Bertukar Peran Dengan Istriku

Bertukar Peran Dengan Istriku
Bab 31


__ADS_3

Plakk ….


Tanganku benar-benar gatal saat ini, sampai aku berani menampar wanita yang sudah menjadi istriku. 


"Pak Reza, kenapa anda menampar saya?"


"Kamu masih tanya kenapa? Kamu sudah membuat aku tidak bisa melihat ibuku di detik detik terakhir dalam hidupnya, kamu tahu itu. "


Tari memegang pipinya, ia terlihat meringis kesakitan, karena tamparan keras dariku. " Sakit, jadi kamu mau lagi aku tampar. "


Menatap tajam, ia menangis. Lalu pergi dari hadapanku.  " kemana kamu, Tari. "


Aku mulai menyusul wanita itu, dimana ia seperti orang bodoh yang memakai gaun pengantin pergi menaiki taksi. 


"Tari?"


Warga di sana, menghampiriku, " Mau apa kalian?"


Semua menatap ke arahku, dimana aku berusaha membela diriku, " Kalian tidak ada hak lagi, mencegahku saat ini, karena aku sudah bertanggung jawab. "


Mereka menjauh, aku yang melihat Tari pergi jauh kini menyusul dengan menggunakan motor yang sempat tertahan oleh kepala desa. 


Mobil taksi yang dikendarai istriku, sudah jauh pergi, membuat aku kehilangan jejak mobil itu. 


" Ke mana perginya mobil itu ya. "


Karena rasa lelah yang aku rasakan saat ini, membuat tubuh ini tak berdaya, mengurungkan niat mencari keberadaan Tari. Aku mulai menemui ibuku di rumah sakit, menyaksikan pemakamannya. 


Dengan perasaan tak karuan, mengendarai motor dengan air mata yang mengalir mengenai pipi. 


"Bu, maafkan Reza, andai saja dari dulu Reza menurut pada ibu,  mungkin Reza tidak akan kehilangan Ibu secepat ini. "


Aku mulai mengendarai motor dengan kecepatan tinggi, tak memperdulikan orang-orang yang terus melaksoniku. 


Sampai di rumah sakit, aku seperti mengenal taksi yang berhenti di parkiran rumah sakit, melihat wanita turun dari taksi itu membuat aku terburu-buru turun dari motor.


"Ternyata Tari. "


Meneriaki wanita itu, berlari berusaha mencegah Tari untuk tidak masuk ke dalam rumah sakit.


"Tari."


Aku berhasil memegang tangannya, " apaan sih. "


"Mau kemana kamu?"


Tari berusaha memberontak, sedangkan aku terus mencengkram tangan kanannya, " lepaskan tanganku. "


" Aku tidak akan melepaskan tanganmu sebelum kamu pergi dari rumah sakit ini."


Bahasa Tari mulai terdengar begitu kasar, " aku tidak akan pergi dari rumah sakit ini sebelum menemui Mbak Ainun. "

__ADS_1


" Untuk apa kamu menemui Ainun?"


"Karena dia, aku mendapatkan tamparan keras dari kamu!"


" kenapa kamu harus menyalahkan Ainun, dia itu tak salah apa-apa, aku menampar kamu itu untuk memberi pelajaran agar kamu tidak sembarang berucap. "


Tari tak mendengarkan nasehatku, ya pergi mendorong tubuh ini hingga tersungkur jatuh ke atas lantai. " Sialan, kenapa aku bisa lemah seperti ini menahan Tari. "


Aku berusaha bangkit untuk mengejar kembali istriku, tak ingin melihat dia membuat kekacauan di rumah sakit. " Tari. "


Wanita itu begitu cepat berlari, sampai aku kehilangan jejaknya. Berlari Kembali menuju ke ruangan ibu, namun aku tak melihat sama sekali mayat ibu di ruangannya.


Dengan terpaksa aku membalikkan badan pergi ke ruangan mayat, berharap jika ibu belum dikuburkan saat itu.


Sampai di tempat yang aku tuju, dugaanku benar. Tari berada di depan Ainun.


"Ainun."


"Tari."


Aku malah melihat pemandangan yang tak seharusnya terjadi pada Ainun. Tari mulai melayangkan tamparannya pada Ainun," gara gara kamu. "


Saat aku berusaha mencegah tamparan itu, Ainun begitu hebat mencegah tangan yang melayang pada pipi kirinya.


" Kamu. "


" kamu mau tampar aku? Hm, mana mungkin bisa."


Plakk.


"Lepaskan tanganku."


