Bertukar Peran Dengan Istriku

Bertukar Peran Dengan Istriku
Bab 64


__ADS_3

Panggilan telepon dimatikan begitu saja oleh Reza, dimana Tari yang masih berada di dalam ruangan menggerutu kesal. Ia hampir saja membanting ponselnya.


"Ahk, tahan tahan. Kamu tak boleh kesal Tari, sayang sekali ponsel kamu, kalau rusak gimana. "


Tari kembali menyalahkan tombol merah yang tak jauh dari hadapannya, untuk memanggil para suster membawakan makanan untuknya.


Karena cacing di dalam perut terus meronta ronta, membuat ia tak tahan menahan rasa lapar.


" Kemana mereka ini, saya diabaikan. Tanpa mereka membawa makanan ke ruangan ini."


Memencet tombol merah itu, sampai rasa kesal dalam diri tak terkendali. Tombol berwarna merah itu pada akhirnya rusak parah tak bisa digunakan lagi.


Dari tadi tidak ada respon sama sekali, membuat tubuh Tari terasa lemas karena belum terisi nasi sedikitpun.


"Kemana para suster itu. Mereka gila ya, membiarkan saya kelaparan. Lemas, lapar, ingin minum, lama lama kalau begini terus saya bisa mati kelaparan deh. "


Beberapa menit kemudian, ketukan pintu terdengar begitu keras dari ruangan Tari, " siapa lagi, ngetuk pintu kayak mau nagih hutang. Gila apa ya tuh orang. "


Tari mulai menjawab dengan berkata, " masuk. "


Pintu terbuka, tak ada satu orang pun yang masuk ke ruangan Tari, " loh kok, mana orangnya. "


Tari merasa penasaran sekali dengan orang yang mengetuk pintu ruangannya, " halo, siapa itu. "


Memanggil, Tari tak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa terduduk di atas ranjang tempat tidur, tanpa bisa turun.


"Sialan, siapa sih. Bikin orang parno saja."


Karena rasa penasaran, Tari mulai melemparkan barang, pada pintu di ruangannya.


Barang itu tidak bergerak sekali, membuat rasa aneh datang dari pikiran Tari.


"Halo siapa, jangan bercanda ya, kalau bercanda saya laporkan kamu ke polisi. " Ancam tari, dengan bersiap-siap memegang ponselnya, untuk segera menghubungi polisi, " Heh, siapa kamu. "


Berteriak kembali, akhirnya Tari menghubungi Reza bukannya polisi.


" Kalau polisi aku hubungi dan di rumah sakit ini tak ada apa apa, bisa bisa aku dianggap gila oleh mereka. Aku hubungi saja Reza. " Gumam hati Tari, berpikir lagi.


Namun lelaki yang sudah menceraikannya itu tidak mengangkat panggilan telepon dari Tari sama sekali.


"Reza, kenapa kamu tidak mengangkat panggilan teleponku, ayo dong respon. Aku ketakutan sekarang. "


Tari menggerutu kesal dalam hatinya, perasaannya kini tak menentu. Ia bigung sendiri harus melakukan apa. Karena memanggil suster beberapa kali tak ada yang datang apalagi merespon.


"Mereka itu kerja ya gimana sih, nggak becus apa ya, tombol panggilan aku pecet berulang kali sampai rusak tak datang juga. "


Brak ....


Suara benda terjatuh membuat Tari terkejut, lampu di ruangannya tiba-tiba berkedip. " Kenapa ini. "


Tari mencoba menutup matanya, berharap jika hal itu hanyalah halusinasi.


" kenapa ini. "


Tari kembali membuka kedua matanya, melihat lampu tidak berkedip lagi, yang ada lampu di ruangannya mati total.


"Sialan kok bisa mati total begini. "


Tari berusaha tertidur untuk melupakan hal-hal yang menakutkan bagi dirinya, sampai di mana suara benda jatuh itu kembali terdengar.


Brak ....


Tari mencoba menutup kedua telinganya dengan telapak tangan," jangan ganggu. "


Dari ketakutan yang dirasakan Tari di dalam ruangan sendirian, sang suster malah tersenyum senang.


Ternyata Tari dikerjain oleh para suster di rumah sakit, terlihat sekali mereka begitu puas dengan apa yang mereka lakukan terhadap Tari.


Ketiga suster yang memang diharuskan menjaga Tari, malah mengerjai sang pasien, "Sepertinya dia ketakutan. "


"Hah, benar. Kasihan banget ya, tapi harus gimana lagi, siapa suruh sombong dan memperlakukan kita tidak baik. "


"Ya, ini kan pelajaran untuk orang seperti dia, agar tidak sombong dan selalu sadar akan kesalah. Yang selalu di buat buat olehnya."


