
Ainun mulai memberikan ponsel pada Reza, " Ini ponsel kamu, mas."
Tangan yang disodorkan Reza, membuat Ainun malah tersenyum sinis, dimana cara memberikannya itu dengan membanting ponsel Reza ke atas tanah.
Kedua mata Reza membulat menyaksikan ponselnya terlihat berserakan.
"Ainun."
"Kenapa, mas kamu mau marah. "
Ainun seakan menantang suaminya untuk marah kepadanya, tapi pada kenyataan yang tak terduga.
Reza berusaha menahan kekesalannya, ia menghela napas mengambil ponselnya yang berserakan di atas tanah.
Mengontrol amarah sebisa mungkin, agar tidak menyakiti istrinya lagi, ia takut jika Ainun kenapa napa karena ulahnya.
"Ainun." Memanggil sang istri dengan lembut.
" Mau marah ya marah, saja. " Ucap Ainun pada suaminya, yang berusaha tidak marah.
"Ainun."
Terasa hati mulai terbakar karena api amarah meronta ronta, mengalir lewat darah menuju ke otak, besiap siap, pada isi kepala akan meledak.
Menahan kekesalan bukan hal mudah bagi Reza, karena lelaki berbadan kekar itu tidak pandai mengontol dirinya sendiri, saat itulah Reza berusaha diam. Tak mengeluarkan suara lagi, sampai ia melihat istrinya terduduk lesu mengeluarkan darah.
" Darah, Ainun kamu pendarahan."
Reza baru kali ini, melihat istrinya mengeluarkan darah begitu banyak, " Kamu sedang hamil Ainun?"
Ainun terlihat begitu pucat, seperti tak mempu menjawab perkataan suaminya, ia tergeletak di atas tanah, membuat Reza panik. " Ya ampun, Ainun. "
Mencoba membangunkan sang istri agar tetap sadar, " Mas Reza. " Suara Ainun terdengar melemah. Reza tak bisa berpikir dengan jerni.
"Ainun, kamu harus sadar. " Ucap Reza, mengusap ngusap pipi sang istri, ingin mendengarkan respon Ainun yang masih bisa mendengar perkataan Reza.
Kedua mata yang terbuka, perlahan demi perlahan tertutup, Reza tambah panik, ia mencoba membopong tubuh istrinya yang sudah bersimpah darah.
Setelah mendudukkan istrinya, Reza mulai memungguti ponselnya yang berserakan, memasangkannya.
Tak ia sadari ponselnya ternyata masih bisa menyala.
Reza masuk kembali ke dalam mobil, perasaanya mulai tak menentu. Duduk, Reza mulai memasangkan sabuk pengaman pada tubuh istrinya. " Ainun bertahan ya. "
Lelaki berbadan kekar itu, menyalakan mesin mobil.
Namun sangat disayangkan mobil tak menyala. " Sialan kenapa lagi. "
Reza sekilas menatap ke arah istrinya yang terlihat tak bersuara.
"Ainun."
"Tetap tenang, aku harus menggendalikan diri. Oke. Kamu pasti bisa Reza. "
Perlahan menyalakan mobil, sampai dimana mesin mobil menyala. " Akhirnya. "
Reza tersenyum bahagia, ia bisa membawa istrinya ke rumah sakit.
Mengusap pelan kerudung Ainun, Reza kini berbisik. " Aku akan membawamu ke rumah sakit, bertahan ya sayang. "
Berulang kali mengatakan hal itu, Ainun tetap tak merespon, ucapan Reza.
"Ainun, aku benar benar menyesal telah mendorong kamu, bangun Ainun. "
Setiap perjalanan Reza terus berusara ia ingin mendengar suara istrinya yang selalu memanggil namanya di saat Reza salah.
Reza menangis, ia tak bisa menjemput anak anaknya, karena keadaan Ainun yang menghuatirkan." Mas Reza. Kamu jahat. "
Perkataan Ainun, membuat rasa bersalah semakin terasa pada diri Reza, " Ainun, maafkan aku. "
Di tengah perjalanan, mobil tampak bersejajar, keadaan saat itu ternyata macet parah. " Kenapa malah macet, padahal tadi aman aman saja. "
Reza berusaha menggunakan kelakson mobil, untuk menyingkirkan mobil yang menghalangi jalannya.
"Menyingkirlah kalian, kenapa malah diam terus. "
Orang orang yang berada di dalam mobil mereka masing masing turun, karena mendengar kelakson Reza yang berisik. " Ini orang kenapa lagi, tahu keadaan macet malah menyembunyikan kelakson mobil, dia ini waras atau tidak. "
Beberapa pengemudi tampak murka dengan suara kelakson mobil milik Reza.
Mereka memukul mukul kaca, ada yang berusaha menghancurkan kaca mobil Reza
__ADS_1
"Heh, lu kenapa. "
" Nyari ribut. "
Mereka semua terus menggedor-gedor pintu mobil Reza berulang kali, menyuruh Reza untuk segera membuka pintu mobilnya.
