Bertukar Peran Dengan Istriku

Bertukar Peran Dengan Istriku
Bab 17


__ADS_3

Tiba tiba saja pandanganku terasa gelap, aku tak sadarkan diri. 


Suara orang orang memanggil berulang kali, menggoyangkan tubuh ini, namun apa daya badanku terasa lemas, kepalaku sakit. Membuat aku pada akhirnya tertidur pulas. 


Terbangun dari tidur yang terasa amat panjang bagiku, membuat kedua mata berusaha aku buka perlahan demi perlahan. " Dimana aku?"


Menghela napas, " Reza. " Sosok ibu sudah ada di depan mataku. 


"Bu, aku dimana?"


Terdengar suara langkah kaki, dan beberapa mesin yang terus berbunyi. 


Ibu menangis di hadapanku, " Kamu mengalami  kecelakaan, Reza. "


Apa? Aku terkejut dengan perkataan ibu. Mengingat Tari yang aku bonceng. " Kenapa, mas. Apa kamu mengingat wanita itu?"


Deng ….


Ainun tiba tiba saja muncul di belakang ibu, membuat aku kesal dengan ucapannya. " Iya. "


Ibu menangis, mengusap kepalaku. " kamu ngapain bonceng wanita itu, jadinya kan kaya gini. "


"Sudahlah bu, jangan ditangisi, biarin saja. Biar dia tahu rasanya kena Azab. "


"JAGA BICARAMU. " Tak sadar membentak Ainun, aku berteriak kesakitan. " Ahk. "


" Reza, kamu jangan teriak teriak dulu. Kondisimu belum stabil sepenuhnya. "


"Ckk, Ainun bu. Dia keterlaluan, masa ia anakmu ini kena azab. "


"Sudah -sudah, jangan bertengkar lagi. Sekarang kamu istirahat dulu, jangan marah marah terus. Banyakin sadar diri, bisa jadi ini teguran dari sang maha kuasa karena kamu menyakiti istrimu sendiri. "


Perkataan ibu, membuat kedua mataku membulat. " Bu. "


"Iya maaf, ibu bicara pasti selalu sesuai fakta."


Tak ada guna aku berbicara dengan ibu dan juga Ainun, mereka tetap saja menyalahkanku atas kejadian ini. 


"Makanya mas, banyak banyak sadar diri. Jangan lupa taubat, agar dosa kamu diampuni. Biar nanti nggak kena azab lagi. "


Perkataan Ainun membuat aku semakin geram, mengepalkan kedua tangan, bibir ini mengkerut. 


"Nggak terima dengan perkataanku, mas?"


Pertanyaan Ainun membuat aku berusaha tetap tenang.


"Kamu harus banyak banyak sabar Reza, semua harus kamu terima, ini hukuman atas kesalahan kamu. " Timpal ibu, yang terdengar menyalahkanku. 


"Ibu ini gimana sih, anak ibu itu, Ainun apa aku. Setiap kali berdebat pasti aku yang selalu disalahkan. "


Ceklek ….


Ibu baru saja ingin menjawab perkataanku, tiba tiba terhenti dengan kedatangan Tari. 


"Selamat siang. "


Semua yang ada di ruanganku, tampak cuek saat Tari mengucap salah, dimana hanya aku saja yang menjawab. " Siang, Tari. "


Istriku terlihat tak suka dengan keramahan yang aku tunjukan pada Tari, ia malah memalingkan wajahnya. 


Sedangkan ibu tiba tiba saja batuk, membuat suasana semakin menegangkan. Tari yang duduk di kursi roda mendekat ke arahku. 


"Pak, gimana keadaan bapak?"


Perhatian Tari membuat aku senang. 


"Keadaan suami saya sangat mengkhawatirkan, ya maklum lah baru kena azab. "


Tari menatap ke arah wajahku, mengerutkan dahinya. " Azab, memangnya Pak Reza punya salah apa?"


Ainun memijat kepalanya, ia melirik ke arah Tari, " Aduh, sudahlah jangan sok polos. Dan pura pura nggak tahu, aja. Asal kalian tahu, orang orang yang bantu kalian itu ngomong sama saya. Kalian boncengan sampai peluk pelukan dan tak melihat arah lalu lintas sampai tabrak mobil kontainer yang sedang berhenti. 