Tari memberontak pada Ainun, istriku mulai mengacak rambut Ainun, ia berusaha keras meraihnya, sampai tangan mulus Ainun malah menjambak rambut Tari.


"Ahk, sakit rambutku. "


Tari meringis kesakitan, karena jambakan dari tangan Ainun, " Bagaimana rasanya, pastinya enak dong. "


"Lepaskan."


"Aku tidak akan melepaskan tanganku begitu saja. Aku ingin kamu meminta maaf dengan bersujud pada kakiku "


"Apa, tidak mungkin. Aku tidak sudi. "


Ainun malah tertawa terbahak-bahak, mendengar jawaban polos dari Tari, " Ya sudah kalau kamu tidak mau bersujud pada kakiku, aku pastikan. Kamu akan terus kesakitan seperti ini. "


"Sialan, jangan curang kamu. "


"Heh, bocil, memangnya kita ini sedang bermain apa, sampai kamu mengatakan bahwa aku ini curang?"


"Ahk."

__ADS_1


"Kenapa? Sakit. "


Aku tak berani mendekat ke arah mereka berdua, membiarkan Tari menangis kesakitan.


"Mau aku tambah lagi rasa sakitnya. "


"Ahk."


Tari kembali lagi merengek, iya berusaha melepaskan tangan Ainun yang terus menjambak rambutnya. " Aku tidak akan meminta maaf ataupun bersujud kepadamu. "


"Kalau begitu, rasakan ini. "


"Ahkkk."


Tari semakin kesakitan, orang-orang yang melintas ke arah mereka begitu terlihat cuek, tak ada yang merasa kasihan terhadap Tari saat diperlakukan tidak baik oleh Ainun.


"Kurang ajar, Sakit. "


Ainun malah sengaja semakin menjambak dan menarik paksa pendek milik Tari. " Ainun sakit. "


Tari terlihat tak sanggup lagi menahan rasa sakit yang ia rasakan dari jambakan tangan Ainun, menangis lalu berucap dengan perlakuan Ainun, " baik. Aku akan mencoba meminta maaf kepada kamu. Ainun kembali tertawa. Heh Memangnya kata maaf itu adalah bahan percobaan, kata maaf itu harus tulus dan ikhlas dari hati kamu, ini mau minta maaf malah coba-coba Tari, Tari."


Ainun kembali lagi menarik rambut milik Tari, " baik baik, sekarang aku akan ikhlas meminta maaf kepada kamu Mbak Ainun. "


Akhirnya Ainun luluh setelah mendengar perkataan yang terlontar dari mulut Tari yang terdengar begitu lemah.


Ainun melepaskan tangannya, yang mendorong tubuh Tari hingga terjatuh ke atas lantai, Ainun memperlakukan Tari benar benar sadis, tanpa ampun dan rasa kasihan.


"Ayo."


Tari mulai menggeser tubuhnya, mendekat ke arah Ainun, wanita itu mulai bersujud pada kaki Ainun.


" Tari. "


Aku yang masih berdiri mematung mengintip mereka berdua, menghelap napas, merekam apa yang dilakukan istriku.


Ada baiknya Ainun memperlakukan Tari seperti itu, karena sejatinya, Tari tak bisa dipengang janjinya.


"Mbak Ainun, saya minta maaf. "


Ainun bukannya memaafkan Tari, Ainun malah tersenyum kecil," aku belum mendengar kamu ikhlas meminta maaf kepadaku. "


Tari yang mendengar jawaban itu sedikit menggerutu kesal dalam hatinya, " Mbak Ainun, maafin Tari, Tari tidak akan melakukan hal itu lagi. Tari janji setelah ini, Tari akan berubah. "


Ainun seperti tak puas dengan jawaban yang terlontar dari mulut istriku," coba kamu ulangi, aku rasa telingaku belum benar-benar jelas mendengar kata Maafmu itu. "


"Apa."


Tari terlihat begitu kesal dan juga malas, Iya melipatkan kedua tangannya, menahan amarah yang terus mengganggu dalam hatinya. aku melihat ekspresi itu sama seperti Tari ketika kesal dan juga muak kepadaku.


Tari bersujud kembali, berulang kali begitupun dengan mengungkapkan kata maaf ya, terlihat jika Tari begitu kelelahan, sampai akhirnya Ainun berkata, " kamu lihat suamimu sedang melihat kamu dari tadi."

__ADS_1


Deg ....


telunjuk tangan Ainun begitu pas menunjuk ke arahku. membuat aku memunculkan diriku di hadapannya.


__ADS_2