Reza yang terlihat begitu berani demi keselamatan istrinya kini membuka kaca mobil, ia tetap duduk tegap, dengan kata maaf kepada para pengemudi yang ikut terkena dampak macet dijalanan.
" lu kenapa berisik. "
karena melihat kemarahan mereka semua membuat Reza membuka pintu mobilnya, lelaki berbadan kekar itu memperlihatkan istrinya yang sedang kesakitan.
"Itu istri lu. " Menunjuk pada Ainun, terlihat ada rasa tak tega.
"Ya bang, saya menyembunyikan klakson mobil karena saya ingin segera menyelamatkan istri saya yang terus mengeluarkan darah." ucap Reza dengan memperlihatkan wajah memelasnya di depan orang orang yang mengelilingi mobilnya.
"Ya sudah kalau begitu, kami akan memberikan jalan untuk kamu. " Ucap pengemudi yang merasa kasihan terhadap Reza.
"Terima kasih bang. "
Semuanya mulai menaiki mobil untuk segera memberi jalan kepada Reza, mereka tak tega melihat keadaan Ainun yang terlihat begitu mengkhawatirkan.
Reza buru-buru masuk untuk segera menjalankan mobilnya, membawa sang istri ke rumah sakit terdekat.
Saat di dalam perjalanan Reza berterima kasih pada orang-orang yang mau berbaik hati meluangkan sebuah jalan untuk dirinya membawa sang istri ke rumah sakit.
"Terima kasih. "
Saat di dalam perjalanan Ainun mulai tak sadarkan diri, saat Reza terus memanggil namanya menyuruh sang istri untuk tetap bertahan.
Berulang kali panggilan yang dilayangkan Reza benar-benar tak mendapatkan respon dari Ainun.
" Ainun, Ainun. "
Rasa takut terus menghantui perasaan Reza. Iya merasa tak karuan saat itu, jika Ainun tak sanggup menahan rasa sakitnya.
"Ainun, bertahan lah. "
Ponsel yang dibanting oleh Ainun kini kembali berbunyi, ternyata ponsel Reza tidak mati. lelaki berbadan kekar itu mulai melihat siapa yang menghubunginya saat itu.
" Tari. Mau apa lagi dia. " Dengan mengendari mobil berkecepatan tinggi.
"Pak Reza, akhirnya anda yang mengangkat panggilan telepon dari saya. "
tak ada waktu untuk berbicara dengan Tari, Reza langsung mematikan panggilan telepon itu, ia tetap fokus mengendarai mobil. Tak ingin menyesal karena terlambat membawa Ainun ke rumah sakit.
Mata Reza menatap rumah sakit, ia berhenti.
Setelah sampai di rumah sakit yang di tuju, Reza dengan perasaan bimbang, menghentikan mobil, ia memanggil para suster untuk segera datang menangani Ainun.
"Suster, dokter tolong istri saya. "
Berteriak, memanggil suster.
Pada akhirnya parq suster yang mendengar teriakan Reza, membuat mereka berlari dengan membawa bangkar untuk segera membawa pasien ke ruangan UGD.
"Tolong istri saya. " dengan tangisan yang diperlihatkan Reza suster menyuruh suami pasien untuk tetap tenang.
"Bapak tunggu dulu di sini ya, kami akan menangani pasien. " Perkataan suster membuat Reza menurut.
"Tolong, selamatkan istri saya. "
Reza semakin terpuruk, merasakan rasa bersalahnya, ia duduk pada kursi. Mengacak rambut dengan kedua tangan.
"Ahk semua gara gara kecerobohanku. Bodoh kamu Reza. "
Reza terus menyalahkan dirinya sendiri, menyesal sudah menarik tangan Ainun hingga istrinya itu terjatuh dan mengakibatkan resiko yang begitu fatal.
Sampai kejadian itu terus terbayang pada pikirannya.
"Bodoh kamu, bodoh Reza. "
Tak ada ketenangan dalam diri Reza, ia terus menangis dengan menggerutu kesal. Akan kesalahannya sendiri.
"Ainun bertahan, aku yakin kamu pasti sanggup melewati semuanya.
Reza bangkit dari tempat duduknya, melihat dari kaca ruang ugd, Terlihat jika sang istri tengah ditangani dokter dan para perawat.
Sampai ponsel kembali berbunyi, Tari tak ada kapok-kapoknya, terus menghubungi Reza yang sedang terpuruk. Karena rasa penyesalannya.
"Tari, ada apa lagi dia ini. Bukannya sudah aku ingatkan tadi. Dia ini benar benar tidak tahu diri. "
__ADS_1
Menggerutu kesal, sambil melihat layar ponsel, dimana panggilan Tari hampir ia abaikan.
Duduk kembali, menenangkan pikiran, " Ainun. "
Reza tak henti memanggil nama Ainun dalam mulutnya.
Tring.
