Bertukar Peran Dengan Istriku

Bertukar Peran Dengan Istriku
Bab 48


__ADS_3

Reza memutuskan untuk pulang ke rumah, ia tak menemukan keberadaan Tari, mengentuk pintu berulang kali.


Ainun berlari terburu buru membuka pintu," Mas. "


Reza masuk, melepaskan jaketnya, ia duduk di atas sofa, memijat kepala. Ainun mulai mengambil air minum Reza.


"Minum dulu, mas. "


Mengambil air minum untuk Reza, Ainun kini duduk di samping sang suami. " Jadi gimana? Kamu sudah lapor polisi. "


"Sudah."


"Syukurlah."


"Sebenarnya apa yang terjadi dengan, Tari?"


Menghela napas, Reza, menggelengkan kepala. " Entahlah, aku juga bingung."


"Semoga saja dia tidak kenapa kenapa, polisi bisa menemukan Tari kembali. "


Ditengah kekuatiran yang dirasakan Ainun, Tari berada dalam bahaya, ia berlari dengan sekuat tenaga yang ia punya.


" Saya pasti bisa, kabur dari kejaran Rendy. "


Dengan napas terengah engah, Tari seakan tak kuat untuk menempuh perjalanan, ia melihat di sekelilingnya hanya ada pepohonan tinggi yang menjulang.


"Saya ada dimana?"


Perasaan tak menentu, Tari menelan ludah. Berusaha tetap tenang.


Berlari, sampai. Ahkkk ....


Rendy masih mencari keberadaan Tari, ia berharap jika wanita itu dapat ia temukan, " Dimana dia?"


Saat pergi Rendy mengancam terlebih dahulu sopir taksi, ia tak mau jika pulang dengan tangan kosong.


"Semua ini gara gara sopir taksi sialan itu. "


Rendy menghela napas, ia kelelahan. Tak tahu harus mencari kemana lagi.


"Tari, dasar wanita bodoh. "


Di setiap perjalanan Rendy terus menggerutu kesal, ia menginjak beberapa ranting pohon yang hampir saja melukai kakinya.


"Sialan, kenapa bisa ada hutan di pinggir jalan begini. "


Rendy hampir putus asa, ia terlihat kelelahan, duduk di atas pohon besar.


"Kenapa si Tari itu, begitu cepat larinya. "


******


Tari bangkit dari pingsannya, ia baru menyadari bahwa dirinya terpeleset jatuh.


"Ahk, kakiku. "


Tari menatap kedua kakinya yang terlihat membiru, di saat seperti ini. Iya tak mungkin meminta pertolongan, karena ditakutkan jika Rendy mengetahui keberadaannya.


"Tari."


Terdengar suara Rendy memanggil nama Tari, " Rendy, dia memanggil namaku. "


Perasaan Tari tak menentu, " apa yang harus aku lakukan saat ini. "


Menutup mulut, Tari takut jika Rendy mengetahui keberadaanya. Dengan sekuat tenaga tari menyeret tubuhnya untuk bersembunyi di balik semak-semak. Ya berusaha keras sampai akhirnya, tangan kanan tertusuk duri.


Tari ingin menjerit di saat itu, namun bibirnya keluh Karena rasa takut akan keberadaan Rendy.


" Sakit sekali. "


"Tari."


Rendy kembali memanggil nama Tari, Iya memukul-mukul semak-semak dengan tongkat kayu yang ia temui di hutan.

__ADS_1


" Ayolah sayang cepat keluar, aku sudah menunggumu dari tadi. kenapa kamu malah lari dan menyembunyikan diri. "


Tari ingin sekali menangis di saat itu, ya menutup mulutnya sendiri, menahan setiap rasa sakit yang dirasakan pada kaki dan juga kedua tangan.


"Tari, sayang."


Tak ada jawaban sama sekali, Rendy pada akhirnya pergi dari hutan itu. Ia melihat jika hari sudah mulai gelap, tak mungkin meneruskan perjalanan untuk mencari Tari.


Krusuk.


Baru saja melangkahkan kaki untuk pergi dari hutan itu, Rendy mendengar suara seperti orang yang tengah melangkahkan kaki.


"Tari, apa itu kamu sayang. "


Benar saja Rendy dapat menemukan Tari yang sedang bersembunyi di semak-semak, lelaki itu dengan begitu sigapnya menarik kaki Tari.


"Ahkk."


Tari menjerit kesakitan, " akhirnya aku dapat menemukan kamu?"


Tari tak menyangka jika Rendy sepintar itu dalam mencari dirinya, " Rendy. "


Menarik tangan Tari, " ayo kita pulang. "


"Saya tidak mau pulang bersama kamu. "


Tari mempertegas nada bicaranya. Iya berusaha bangkit berdiri, untuk tidak ikut bersama dengan Rendy.


Menarik tangan Tari, hingga tubuh wanita itu berada dalam pelukan Rendy, " mau ke mana lagi kamu sayang. "


Tubuh lemah Tari membuat ia tak berdaya, ingin segera bebas namun tenaga sudah habis.


"Pastinya kamu kelelahan."


Dengan segaja Tari, memukul perut Rendy.


Brukk.


Rendy terlihat meringis kesakitan, namun tenaganya tak habis hanya karena pukulan dari tangan Tari.


Berusaha memberontak, untuk cepat lepas dari genggaman tangan Rendy. " Lepaskan. "


Rendy yang kesal dengan cara pemberontakan Tari, kini memukul bahu wanita itu hingga pingsan." akhirnya kamu bisa aku dapatkan lagi, Tari. "


Rendy mulai menggendong tubuh Tari, membawa ia keluar dari hutan belantara yang menyakiti tubuh begitupun kakinya.


