
Sedangkan di dalam rumah, Reza mulai menelepon Tari kembali. Berulang kali, sampai Ainun terlihat kuatir." bagaimana?"
Reza menggelengkan kepala, " tak ada jawaban!"
Semua tampak begitu kebingungan, antara menghampiri atau diam saja di rumah. karena pada sambungan telepon, Tari sempat meminta tolong kepada Reza.
Dimana Ainun takut jika permintaan tolong itu hanyalah omong kosong belakang, yang pada akhirnya sebuah jebakan.
Ainun menatap ke arah anak-anaknya, ya tak mungkin meninggalkan ketiga anak-anaknya itu.
"Jadi gimana? Apa kita cari saja Tari sekarang?"
Ainun menolak perkataan Reza, Iya lebih memilih menjaga anak-anak di dalam rumah. Sedangkan Reza tampak kebingungan sendiri, " kalau kamu bingung, lebih baik kamu telepon saja polisi. Jelaskan kronologinya kenapa. "
"Tapi .... "
Ainun tak suka dengan sifat Reza yang tak tegas, lebih banyak mengulur waktu daripada mengerjakan apa yang diperintah oleh Ainun.
"Tapi kenapa, mas?"
Reza mulai mengatakan apa yang sebenarnya ia takutkan," Sebenarnya aku takut jika, Tari itu hanya berpura-pura saja meminta tolong."
Menghela napas, pikiran Ainun begitu sama dengan pikiran suaminya, " aku juga berpikir seperti itu mas. "
"Jadi gimana?"
" Sebaiknya kamu telusuri dulu, keberadaan Tari, jika terjadi apa-apa kamu langsung hubungi polisi."
"Benar juga. "
Reza mulai bersiap-siap mengganti pakaiannya untuk mencari keberadaan Tari, " Ainun, kamu tidak ikut. "
"Tidak, mas. Kasihan anak anak jika aku tinggal. "
"Kalau begitu aku pergi dulu. "
Ainun menganggukkan kepala. Setelah Reza berpamitan kepadanya, langkah kaki Reja sedikit berat, ia terlihat malas untuk menghampiri Tari.
Dengan memaksakan diri, Reza mencari dengan Google Map yang menunjukkan keberadaan ponsel Tari.
"Semoga saja Tari tidak main main. "
Reza terlihat fokus, menatap layar ponselnya, sampai dimana titik merah itu menunjukkan keberadaan Tari.
"Tari di sini, tapi dia ada dimana?"
Reza tak melihat keberadaan Tari sama sekali, ia mencoba menghubungi wanita yang sudah ia ceraikan.
Mencoba menghubungi Tari, sampai dimana. Suara nada dering terdengar oleh kedua telinga Reza.
" Inikan suara ponsel Tari, tapi dia ada dimana?"
Reza, berusaha mencari keberadaan Tari, dengan harapan jika Tari tidak kenapa kenapa.
Mendekat ke arah suara itu, ternyata ponsel Tari ada di semak semak.
Aku mencoba menggambil ponsel yang masih mengeluarkan suara nada dering itu, melihatnya dengan detail.
__ADS_1
"Ini beneran ponsel milik Tari, tapi dia ada dimana ya?"
Reza berusaha mencari keberadaan Tari, menanyakan pada orang-orang yang melintas tak jauh darinya.
Namun tak ada satupun yang tahu keberadaan Tari, " kemana Tari?"
Ponsel Reza kini berbunyi, dia langsung mengambil ponsel dari saku celananya. " Ainun. "
Reza mengangkat panggilan telepon dari sang istri," Halo. "
"Mas, bagaimana keadaan Tari, apa dia tidak kenapa-napa?"
"Tari ternyata tidak menjebak kita!"
Ainun sempat bingung dengan perkataan suaminya," Apa maksud kamu, Mas. "
" Aku baru saja menemukan ponsel Tari, di semak semak belukar."
"Kok bisa."
" Justru itu aku juga bingung, Kenapa bisa ponsel Tari berada di semak-semak, apa ada seseorang yang mengejarnya, sampai ia jatuh, mengakibatkan poselnya terlempar. Soalnya saat Tari menelepon, aku mendengar suaranya terengah engah, ia seperti orang yang berlari. "
"Ya sudah, sekarang kamu hubungi dulu polisi, sebelum bertindak sendiri. "
"Ahk, baiklah. Sekarang aku akan pergi ke kantor polisi, kamu jaga baik baik anak anak. "
"Iya, mas. Kamu hati hati ya. "
Sabungan telepon pun dimatikan sebelah pihak, Ainun kini mengunci pintu rumah, ia takut jika ada orang jahat yang datang ke rumah.