"Ya sudah, kita pura pura datang menyelematkan dia dari ketakutannya, aku ingin tahu, bagaimana reaksi dia. "

__ADS_1


"Ayo, ayo. Aku juga nggak sabar ingin melihat reaksi dia, benar benar penasaran, dia ngompol nggak ya. "


Ketiga Suster itu tertawa terbahak-bahak, setelah mendengar salah satu temannya bertanya apakah Tari mengompol atau tidak saat ketakutan.


"Ayo."


Lampu kembali dinyalakan, Tari yang berusaha tidur akhirnya terbangun kembali, dia menatap ke arah pintu ruangannya.


Tak ada apa apa, pintu itu terlihat tertutup seperti biasanya," apakah saya hanya berhalusinasi saja. "


Menghela napas, rasa haus mulai dirasakan oleh Tari. Wanita itu mencoba melihat layar ponselnya. Tak ada respon atau pesan, dari Reza. Apalagi rasa kasihan terhadap Tari, ketika ia sendirian di ruangan yang tiba-tiba saja gelap dan menyala, seperti lampu yang sedang dipermainkan.


"Reza benar banar sudah tak mempedulikan saya lagi. "


Tari tiba tiba saja menangis, menitihkan air mata, yang terus keluar dari kedua matanya.


Terlihat jika Tari tampak kecewa dan kesal, ia tak sanggup lagi berdiam diri di ruangan tanpa seorang pun yang menjaganya.


Pintu kembali terbuka, Tari terlihat was was, takut jika mahluk menyeramkan mengganggu dirinya.


Ia menutup tubuh dengan selimut.


Dimana tiga suster datang membawakan makanan dan juga buah-buahan yang akan dikonsumsi oleh Tari.


Salah satu suster dari ketiganya mulai membuka selimut yang sengaja Tari tutupi pada wajahnya.


"Ampun saya mohon ampun, jangan sakiti saya. "


Begitu ketakutannya Tari, sampai memohon mohon untuk tidak di sakiti.


Ketiga suster itu saling menatap satu sama lain, terlihat mereka begitu senang dengan respon Tari yang ketakutan.


Dengan mengatakan perkataan lembut, suster kini berucap. " Jangan takut, kami para suster tidak akan menyakiti kalian. "


Tari yang mendengar nada suara lembut suster, membuat Tari kini membuka kedua matanya, ia perlahan melihat ketiga suster cantik itu sudah berdiri di hadapannya.


"Kalian."


Bukan rasa senang yang didapatkan Tari ketika melihat ketiga Suster itu, tapi amarah yang menggebu-gebu membuat Tari tak bisa berpikir jernih.


Dan ketiga Suster itu dibentak habis-habisan oleh Tari, mereka mendengar bentakan Tari hanya bersikap santai.


"Kalian ini dengar tidak saya bicara?"


Pertanyaan Tari membuat suster hanya menganggukkan kepala.


"Kalian kemana saja saat saya membutuhkan kalian, asal kalian tahu dari tadi pagi saya terus memanggil kalian ini dari tombol berwarna merah."


Ketiga Suster itu menahan rasa ingin tertawa mereka, mencoba tetap mendengarkan amarah Tari yang terus menggebu-gebu. " Kenapa kalian malah diam saja, harusnya kalian itu datang ke sini membawakan saya makanan."


Ketiganya, berusaha tidak terpacing emosi. " Bukannya tadi pagi. Anda menolak makanan yang saya bawa?"


Salah satu suster yang menjawab perkataan Tari, di mana wanita itu mengingat apa yang terjadi pada dirinya sejak pagi bersama dengan suster.


"Owh ya, Sebenarnya Saya ini bukan menolak makanan yang dibawa ke kamu, saya ini hanya ingin mengganti makanan itu dengan makanan yang layak dan enak. "


ketiga Suster itu mengerti dengan ucapan yang terlontar dari mulut Tari.


"Kami tidak bisa menuruti keingian anda, karena menu makanan sudah di atur para dokter dan pihak rumah sakit. Kami hanya sebatas suster yang mengurus anda, Ibu Tari."


Mempertegas, sampai Tari hanya diam.


Sampai suster itu berucap kembali, " kami sudah mempertegas peraturan di rumah sakit ini, porsi makanan dan juga lauk pauk makanan sudah disediakan untuk setiap pasien yang mengalami penyakit yang diderita mereka semua, sebagai suster tidak ikut campur soal makanan karena di rumah sakit sudah tertera peraturan. Dipasti kan harus memakan makanan yang dianjurkan oleh dokter di rumah sakit."


