Bertukar Peran Dengan Istriku

Bertukar Peran Dengan Istriku
Bab 79 Season 2. Menegangkan.


__ADS_3

"Rendy."


Wajah yang terlihat menunduk, dengan tangan yang menggenggam erat jeruji besi, Rendy menatap orang yang memanggil namanya.


"Reza." Senyum sinis di perlihatkan Rendy begitu saja, ia tampak senang dengan kedatangan lelaki yang sudah menjebloskannya ke dalam penjara.


Langkah kaki semakin mendekat, " Kemana Tari. "


Rendy tampak mengerutkan dahi, " Hem, kenapa kamu bertanya padaku, bukannya kamu yang menolong dia, memasukkan dia ke rumah sakit. "


"Sudah jangan bertele tele, cepat katakan, dimana Tari. "


Menganggukkan bahu," mana aku tahu. Kamu tahu sendirikan, aku ada di dalam penjara. "


"Sialan kamu. "


Suara polisi mengagetkan Reza, membuat Reza mengurungkan niat untuk memukul jeruji besi.


"Cih. Hanya itu keberanianmu. "


"Aku tidak mau memperpanjang masalah, aku ingin hidupku dan istriku tenang. "


"Ya, aku tahu itu. Asal kamu tahu, Reza, tidak seharusnya kamu membela Tari, wanita licik itu, dan sok soan menjadi seorang pahlawan untuknya, apalagi sampai menjebloskan aku ke dalam penjara, kamu tahu kan ceritaku belum selesai dengannya, aku berniat ingin menikahi dia. "


Reza tak tahu jika ceritanya akan seperti itu, yang ia tahu kalau Tari membutuhkan pertolongan.


"Tari itu wanita licik, dia tak mungkin sakit, yang ada hanya berpura pura saja. "


"Mana mungkin, dia berpura pura, kalau pun dia sakit dia masih sanggup melarikan diri, demi membalaskan dendamnya yang belum selesai. Ho ya, aku ingat, dia masih punya seorang teman, yang mungkin akan membantunya saat itu. "


Mendengar perkataan Rendy membuat Reza berpikir sejenak, sampai ia mengigat Ainun istrinya yang ada di rumah.


"Ainun."


Reza mulai menyebut nama istrinya, ia kuatir dengan ke adaan Ainun dan juga anak anaknya.


"Aku pergi dulu. "


Di dalam perjalanan kekuatiran terus melanda Reza, lelaki berbadan kekar itu berusaha mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi.


"Semoga Ainun tidak kenapa kenapa. "


*********


Sedangkan di dalam ruangan, Ainun tampak tak tenang, pikirannya gundah apalagi setelah Afdal datang mengatakan cinta.


Ceklek.


"Siapa itu. "


Ainun mendengar suara pintu di buka, membuat ia menyipitkan mata, " siapa?"


Tak ada satu orang pun yang ia lihat, hanya pintu terbuka dengan sengaja. Trek.


Lampu ruangannya kini mati mendadak, membuat Ainun terkejut," Suster. "


Mencoba memanggil sang suster, namun tak ada satu orang pun yang datang, " Suster. "

__ADS_1


"Kenapa tidak di jawab. "


Perasaan Ainun tampak tak tenang, terlebih lagi ia sendirian. Ceklek. Krek.


Suara pintu kembali berbunyi, Ainun berusaha bangkit, namun badannya terlalu lemah. "Suster."


Sampai akhirnya sosok bayangan muncul di atas teras, Ainun berusaha tetap tenang. Berpikir positip.


"Hai Ainun. "


Pintu ruangannya terbuka lebar, menampilkan sosok seorang wanita duduk di kursi roda.


"Kamu, mau apa?"


Senyuman licik diperlihatkan sang wanita, kursi roda yang ia pakai perlahan mendekat ke arah Ainun.


"Bagaimana kabarmu Ainun, aku tak menyangka kamu sekarang ada di rumah sakit. "


Saat perkataan wanita itu, tangan Ainun berusaha meraih tombol berwarna merah, ia ingin memanggil suster.


Namun, aksinya di ketahui wanita yang duduk di kursi roda itu, ia menghempaskan tangan Ainun. " Apa yang kamu ingin lakukan, pecundang."


Ainun berusaha memberontak, dimana tangannya di pegang dengan paksa. " Kenapa, sakit. "


"Apa maksud kamu datang ke sini, cepat lepaskan tanganmu ini. "


Wanita itu kini menghempaskan tangan Ainun, ia merusak tombol berwarna merah itu.