" Aku harus menghubungi polisi. "
Tari melihat keberadaan Reza, iya berusaha memberontak untuk lepas dari genggaman tangan Rendy.
Menggigit telapak tangan Rendy, " ahk. "
Tari berhasil lari, namun Rendy tak tinggal diam, ia mengejar Tari untuk tidak lepas dari genggamannya.
Berusaha keras, " Tari jangan lari kamu. "
Tari berteriak memanggil Reza yang mulai menaiki motor, ia melambai-lambaikan tangan, di mana orang-orang mengira bahwa dirinya hanya bermain-main saja.
Rendy, berhasil menangkap Tari." mau pergi ke mana kamu?"
" Lepaskan saya Rendy, kenapa kamu menangkap saya seperti ini. "
Rendy tertawa, ia berbisik kembali pada telinga Tari, " Sudah aku bilang masa lalu kita belum selesai, jadi aku ingin menyelesaikannya sekarang juga. "
"Jangan gila kamu, saya tidak mau. "
"Kenapa tidak mau?"
"Saya bilang saya tidak mau, karena kamu sudah menjadi nara pidana!"
Rendy malah menarik tangan Tari, mencekram kedua pipinya lalu berkata, " hanya karena aku bersetatus nara pidana, kamu jadi tidak mau meneruskan impian kita yang tertunda, hemm. Berani kamu berkata seperti ini. "
Tari tak bisa meminta bantuan pada siapa pun, tubuhnya lemah, Rendy terus menekan wajahnya.
__ADS_1
"Ahk, sakit. "
Rendy tak segan segan menghentikan taksi, ia membawa Tari pergi.
"Saya tidak mau. "
"Cepat masuk. "
Tari ingin berteriak, memanggil Reza, tapi mulutnya tertutup oleh Rendy, " jangan banyak bicara kamu. "
"Rendy, mm. "
"Jalan, pak. "
Mobil taksi mulai membawanya pergi, " kamu lihat, kita akan pergi ke tempat impian kita. "
Tari berusaha mengigit tangan Rendy, " ahk, tanganku. "
Rendy yang terlihat kesakitan, membuat satu kesempatan untuk Tari kabur dari genggaman Rendy.
"Berhenti pak. "
Sang supir mengabaikan perkataan Tari, ia lebih fokus pada Rendy, " maaf, mbak saya tidak bisa. "
"Sialan, bagaimana ini?"
"Kamu lihat sendirikan, supir taksi pun berpihak padaku, bagaimana bisa kamu tidak berpihak padaku!"
Tari benar benar dalam kesulitan, ia tak bisa berbuat apa apa, perasaanya tak menentu. Nasibnya sudah ada di tangan Rendy.
"Sudahlah, Tari, sebaiknya kamu duduk manis disini. Biar aku tidak menyakiti kamu. "
Tari menundukkan wajah, ia kini berada dalam tekanan Rendy. Mencari ponsel, Tari lupa, saat ia berlari, ponsel terlempar.
"Bodoh, kamu Tari, ponsel sendiri pun tidak kamu temukan." Menghela napas, melihat pemandangan diluar, Tari terlihat tak tentu arah, kaburpun sekarang ia tak bisa. "Apa yang harus aku lakukan saat ini?" hanya bisa bergumam dalam hati.
Dimana kode dari sang supir mengagetkannya.
Pintu mobil terbuka, Tari melompat, sedangkan Rendy, " Tari, kenapa bisa."
Rendy menatap ke arah sopir Taksi, " berhenti. "
Sopir itu malah mengabaikan perkataan Rendy, " aku bilang berhenti. "
Karena mempelihatkan benda tajam, pada akhirnya, sang sopir menghentikan mobil.
Rendy keluar, untuk segera mencari keberadaan Tari.
Rendy menarik tangan Sopir untuk keluar dari dalam mobil, membawa Sopir itu untuk mencari keberadaan Tari.
" kamu harus tanggung jawab atas perbuatanmu ini, gara-gara kamu calon istriku pergi. "
Rendy menarik kerah baju sopir taksi itu," ampun pak, saya kasihan terhadap wanita tadi. "
Kesal dengan jawaban sang sopir, Rendy kini memukul pipi kiri sang sopir, berulang kali.
"Ini pelajaran untuk orang yang sok jadi pahlawan seperti kamu. "
__ADS_1