Untung saja masih hidup, coba kalau mati. Sudah di siksa di alam lain. "


Aku menelan ludah, mendengar perkataan Ainun. " Kami tidak berpelukan, hanya pegangan. "


Ainun tertawa terbahak bahak, membuat ia mendekat ke arah Tari. " Hey, aku dengar kamu masih gadis. "


Aku mencoba menghentikan pertanyaan Ainun, agar tidak mengintrogasi Tari, apalagi sampai menyakiti hatinya. 


"Ainun."


Istriku melirik sekilas ke arahku, dimana ia menempelkan jari jemarinya pada bibir. Lanjut, meneruskan perkataannya lagi, "  Lalu, kamu berteman dengan suamiku di kantor, ngomong ngomong pertemanan kalian sudah lama ya?"


Tari terlihat ketakutan saat mendengar pertanyaan dari Ainun istriku, " Ee. "


"Ainun, sudahlah ngapain kamu tanya tanya soal hal itu?"


Aku membentak Ainun, di depan Tari, membuat Ainun tersenyum sinis. " Mas, aku ingin tanya sama dia, memangnya nggak boleh ya, cuman tanya doang nggak bakal buat dia mati kok. "

__ADS_1


" Ainun. "


Ibu menghentikan ucapanku, " Biarkan saja Reza, Ainun kan istrimu. "


"Tapi bu. "


Wanita tua itu membulatkan kedua matanya di depanku, membuat aku yang melihatnya kini terdiam. 


Ibu malah mendukung istriku, " Teruskan lagi Ainun. "


"Bu."


"Reza, ini demi kebaikan rumah tangga kamu."


Ainun, menatap kembali Tari yang masih duduk di kursi roda. " Oh ya, Tari. Kamu tahu kan, jika Mas Reza ini sudah punya istri dan anak, mm."


Menghela napas,  Tari menganggukkan kepala. " Iya, Mbak. "


"Lantas ngapain kamu dekati terus suamiku?"


"Hanya sekedar teman kantor dan juga teman dekat, dan itu tak lebih!"


Mendengar jawaban Tari, membuat aku merasa kagum dengannya. 


Ainun malah bertepuk tangan, ia tertawa kembali. " Tak lebih. "


Tiba dimana istriku memperlihatkan benda kecil, yang membuat aku mengerutkan dahi. " kamu lihat ini apa?" Ainun menunjukkan benda itu di hadapan Tari, dimana aku menelan ludah lalu berucap. " Benda itu, seperti perekam suara. "


Ainun menatap ke arahku dengan tatapannya yang tajam, " iya mas, benda kecil ini adalah perekam suara, kamu tahu, benda ini menempel pada bajumu. Dan untungnya benda ini tidak rusak saat kecelakaan menimpamu. "


Sialan, aku tidak menyangka jika Ainun sepintar ini, dimana aku mulai merebut benda itu. " Kembalikan benda itu. "


Ingin merebutnya, tetapi tak bisa. " Kenapa mas, jangan bilang di rekaman suara ini kamu menjelekan aku, atau kamu sedang bercanda bergurau dengan gadis rendahan ini. Iw, nggak banget deh, masih gadis rayu laki orang. Hey, hey, nggak laku ya. "


"JAGA UCAPANMU AINUN, TARI TIDAK SEPERTI YANG KAMU KATAKAN. "


"Ya ampun mas, sebegitunya kamu membela gadis ini, padahal kurang baik apa aku selama ini, sabar menghadapi sifat pelitmu, selalu mengalah dengan keegoisan kamu. Aku terus berusaha menjadi istri yang terbaik, sampai rela bertukar peran denganmu, karena kamu yang minta, belum lagi. Kamu tak pernah ada sedikitpun menghargaiku sebagai istri, apapun yang aku lakukan selalu salah di matamu. "


Mendengar tutur kata Ainun, membuat aku menjawab dengan tegas, " Karena kamu selalu marah marah tak jelas. "


"Coba saja kamu itu peka dengan kemarahanku dan memperbaiki diri kamu itu, lebih mengutamakan anak istri dan lebih loyal pada anak istri daripada teman dan juga sahabatmu, yang jelas jelas tidak ada jasa sama sekali padamu. Padahal berulang kali aku selalu mengingatkan kamu, tapi kamu terus mengabaikanku, sekalinya aku menasehati, kamu malah pindah kelain hati. "


"Cukup, Ainun jangan mengatakan seolah olah kamu ini menderita. "


"Aku mengatakan sesuai pakta dan apa yang aku rasakan selama ini, mas. Kenapa kamu selalu menyalahkan aku dan tak pernah bersikap dewasa dalam menyikapi masalah dalam rumah tangga kita. Apa sekesal itu kamu kepadaku sampai kamu kadang menjelekan aku di depan wanita lain. "


Istriku kini mengusap Air matanya yang berlinang, mengenai pipi dengan tangan kanannya, sedangkan aku yang melihat hal itu seakan enggan dan tak suka.


