan yang memegang lengan, " Sudahlah kamu jangan mengatakan hal itu,  aku sudah tidak mau memilih kamu. Dari awal tak ada niat, untuk aku menikahi kamu Tari. "


Wanita berambut pendek itu seperti tak terima dengan apa yang aku katakan, ia menjambak  hijab Ainun, menariknya, membawa Ainun keluar dari rumah. 


"Bapak lihat ini, sebaiknya dia pergi saja dari rumah ini. "


Aku mencoba menghentikan aksi Tari yang menjambak hijab Ainun, " hentikan Tari, kamu tidak ada hak mengusir Ainun, dia masih istriku, kita belum resmi bercerai, aku masih menalak satu padanya."


Tari tak mempedulikan perkataanku, ia malah beringas mengusir Ainun. 


"Kalau anda masih ingin bersamanya, silahkan. Pergi dari sini," telunjuk tangan Tari mengarah ke pintu depan rumah. 


"Apa maksud kamu mengusir aku dari rumahku sendiri."

__ADS_1


Tari tersenyum tipis ia berlagak seperti bos di rumahku, "masa kamu lupa kita dulu. Seperti apa."


"Jangan bicara omong kosong kamu Tari."


"Omong kosong. "


Aku melihat Tari merogoh saku celananya, ia menatap layar ponsel. Menunjukkan suatu pesan yang membuat aku  baru menyadarinya, 


"Hem."


Menundukkan wajah, Ainun terlihat penasaran. Ia mencoba meraih ponsel milik Tari, " Kenapa, mas?"


"Tari, aku ingin lihat." Ainun terlihat semakin penasaran dengan isi pesan itu. 


"Ngapain juga kamu ingin lihat, kamu tanya saja pada suami kamu sendiri." Ucap Tari, melemparkan semua masalah kepadaku. 


"Mas Reza, sebenarnya ada apa?"


Aku ragu mengatakan semuanya pada Ainun, apalagi menyangkut masalah dulu. " Sebenarnya ...."


"Ya elah, bahas masa lalu kita. Lama banget pak, ayo dong ngomong. "


"Mas, apa maksud dedemit sawah ini, hah. "


Tari terkejut dengan perkataan Ainun, ia melipatkan kedua tangan dengan berkata, " Dedemit sawah. Heh, jangan sembarangan kalau bicara. "


"Stop, kalian jangan bertengkar. "


"Jadi cepat, anda katakan pada Mbak Ainun. "


Aku menghela napas, berusaha menangkan pikiran mendengar ocehan Tari yang terus menekanku untuk mengatakan semuanya.


"Surat rumah, sudah aku gadaikan pada Tari."


Deg ....


Ainun sepertinya terkejut dengan perkataanku, ia seakan tak menyangka, mengerutkan dahi.


"Gadaikan, kenapa?"


Terasa berat mengatakan semuanya, apalagi membahas tentang surat rumah.


"Ya elah Mbak Ainun, suami mbak ini kekurangan duit, jadi gadaikan surat rumah ke saya, makanya kemarin sok soak kasih waktu sebulan untuk memilih siapa yang terbaik untuk jadi istri Pak Reza. "


"Mas Reza, apa sampai sebegitunya kamu. Tidak punya uang, menggadaikan rumah hasil kerja keras kita berdua?"


"Ya, saat tukar peran itu, aku berani, karena tabungan sudah habis. Kamu tahu sendirikan aku tidak bisa hidup tanpa duit, pengeluaranku banyak, gaya hidupku royal. Memberi uang pada kamu itu hasil dari gadai rumah, karena akal dari Tari. "

__ADS_1


Ainun menatap ke arah Tari, lalu bertanya. " Sepertinya kamu menjebak keluarga kami. "


Tari mengerutkan dahi," menjebak, mana ada. "


Ainun mulai bertanya padaku. " Berapa uang yang kamu dapatkan dari Tari, setelah menggadaikan rumah mas. "


"Hanya sepuluh juta. "


" Sepuluh juta, Tari sepertinya kamu memeras Mas Reza. "


Tari mengelak dengan perkataan Ainun. " Dih, memeras mana ada. Heh Mbak Ainun, dari awal saya kan nawarin, adanya segitu, mau ya ambil. Tidak mau ya sudah. Suamimu saja yang super kere, masa ia nebus rumah nggak ada. "


Aku menundukkan pandangan, malu dengan perkataan Tari.


"Makanya Pak, kalau mau punya istri dua itu banyak duit. "


"Heh, sudah berulang kali aku katakan pada kamu, tidak ada niat menikah lagi. Apalagi sama kamu. "


Tari malah tertawa terbahak bahak, ia seperti puas dengan rencananya."Jadi gimana Mbak Ainun, anda sudah tidak ada hak lagi di rumah ini. Kecuali anda membayar rumah ini senilai sepuluh juta plus denda sepuluh persen. "


"Apa."


Aku terkejut dengan Tari yang membahas uang 10 juta itu dengan denda 10%, ditambah lagi ya seperti menghitung-hitung sesuatu yang tak penting, yang tak aku tahu dalam surat perjanjian itu.


" Kenapa anda seperti terkejut begitu Pak, bukannya semua sudah ada di perjanjian. Apa anda tidak membaca?"


Tari benar-benar menekanku, ia ingin menguras hartaku dengan cara liciknya, tak aku bayangkan sekarang, apa yang akan Ainun lakukan padaku.


Karena ia juga adil dalam rumah ini.


" Ternyata kamu begitu licik juga ya Tari, bukan jadi pelakor, tapi kamu juga mengambil harta milik orang lain. "


" Jangan banyak bicara Mbak Ainun. Siapa yang jadi pelakor, suami anda saja yang tergila-gila pada saya. Heh asal anda tahu ya, selama Pak Reza bersama saya, dia itu selalu menjelek-jelekkan anda di depan saya, tidak ada kata kata indah dan sempurna saat menceritakan tentang anda Mbak Ainun."


Tari benar-benar keterlaluan, ia bongkar semua yang sudah aku ceritakan padanya, apa lagi masalah menjelek-jelekkan Ainun.


"Ya maklum saja Mas Reza menjelek jelekan aku dulu, karena ada kamu. "


"Apa maksud anda, ada saya. "


"Kalau tidak dikompori pelakor pecicilan seperti kamu, tidak mungkin Mas Reza menjelek jelekan istrinya ini di depan kamu, wanita murahan. "


Tari mengepalkan kedua tangannya, terlihat ia kesal dengan ucapan Ainun, " berani anda mengatakan saya pelakor pecicilan, anda harusnya sadar diri. "


Aku pusing mendengar keduanya bertengkar, membuat kepalaku terasa ingin meledak saat ini.


" Cukup, kalian tidak usah bertengkar lagi. "

__ADS_1


Menatap ke arah Tari, " jadi mau kamu apa, Tari?"


Bertanya pada Tari, dimana wanita itu pergi dan masuk ke dalam kamar, entah apa yang akan ia lakukan?


__ADS_2