"Sekarang hanya ada kita berdua. "


Senyum sinis diperlihatkan Tari pada Ainun, dimana tangannya kini bersimpun darah, entah apa yang terjadi dengan Tari.


"Aku ingin mengajak kamu ke neraka. "


Karena lampu ruangan yang sudah dinyalakan, Ainun baru menyadari jika Tari membawa benda tajam pada tangannya.


" Pergi dari sini, atau aku akan. "


Tari dengan beraninya menampar pipi Ainun, " diam. Atau aku akan. "


Mempelihatkan benda tajam, membuat Ainun sedikit menghindar. " Jangan bodoh kamu. "


"Kita akan mati sama sama, aku tak sudi jika kamu hidup bahagia sedangkan aku menderita di dunia ini. "


Reza baru saja sampai di rumah sakit, ia berlari menuju ruangan sang istri.


"Mudah mudahan tidak terjadi apa apa dengan Ainun. "


Perasaan tak karuan, kini di rasakan Reza, dimana ia telah sampai di ruangan sang istri dan betapa terkejutnya, pintu ruangan Ainun sudah terbuka lebar.


"Apa terjadi sesuatu dengan istriku. "


Masuk ke dalam ruangan Ainun, dan benar saja Tari dan Ainun sedang bertengkar, dimana benda tajam yang dipegang Tari hampir mendekati tubuh istrinya.


"Ainun."


Tari sadar akan kedatangan Reza, ia mempercepat aksinya, untuk segera membunuh Ainun.

__ADS_1


"Tari hentikan. "


Reza yang mendekat dengan raut wajah paniknya, berusaha menghentikan aksi Tari, sampai dimana.


"Mas Reza. "


Tari ternyata begitu licik, ia malah menusuk Reza, "Tari."


"Kalau Ainun tidak mati, biar kamu saja yang mati. "


"Tari."


Ainun berusaha bertindak, ia mengambil gelas kaca, memukulkan pada kepala Tari, sampai wanita itu terlihat senang.


"Kamu sudah membuat aku bahagia. "


Pisau tajam mulai Tari arahkan lagi pada tubuh Reza, namun dengan kekuatan seadanya, Ainun berusaha turun dari ranjang tempat tidur mendorong tubuh Tari, hingga wanita itu terkulai di atas lantai.


Tak di sengaja, benda tajam itu ternyata menusuk perut Tari sendiri. " Ainun kamu. "


Kedua mata perlahan menutup, Tari kini terkulai tak sadar kan diri di atas lantai.


"Mas Reza. "


Menggerakan tubuh, mendekat ke arah Reza, " kamu tidak kenapa kenapa kan?"


Ainun mulai menganggukkan kepala, ia menangis melihat perut sang suami tertusuk pisau.


Sampai dimana Afdal datang dengan membawa suster.


"Ainun."


Ainun mengabaikan Afdal yang menghuatirkan dirinya, ia meminta bantuan pada suster untuk menyelamatkan nyawa suaminya.


"Tolong selamatkan suami saya. "


Suster membawa Reza untuk segera di tangani, dimana kepanikan terus menggebu hati.


Afdal mendekat ke arah Ainun, kedua tangannya mulai membopong tubuh Ainun yang terlihat tak berdaya itu.


Namun, Ainun menepis, " aku bisa sendiri. "


Berulang kali bangkit, Ainun kembali jatuh. Afdal yang tak tega melihat wanita pujaan hatinya menderita, dengan sigap membopong tubuh Ainun, membawa ke ruangan baru.


"Lepaskan aku. "


"Diam, aku tidak akan melukai kamu. "


Perlahan Afdal membaringkan tubuh Ainun di atas ranjang rumah sakit, ia menatap sekilas pada wajah Ainun yang tak menganggapnya ada sama sekali.


Sampai. Tangan lembut Ainun kini memegang lengan Afdal. Menghentikan langkah dokter yang akan menangani Reza.


"Tolong selamatkan Reza. Kalau kamu bisa menyelamatkannya, aku akan menuruti keinginanmu. "


Kedua mata berkaca kaca yang diperlihatkan Ainun, membuat Afdal tak tega. Tangan kekarnya mulai memegang punggung tangan Ainun. " Aku akan berusaha semaksimal mungkin, kamu jangan takut. "


Ainun perlahan melepaskan tangannya dari lengan Afdal, ia mengusap air mata yang ternyata jatuh terus menerus pada kedua pipinya.

__ADS_1


__ADS_2