Pesan kembali berbunyi pada ponsel Reza. Lelaki itu penasaran dengan pesan yang datang.
(Pak Reza, saya disini sendirian, apa anda tidak kasihan terhadap saya?)
Rasa kasihan lagi yang dibahas oleh Tari, benar benar tak ada habisnya untuk Reza. Tari ingin dikasihani, tapi tanpa tahu batasnnya.
(Pak Reza, anda tak merespon pesan saya.)
Membuka pesan dari Tari, membiarkannya begitu saja, " Si Tari ini apa maunya, di baikin malah ngelunjak. "
Suara ponsel kembali berbunyi, Reza mulai mengangkat panggilan telepon dari Tari, " Halo Tari ada apa lagi. "
"Pak Reza, saya hanya ingin ...."
Belum perkataan Tari terucap semuanya, Reza kini membentak wanita yang akan ia ceraikan secepat mungkin," bukannya sudah cukup tadi kamu menyakiti perasaan istriku, kamu sudah membuat Ainun kini masuk ke dalam rumah sakit. "
Tari melebarkan senyumannya, setelah mendapatkan berita dari Reza, yang mengatakan bahwa Ainun masuk ke dalam rumah sakit.
Dengan kepura-puraannya, Tari berusaha terkejut, mengungkapkan nada suaranya pada sambungan telepon.
"Masuk ke rumah sakit, kenapa bisa, saya kan hanya mengatakan yang sejujurnya. " begitu sengajanya Tari berkata seperti itu, membuat Reza mengepalkan kedua tangan, tak suka gaya bicara yang seolah ia menang dalam pertandingan.
"Omong kosong. " Bentakan di keluarkan lagi dari mulut Reza kepada Tari.
Tari berusaha membuat sebuah kata kata yang akan meluluhkan hati Reza, ia ingin Reza berada dalam pelukannya sekarang.
Apalagi satu kesempatan yang baik, jika Ainun masuk ke rumah sakit.
"Pak, saya ingin mempertahankan bapak, makanya saya bicara seperti itu pada Mbak Ainun. " Mengeluarkan nada sedihnya, Tari berharap sekali jika Reza menyadari kalau Tari itu lebih baik dari pada Ainun.
"Bukannya kamu sudah tahu, siapa pilihanku. " Perkataan yang membuat Tari harus sabar.
"Saya tahu pak, tapi saya ingin menanyakan apa benar bapak akan menganggap saya sebagai adik bapak?" Pertanyaan Tari terhadap Reza, membuat lelaki berbadan kekar itu menjawab dengan tegas.
"Iya benar, awalnya aku akan menganggap kamu sebagai adik, tapi setelah mendengar kamu berkata seperti itu pada Ainun, aku akan menghilangkan niatku dan rasa kasihanku terhadap kamu. "
Deg ....
Sepontan Tari berusaha mencari cara agar Reza tetap pada pendiriannya.
"Pak, mana bisa seperti itu. Bapak saya mau jadi adik bapak. " memelas kembali, Tari seperti tak punya rasa malu sedikit pun.
"Maaf sekarang aku tidak mau menjadikan kamu adik, karena benar kata Ainun, kamu wanita tidak tahu diri. "
Deg ....
Kata kata yang sedikit menyakitkan untuk wanita, yang tahu akan rasa malu. Tetapi tidak dengan Tari, ia malah bersikap santai, seakan sesuatu tak membuatnya rugi.
"Pak, kenapa bapak malah menarik perkataan bapak. " Masih dalam seputar pertanyaan seperti itu. Tari berharap sekali, jika Reza berubah pikiran.
"Aku tak peduli, sekarang urus saja urusan kamu. " Tegas Reza, mengabaikan perkataan Tari. Berpura pura melupakan semuanya.
"Pak, beri saya kesempatan. " Permohonan kembali dilayangkan Tari.
"Tak ada lagi kesempatan, sekarang aku sudah tahu sifat asli kamu. Aku sudah muak dengan kamu Tari, anggap saja kita tak pernah ada hubungan apa apa lagi, aku mohon kamu mengerti. "
Perkataan yang simpel dari Reza, membuat Tari semakin tak tahu diri. Ia seakan tak tahu harga dirinya sendiri, begitu murahnya.
"Sebaiknya kamu perbaiki diri kamu sendiri, agar kamu bisa menjadi wanita yang terhormat. "
Deg ....
Saat mengatakan hal itu, membuat kata kata Reza baru terasa oleh hati Tari.
Dimana wanita itu murka dengan berkata. " Pak, bapak jangan asal bicara dan mengatai saya. Seakan akan saya itu bukan wanita terhormat. "
"Lah, kemana saja kamu ini Tari. Kamu baru sadar diri bahwa dari tadi aku mengatakan perkataan yang sejujur jujurnya. "
"Ahk, bapak keterlaluan, bapak juga tidak tahu diri. "
"Sudahlah, aku tak mau berdebat dengan kamu. "
Tuttt.
__ADS_1