Rendy melihat jika sopir taksi yang sudah menghianati perkataannya masih berdiri menunggu, Rendy yang masih menggendong tubuh Tari kini melemparkan sebuah kunci yang sengaja ia bawa pada saku celananya.


" cepat antarkan aku ke alamat yang sudah aku sebutkan tadi. "


sopir yang terlihat babak belur itu hanya menganggukkan kepala menuruti perintah yang diucapkan oleh Rendy.


Perlahan Rendy memasukkan tubuh Tari ke dalam mobil taksi, Iya menarik kerah baju sang sopir dengan berkata. " Jika kamu berani melepaskan wanita ini lagi, aku tak segan segan akan membunuh kamu hari ini. "


Deg ....


Sang sopir menganggukan kepala, terlihat rasa takutnya akan tatapan dari wajah Rendy.


"Cepat."


Sopir itu terburu-buru masuk ke dalam mobil untuk segera membawa Rendy dan juga Tari ke tempat tujuan.


Entah dibawa kemana Tari saat itu.


Saat di perjalanan, beberapa polisi menghentikan mobil, Rendy yang membawa Tari saat itu terlihat tak tenang.


"Sialan, kenapa bisa ada polisi. "


Sopir taksi menatap ke arah kaca mobil, ia melihat kegelisahan di rasakan Rendy.


Mobil taksi kini berhenti, di depan polisi, membuka kaca mobil. Dengan sigap Rendy, berpura pura menyelimuti Tari dengan jaketnya.


" Selamat malam. "

__ADS_1


Sang sopir terlihat mengobrol dengan polisi, sedangkan Rendy berpura pura tidur, ia mendengar percakapan polisi itu dengan sopir taksinya.


Sopir itu tak mengatakan apapun tentang Rendy dan juga Tari, ia mengaku jika yang dibelakangnya hanya penumpang saja.


Mobil kembali dinyalakan, Rendy terlihat tenang, ia menatap sang sopir lewat kaca.


"Kerja yang bagus, saya suka dengan cara bicara kamu dengan polisi. "


Sopir hanya menganggukkan kepala, dengan memperlihatkan rasa takutnya, dimana Rendy memperlihatkan sebuah pisau.


"Padahal tadi aku sudah bersiap siap membunuh kamu, jika kamu membongkar tentang kejahatanku saat ini. "


Sang sopir menelan ludah, ia berusaha fokus dengan rasa takutnya saat membawa Rendy dan Tari.


Sampai di depan rumah, Rendy dengan begitu bahagianya, menggendong tubuh Tari, melemparkan beberapa uang lebaran berwarna merah pada sang sopir. " Ini bayaran kamu, kerja yang bagus, kamu sudah mengantarkan aku sampai ke rumah dengan selamat. "


Uang yang diberikan Rendy yang diberikan pada sopir itu cukup lumayan besar nominalnya.


" Cepat pergi, dan jangan lupa. Jaga mulut kamu untuk tidak mengatakan kejahatan yang aku lakukan saat ini. Karena jika itu terjadi, kamu tahu sendirikan, aku bisa membuat kamu mati. "


"Baik."


"Bagus. Cepat pergi. "


Tari masih ada pada gendongan tangan Rendy, terlihat jika, Rendy tak sabar menikmati tubuh yang sudah lama ia tak sentuh.


Menelan ludah beberapa kali. Rendy masuk ke dalam rumah.


Rumah yang sudah lama ia tinggalkan.


Membuka pintu, Rendy kini di sambut oleh sang kakak.


"Rendy, kamu baru pulang, siapa wanita ini?"


Rendy tak menjawab perkataan sang kakak, ia berjalan masuk ke dalam rumah. Membawa Tari untuk menidurkannya di dalam kamar.


"Rendy."


Tasya, sang kakak, terlihat kesal dengan adiknya yang tak pernah menjawab pertanyaanya.


" Kamu dengar tidak kakak tadi tanya sama kamu?"


"Untuk apa kakak ingin tahu urusan Rendy, sebaiknya kakak cepat tidur. "


Tasya, penasaran dengan wanita yang ditutupi jaket oleh adiknya, ia mendekat ikut masuk ke dalam kamar.


"Kakak ngapain, ngikutin Rendy?"


"Kakak ingin tahu siapa wanita yang kamu bawa!"


Rendy berdecak kesal dengan rasa penasaran kakaknya yang ingin tahu, siapa wanita yang Rendy bawa ke rumah.


"Cepat buka jaket kamu, kakak penasaran sekali ingin lihat siapa dia?"


Rendy menghela napas, ia mulai membuka jaket yang menutupi wajah Tari.


Perlahan, sampai sang kakak membulatkan mata dan mulutnya.


"Tari, itukan Tari. Kenapa bisa kamu bawa dia ke rumah ini?"


Pertanyaan sang kakak, membuat Rendy mengerutkan dahinya, " kenapa kakak ketakutan sekali, saat Rendy membawa Tari?"


"Ahk, bukan begitu. Kakak hanya heran saja, kenapa bisa kamu membawa Tari ke sini!"


"Suka suka aku lah kak, dia kan kekasih Rendy, kakak tahu sendirikan, masih banyak hal yang belum dicapai Rendy bersama Tari. "


"Tapi dia .... "


Rendy mulai berdiri, ia menghampiri sang kakak menarik tangan Tasya, mengusirnya saat itu juga.


"Sudah ya kak, Rendy ingin menikmati malam ini bersama Tari. "


Tasya masih berdiri, di depan pintu kamar adiknya, ia melipatkan kedua tangan, memikirkan nasib Tari.

__ADS_1


"Kenapa dia masih berurusan dengan Rendy sih. " Bergumam dalam hati.


__ADS_2