Yang dimana aku merasa jika tangisan istriku terbilang lebai bagiku.


"Jangan mengada ngada kamu Ainun, aku tidak pernah menjelek jelekan kamu sama sekali, semua itu hanya perasaan kamu saja. "


"Perasaanku, mas. "


Ibu begitu serius memperhatikan Ainun, sedangkan Tari hanya menundukkan kepala. Dimana kedua pipinya memerah. 


Saat itulah, benda kecil yang berada di tangan istriku, mulai ia nyalakan. 


"Kamu dengar ini. "


Dalam rekaman suara itu, perkataanku dengan Tari begitu mesra, apalagi aku menjelek jelekan Ainun. 


"Kamu dengar mas, dan kamu gadis centil, kamu dengar juga. Bagaimana kamu menggoda suamiku. "


"Ainun, sudah cukup. Sekarang aku minta maaf padamu, aku tidak akan menyalahkan kamu lagi. Tolong jangan hina Tari, dia itu tidak salah apa apa. "


Ainun mendekatkan bibirnya pada telinga Tari, dimana ia berbisik. " sudah tidur berapa kali kamu dengan  suamiku, sampai ia terus membela mu disaat kamu sudah terbukti salah."


"Ainun, sudah cukup. "


" Reza kamu jangan bentak Ainun, dia itu istri kamu. Sedangkan wanita ini bukan siapa siapa kamu. "


Tari terlihat bersedih, ia mulai berpamitan padaku, " saya permisi untuk pergi ke ruangan saya. "


Ainun tertawa, " Kalau mau pergi silahkan pergi saja, jangan lupa tutup pintunya. Dan tolong perbaiki diri kamu, jangan sampai kamu jadi bibit pelakor, sayang banget masih mudah sudah punya ilmu kaya begitu. "


"Ainun, sudah cukup. Jangan perlakukan Tari seperti itu. "


"Reza, Ainun itu sudah benar, kamu jangan larang dia, " Timpal ibu memukul bahuku. 


Setelah kepergian Tari, membuat aku kesal dan murka. Menunjuk pada wajah istriku, " Kamu sudah membuat Tari menangis dan sekarang aku ceraikan kamu. "


Deg ….


Semua mata menatap ke arah Reza, dimana  ibu malah jatuh pingsan. Membuat Ainun berteriak memanggil suster dan dokter. 


Sedangkan denganku, bibirku tiba tiba bergetar, dimana tatapan mata Ainun begitu berbeda tidak seperti biasanya. 


Aku berusaha bangkit dari tempat tidurku, menghampiri ibu yang terkulai lemah di atas lantai, tubuhku terasa lemas. Namun aku berusaha paksakan.

__ADS_1


Terjatuh dan rasanya benar benar menyakitkan, mengusap pelan pipi ibu berulang kali, " Bu, bangun. "


Wanita tua yang melahirkanku tetap saja tak merespon perkataanku, " bu, bangun. "


Dokter mulai datang, " ayo bawa pasien ke ruangan pemeriksaan. "


Perawat dengan sigap, membopong ibu, untuk segera di periksa, sedangkan aku masih duduk di atas lantai. Dengan perasaan menyesal.


"Bu, kenapa ibu malah pingsan. Reza kan hanya menceraikan Ainun. "


Suster mulai membantuku untuk berdiri, memindahkan tubuh ini pada ranjang tempat tidur.


Terasa menyakitkan, namun berusaha aku tahan. Sampai dimana aku berhasil di angkat dan diletakan pada ranjang tempat tidur.