"Ahk, alasan saja kalian."


Ketiganya tidak mempedulikan Tari lagi, mereka hanya menaruh makanan di atas meja.


"Kalau memang ibu, terkesan berat dengan peraturan rumah sakit ini, silahkan ibu bisa cari lagi rumah sakit, menurut persi ibu yang dirasa nyaman. "


"Lancang kamu, berbicara seperti itu pada saya. "


Tangan Tari mulai melayang pada pipi kiri suster, di mana sang sahabat yang berada di samping, kini membantu dengan mencegah tangan Tari yang hampir mendarat pada pipi sahabatnya.


"Walau kami seorang suster ada baiknya Ibu Tari ini menghargai pekerjaan kami. "

__ADS_1


Tari malah tertawa terbahak bahak, ia membuang ludah pada ketiga suster dihadapannya.


"Menghargai, kalian, mana mungkin. Kalian itu hanya pembantu dokter, jadi harus melayani pasien. Tidak peduli pasien itu mengharagi kalian atau tidak. "


Sangat disayangkan sekali, perkataan Tari benar-benar menyakiti hati ketiga Suster itu.


Sampai rasa haus dirasakan oleh Tari, dimana dirinya yang sebagai pasien, nyuruh ketiga Suster itu untuk mengambilkan air minum.


" Heh, suster. Ambilkan saya air minum?"


Perintah Tari tak di dengar sama sekali oleh suster, mereka bertiga malah berdiri tegap memandangi wajah Tari.


"Sialan, kenapa kalian malah memandangi saya seperti itu. "


" Kami tidak akan membawakan air minum untuk pasien yang tidak menghargai kami sebagai suster. "


"Apa, kalian ini. "


ketiga Suster itu mulai berpamitan kepada Tari, " Kalian mau kemana?"


Perkataan Tari tak didengar sama sekali oleh ketiga Suster itu, " Kalian, sialan. "


Rasa haus tak dapat lagi ditahan oleh Tari, pada akhirnya ia menangis mengakui kesalahannya. " Kalian bertiga tunggu. "


Langkah ketiga Suster itu kini berhenti, mereka membalikkan badan ke arah Tari.


"Ada apa, kalau ibu Tari hanya ingin mengatai kami dan tidak menghargai kami, sebaiknya Kami pergi saja. Ibu Tari urus saja diri Ibu tari sendiri."


Perkataan dari download ketiga Suster itu membuat Tari benar-benar kalah.


"Baiklah, saya minta maaf. Tolong ambilkan air minum untuk saya."


Permintaan maaf itu langsung di terima oleh para suster. " kalau begitu kami maafkan ibu Tari. "


"Jadi ambilkan saya air minum. "


"Ee, tidak segampang itu Ibu Tari menyuruh kami."


Tenggorokan Tari benar-benar sudah kering, " ya ampun, apa lagi, kenapa kalian begitu ribet. "


Ketiga suster itu saling menatap satu sama lain, mereka terlihat merencanakan sesuatu untuk Tari.


"Cepat katakan, kalian itu maunya apa sih?"


" Kami hanya ingin, Ibu Tari mencium punggung tangan kami. "


"Apa, kalian tidak sopan, keterlaluan sekali. "


"Ya sudah kalau tidak mau, kami pergi bertugas lagi. "


"Mana tangan kalian. "


Tari mulai mengambil tangan para suster itu, mencium dengan meminta maaf yang sebesar besarnya kepada ketiga suster dihadapannya.


" Sudah, begini. "


Ketiga suster mulai mengambilkan air minum, yang lainnya mengambilkan nasi untuk menyuapi Tari.


"Kalian ini, awas saja. " Mengerutu kesal.


Selesai menyuapi Tari dengan makanan. Ketiga suster itu mulai pergi. " Kami pergi dulu, semoga sehat."


"Dasar, ketiga wanita tidak tahu diri. Gelar suster saja begitu sombong dan berani. "


Kata kata kesal dari mulut Tari terdengar pada telinga ketiga suster itu. "


Mm, tadi anda mengatai kami apa. "


"Sialan, mereka dengar perkataanku. "


Gumam hati Tari.


"Ahk, tidak saya tidak berbicara apapun, mungkin hanya pendengar kalian yang kurang baik. "


"Benar kah. "

__ADS_1


"Iya, masa ia saya membohongi kalian, apa arti permintaan maaf saya, kalau saya berbohong. "


__ADS_2