Bertukar Peran Dengan Istriku

Bertukar Peran Dengan Istriku
Bab 44


__ADS_3

Aku mulai menjemput anak anak yang dititipkan di tempat bermain khusus, mereka begitu senang ketika melihat kedatanganku. 


"Papah."


"Kita pulang yuk. "


Ketiganya menganggukkan kepala, aku mulai menggendong Kayla dan Kania, sedangkan Denis jalan dengan memegang bajuku. 


"Papah, kok perginya lama?"


Denis terlihat kesal, bibirnya cemberut. " Ya papah sama mama banyak urusan jadi agak lama, kamu jangan marah. "


Denis berdiri, ia tak melanjutkan langkah kakinya, melipatkan kedua tangan. 


Aku yang sedikit kewalahan menangani sifat pemarahnya, mendekat dan bertanya?" Kamu kenapa lagi, Denis?"


Denis malah memalingkan wajah dari hadapanku, " Hey, nak. Kok kamu malah makin marah, kenapa?"


"Pah, kapan sih Tante Tari pergi dari rumah, Denis nggak betah tinggal sama Tante Tari."


Aku sudah menduga akan hal ini, jika Denis tak nyaman dengan keberadaan Tari di rumah. Apalagi Tari itu orang asing yang baru Denis kenal. 


"Nanti papah akan usahakan buat, Tante Tari pulang. "


Denis tampak senang dengan jawaban yang aku berikan, ia tersenyum lebar. " Beneran ya pah. "


Memegang bahu kecilnya, " Iya, Denis."


Sampai di pintu mobil, Ainun sudah menyambut ketiga anak anak. Iya dengan sigap mengambil Kayla dan Kani dari gendonganku. 


"Sini, nak. "

__ADS_1


Sedangkan Tari tetap ada di dalam mobil, ia terlihat tak memperdulikan aku yang sedang kerepotan. 


Sepertinya, aku memang harus menceraikan dia. Tetapi bagaimana caranya mengambil surat tanah?


Naik ke dalam mobil, suasana terlihat hening. Semua tampak diam. Aku mulai menyalakan mesin mobil. 


Sampai di rumah, kami turun bersamaan. Tari yang dari tadi cemberut berjalan cepat masuk ke dalam rumah.  Aku yang melihat pemandangan itu kini berucap, " Kamu mau kemana?"


"Saya mau pulang ke rumah lah, kenapa memang!"


"Tari, sekarang aku ceraikan kamu. "


Tari malah tertawa terbahak bahak, dengan ucapanku, ia menyepelekan kata talak yang keluar dari mulutku ini. 


"Nggak salah, bapak berbicara seperti itu?"


"Tidak, ini sudah niatku!"


Alena tiba-tiba saja datang menghampiri kami, Ia membuka tas besarnya itu, menunjukkan sebuah map yang aku tak tahu isi di dalam map itu apa. 


" kamu jangan sembarangan mengusir Mas Reza dan juga anak-anakku." Ainun menimpa perkataan Tari. 


"Saya tidak sembarangan kok, ini rumah sudah jadi milik saya, kalau Pak Reza menceraikan saya otomatis rumah ini akan ditinggalkan olehnya, karena masih ada hutang yang menunggak kepada saya dan beserta bunga-bunganya. "


Alena langsung melemparkan map itu pada wajah Tari, " coba kamu baca di dalam map itu"


Tari  mulai mengambil map yang dilempar oleh Ainun pada wajahnya. Iya mulai membaca isi dalam map itu. 


Membaca dengan wajah terkejut, Ainun mendekat dan bertanya?" Bagaimana? Apa kurang jelas?"


Tari terlihat tak percaya, membuatku penasaran dan ingin membaca isi dari map yang diberikan oleh Ainun. 

__ADS_1


Mengambil tanpa meminta izin, aku tak percaya jika sertifikat rumah ada ditangan Ainun. 


"Ini sertifikat rumah ini, dan atas nama kamu Ainun?"


Ainun tersenyum saat aku bertanya seperti itu," Ya mas, itu sertifikat yang asli. Oh ya yang kamu gadaikan pada Tari itu palsu, karena almarhum sewaktu hidup sudah membuat semuanya begitu sempurna dan sengaja. Sedangkan aku hanya menurut saja dengan rencana ibu. Dan asal kamu tahu, kenapa atas namaku, kamu tahu sendirikan di sertifikat rumah itu masih nama ibu. Dan saat ibu tahu kamu dekat dengan Tari, ibu langsung mengganti dengan namaku. "


Aku tersenyum melipatkan kedua tangan, senang dengan ucapan Ainun, sekarang rumah tetap jadi milikku. 


"Tidak bisa. "


"Kenapa tidak bisa, semua bisa kok, kamu saja yang bodoh, tidak bisa menempatkan diri. Kalau jadi wanita, tidak tahu malu. "


"Sialan, akan saya tuntut anda Mbak Ainun."


"Silahkan tuntut, tak ada bukti ini."


"Biar tak ada bukti, saya  akan  tetap menuntut anda atas pemalsuan sertifikat rumah. "


"Silahkan saja, toh aku juga bisa menuntut balik kamu. "


Deg ….


Perkataan Ainun terdengar sedikit tajam, membuat Tari terdiam. Mengepalkan kedua tangan. " Mbak Ainun,  anda jangan main main dengan saya. "


Ainun tertawa mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Tari, " kenapa Tari, kamu takut. Padahal saya tidak main main loh,"


"Mbak Ainun. Saya ...."


Tari kini melangkahkan kakinya kebelakang, ia pergi dari hadapan kami berdua.


"Mau kemana kamu. "

__ADS_1


Ia terlihat malu saat Ainun bertanya.


__ADS_2