Ainun menghampiriku lagi, " Mas, aku nggak nyangka kamu benar benar tega, menceraikan aku di depan ibu. "


"Semua sudah keputusanku. Anak anak akan ikut dengan aku. "


"Tidak bisa mas, anak anak tetap miliku tidak ada yang bisa menjauhkan anak anak dariku. Mereka yang aku urus dan aku besarkan sampai sekarang. "


"Kamu harus ingat, aku juga yang membiayai mereka, jadi kamu jangan seenaknya. "


Ainun terlihat kesal denganku, ia pergi meninggalkan ruangan lagi.


"Ahk."


Entah keputusanku ini benar atau tidak, setelah mengatakan hal itu. Perasaanku sangat lega, aku bisa terbebas dari wanita gila bermana Ainun itu.


Jam sudah menunjukkan pukul lima sore, aku tidak melihat ibu datang ke ruanganku lagi, apa kondisinya sangat menghuatirkan. Sampai Ainun tak datang ke ruangan ini lagi.


Rasa penasaran terus menggebu pada hati ini, aku yang takut dengan kondisi ibu, terpaksa menyuruh suster untuk membantuku duduk di kursi roda.


"Sus."


"Iya pak, kenapa?"


"Bisa bantu saya ke ruangan ibu saya!"


Suster itu menganggukkan kepala, ia mulai membantuku untuk duduk di kursi roda. " Bagaimana pak, sudah nyaman. "


Aku menganggukkan kapala, dimana Suster mulai mendorong kursi roda, menuju ke ruangan ibu.


"Ini ruangannya pak. "


Membuka pintu, ibu terlihat menangis di depan Ainun, membuat aku yang melihanya bertambah kesal.


"Bu."


Mereka menatap ke arahku, " Reza, kamu datang nak. "


Ibu melambaikan tangan, menyuruhku untuk datang menghampirinya, " Reza. "


"Ibu kenapa, malah pingsan. "


Ainun terlihat risih dengan kedatanganku, ia bangkit dari tempat duduk pergi meninggalkanku dengan ibu di dalam ruangan.


"Ainun, kamu mau kemana?"


Ibu menahan Ainun, membuat aku berkata, " sudah bu, biarkan saja. "


Wanita itu melirik ke arah kami berdua dan berjalan lagi menuju pintu luar. " Dia itu istrimu, kenapa kamu memperlakukan Ainun seperti itu?"


"Ahk, sudahlah bu, jangan memikirkan Ainun terus. Semua sudah menjadi keputusan Reza. "


Ibu kini memegang kedua tanganku dan berkata. " Reza, kamu tarik lagi perkataan kamu itu, jangan berpisah dengan Ainun. Kasihan Denis, kayla dan kania. "


Aku berusaha menenangkan ibu, dari rasa takutnya, mengenai anak anak. " Ibu jangan kuatir, anak anak akan menjadi tanggung jawabku. Reza sudah tak tahan hidup dengan Ainun, wanita pemarah itu. "


"Reza, Ainun itu .... "


Aku mulai memotong perkataan ibu, sedikit membentak wanita tua itu. " sudahlah bu, ini sudah jadi keputusan Reza. Ibu jangan terlalu ikut campur. "


"Reza, ibu bukan ikut campur, tapi keputusanmu itu di dasari dengan emosi. Ibu takut. "


Aku kembali menghentikan perkataan ibu, " tidak ada emosi, saat Reza mengatakan hal itu, semua atas kesadaran dan kehendak Reza. "


"Kamu tidak akan menyesal Reza, melepaskan wanita sebaik Ainun, yang sabar mengurus anak anak. Dan ikhlas dengan pemberian nafkah dari kamu. Seberapa pun itu. "


Aku tersenyum mendengar tutur kata ibu, " tidak ada penyesalan sama sekali, jadi ibu tenang saja. Reza tetap pada pendirian Reza. "


Ibu tampak melamun dengan perkataanku, membuat aku, berucap. " Sudahlah bu, jangan melamun kayak begitu, di luar sana masih banyak wanita yang lebih baik dari pada Ainun. "


"Reza, kenapa kamu malah berkata seperti itu?"


"Memang kenyataannya seperti itu!"


Ibu kembali mempelihatkan kesedihannya di depanku, " Reza, ibu masih tak ridho kamu berpisah dengan Ainun. "


Aku yang kesal, kini menjawab, " terserah ibu, Reza sudah yakin dengan keputusan Reza sendiri. Jadi stop jangan nasehati Reza lagi bu. "

__ADS_1


__ADS_2